AI Makin Banyak Digunakan, Tapi Kepercayaan Publik Justru Menurun
Survei Pew Research menunjukkan 52% warga Amerika Serikat kini merasa khawatir daripada antusias terhadap penggunaan AI.
Ilustrasi kecerdasan buatan. dok. freepik.com
Kecerdasan buatan (AI) semakin sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, mulai dari layanan pencarian di internet hingga perangkat elektronik.
Namun, semakin luas penggunaannya ternyata belum membuat masyarakat semakin percaya. Sebaliknya, kekhawatiran terhadap AI justru terus meningkat.
Mengutip TechCrunch, survei Pew Research menunjukkan 52% warga Amerika Serikat kini merasa khawatir daripada antusias terhadap penggunaan AI.
Angka tersebut menunjukkan peningkatan 37% pada 2021. Survei Economist/YouGov juga menemukan 70% responden menilai perkembangan AI terlalu cepat.
- Hypernet Luncurkan TokenKu.ai, Satu Pintu Akses Lebih dari 120 Model AI
- AI Ready ASEAN Targetkan 1,7 Juta Siswa dan Pendidik Kuasai Keterampilan AI
- Mantan Atlet Nasional Glenn Victor Pakai ChatGPT untuk Jaga Rutinitas Olahraga, Begini Caranya
- Alita-Fujitsu Bawa AI Analisis Gerak ke Indonesia, Cukup Pakai Kamera Tanpa Sensor
Akar masalahnya bukan sekadar kurangnya edukasi publik soal manfaat AI. Masyarakat dinilai sudah cukup memahami teknologi ini, namun menganggap risikonya belum sebanding dengan manfaat yang benar-benar mereka rasakan.
AI semakin banyak hadir dalam produk sehari-hari, seperti email, layanan pencarian di internet, hingga televisi, meski kehadirannya itu tidak selalu diminta dan tidak selalu dianggap memberikan manfaat yang dibutuhkan pengguna.
Masalah lain muncul dari kekhawatiran terhadap pekerjaan, kecurangan akademik, serta penggunaan karya manusia untuk melatih model AI tanpa izin.
Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat mempertanyakan apakah manfaat AI sebanding dengan risikonya.
Sejumlah pemimpin industri AI pun mengakui adanya persoalan kepercayaan.
CEO Anthropic Dario Amodei menyebut kondisi tersebut sebagai “crisis of trust” dan mengakui industri AI belum sepenuhnya memenuhi janji untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Hal serupa juga menjadi tantangan bagi perusahaan teknologi lain yang terus memasukkan AI ke dalam produk mereka.
Kehadiran fitur AI saja tidak cukup jika pengguna tidak melihat alasan untuk menggunakannya atau justru merasa teknologi tersebut menambah masalah baru.
Pada akhirnya, tantangan industri AI bukan hanya membuat teknologi semakin canggih dan memasukkannya ke lebih banyak produk.
Perusahaan juga perlu menunjukkan manfaat yang nyata serta membangun kepercayaan pengguna agar perkembangan AI tidak berhenti sebagai teknologi yang sekadar hadir di mana-mana, tetapi benar-benar digunakan karena dibutuhkan.









