×
Kanal
    • partner tek.id realme
    • partner tek.id samsung
    • partner tek.id acer
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd

AI Makin Dipercaya Developer Indonesia, tapi Belum Banyak Menghemat Waktu

Oleh: Tek ID - Jumat, 25 September 2026 18:05

82,7% developer Indonesia makin percaya atau menggunakan AI, tetapi hanya 46,9% menghemat tujuh jam kerja per minggu, terendah di tujuh pasar.

AI Makin Dipercaya Developer Indonesia Ilustrasi kecerdasan buatan. dok. freepik

Pengembang perangkat lunak atau developer di Indonesia semakin percaya diri menggunakan kecerdasan buatan (AI) dalam pekerjaannya. 

Namun, besarnya penggunaan teknologi tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan penghematan waktu kerja yang dirasakan.

Agoda AI Developer Report 2026 mencatat 82,7% developer Indonesia melaporkan peningkatan kepercayaan diri atau penggunaan AI. 

Namun, hanya 46,9% yang mengaku dapat menghemat sedikitnya tujuh jam kerja per minggu, menjadi angka terendah di antara tujuh pasar yang disurvei.

Studi yang diprakarsai Agoda bersama Macramé Consulting tersebut menghimpun masukan dari komunitas developer di Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Singapura, Vietnam, dan India.

Temuan lain menunjukkan penggunaan AI mulai bergerak dari sekadar membantu tugas individual menuju AI agent yang mampu menangani rangkaian pekerjaan secara lebih mandiri. 

Di Indonesia, sebanyak 70% developer memperkirakan AI agent akan menangani sebagian besar pekerjaan pengembangan perangkat lunak dalam tiga tahun mendatang.

Meski demikian, peningkatan otonomi AI belum menghilangkan peran manusia. 

Sebanyak 79% responden masih mewajibkan persetujuan manusia sebelum hasil pekerjaan AI diterapkan ke lingkungan produksi.

Secara keseluruhan di tujuh pasar yang disurvei, 55% developer mengaku penggunaan AI dapat menghemat sedikitnya tujuh jam kerja setiap minggu. Angka tersebut meningkat dibandingkan 18% pada 2025.

Kualitas kode yang dihasilkan AI juga dinilai semakin baik. Sebanyak 62% responden mengatakan kode buatan AI sering atau hampir selalu dapat digunakan tanpa membutuhkan perubahan besar.

Penggunaannya pun meluas dari pembuatan kode ke sejumlah aktivitas lain, mulai dari code review, perancangan arsitektur, debugging, pembelajaran, hingga dokumentasi.

Namun, meningkatnya kemampuan AI tidak serta-merta membuat developer menyerahkan seluruh pekerjaan kepada teknologi tersebut. 

Sebanyak 86% responden mengatakan mereka selalu atau hampir selalu meninjau dan memvalidasi hasil yang dibuat AI.

Kebutuhan terhadap pengawasan manusia semakin besar ketika pekerjaan mendekati tahap produksi. 

AI agent dinilai lebih memungkinkan mendapat otonomi untuk pekerjaan berisiko rendah dan dapat dibatalkan, seperti dokumentasi, dibandingkan tindakan yang berpengaruh langsung terhadap sistem produksi.

Selain persoalan kepercayaan, biaya mulai menjadi pertimbangan dalam memperluas penggunaan AI.

Khusus di Indonesia, 27,7% developer menyebut biaya sebagai hambatan utama penggunaan AI agent. 

Pada hasil keseluruhan tujuh pasar, angkanya berada di sekitar 28%, diikuti kompleksitas integrasi sebesar 24% dan kurangnya tata kelola sebesar 19%.

Biaya penggunaan AI tidak hanya berasal dari akses terhadap model. Organisasi juga harus memperhitungkan pekerjaan untuk merancang, mengintegrasikan, meninjau, dan memvalidasi AI agent sebelum dapat digunakan dalam lingkungan produksi.

Empat dari lima responden bahkan mengatakan penggunaan AI di tempat mereka bekerja sudah dibatasi melalui sejumlah mekanisme, seperti kuota token, batas pemakaian, maupun pembatasan anggaran.

Pada saat yang sama, AI agent mulai masuk ke lingkungan kerja perusahaan. Sebanyak 53% responden di tujuh pasar mengatakan teknologi tersebut telah digunakan pada sejumlah alur kerja produksi atau diterapkan secara luas di organisasi mereka.

Namun, kesiapan infrastrukturnya masih tertinggal. Hanya 38% responden yang menilai codebase organisasinya sebagian besar atau sepenuhnya siap untuk AI agent yang dapat bekerja secara otonom.

Perkembangan AI juga mulai mengubah keterampilan yang dibutuhkan developer. 

Arsitektur dan desain sistem, literasi AI, serta kemampuan mengorkestrasi AI agent muncul sebagai kompetensi yang dinilai semakin penting.

Perubahan tersebut turut memunculkan kekhawatiran mengenai perkembangan karier, terutama pada developer yang baru memasuki industri.

Dalam hasil keseluruhan survei, 49% developer pemula mengaku kurang yakin terhadap prospek karier mereka di masa depan. 

Persentasenya jauh lebih rendah pada kelompok CTO dan VP Engineering, yakni 16,7%.

Chief Technology Officer Agoda Idan Zalzberg mengatakan penggunaan AI di kalangan developer Asia Tenggara dan India telah berkembang dari alat untuk mempercepat pekerjaan individual menjadi bagian yang lebih luas dari proses pengembangan perangkat lunak.

“Kecerdasan buatan membentuk ulang cara para pengembang di Asia Tenggara dan India dalam membangun, belajar, dan berkolaborasi. Sesuatu yang awalnya digunakan untuk mempercepat tugas-tugas individual kini berkembang menjadi perubahan yang lebih luas dalam cara perangkat lunak dibangun,” ujar Idan.

Menurut dia, peningkatan kemampuan AI juga membawa konsekuensi baru bagi organisasi, termasuk dalam mengelola biaya dan memastikan teknologi dapat dipercaya sebelum digunakan dalam produksi.

“Biaya sesungguhnya bukan hanya pada pengadaan model, melainkan juga pada upaya yang diperlukan untuk membuat AI dapat dipercaya di tahap produksi. Organisasi yang akan unggul di fase berikutnya adalah organisasi yang dapat mengelola biaya dengan cermat, membangun perlindungan yang tepat, dan tetap menempatkan penilaian manusia pada hal-hal yang paling penting,” katanya.

×
back to top