×
Kanal
    • partner tek.id realme
    • partner tek.id samsung
    • partner tek.id acer
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd

AI Agent Mulai Bisa Bertindak Atas Nama Karyawan, F5 Siapkan Sistem Pengaman Baru

Oleh: Tek ID - Jumat, 25 September 2026 10:05

F5 memperkenalkan Workforce AI Security untuk mengontrol penggunaan AI dan memblokir tindakan berisiko AI agent sebelum dieksekusi.

F5 Siapkan Sistem Pengaman Baru untuk AI Agent Logo F5. dok. F5

Penggunaan kecerdasan buatan (AI) di lingkungan kerja mulai bergeser dari sekadar meminta jawaban melalui prompt. 

Kehadiran AI assistant hingga coding agent kini memungkinkan teknologi tersebut mengakses sistem perusahaan, menggunakan sejumlah tools, hingga mengubah data dengan izin yang dimiliki pengguna.

Perubahan tersebut memunculkan tantangan keamanan baru. Ketika pekerjaan didelegasikan kepada AI, sistem tersebut pada dasarnya dapat menggunakan sebagian kewenangan pengguna untuk melakukan tindakan di lingkungan perusahaan.

F5 menyebut kondisi tersebut sebagai borrowed authority atau kewenangan yang dipinjamkan. 

Konsep ini membuat pengamanan AI tidak lagi cukup hanya dengan menentukan aplikasi apa yang boleh digunakan karyawan atau data apa yang boleh dimasukkan ke dalamnya, tetapi juga perlu mengatur tindakan yang boleh dilakukan AI atas nama pengguna.

Kebutuhan itu semakin relevan seiring bertambahnya kewenangan yang diberikan perusahaan kepada AI. 

Berdasarkan F5 2026 State of Application Strategy Report, sebanyak 66% organisasi disebut telah mengizinkan AI untuk secara otomatis menyesuaikan kebijakan dan konfigurasi.

Untuk menghadapi risiko tersebut, F5 memperkenalkan Workforce AI Security sebagai bagian dari F5 AI Security Platform. 

Solusi ini dirancang memberikan visibilitas sekaligus kontrol kebijakan terhadap penggunaan AI oleh karyawan dan tindakan yang dilakukan AI agent atas nama mereka.

Chief Product Officer F5 Kunal Anand mengatakan pola interaksi pekerja dengan AI telah berkembang menjadi lebih kompleks dibandingkan sekadar menggunakan chatbot untuk memperoleh informasi.

“Karyawan kini tidak lagi sekadar bertanya kepada AI. Mereka menyerahkan pekerjaan kepada AI agent yang dapat masuk ke dalam sistem perusahaan, memanggil tools, dan mengubah data atas nama mereka,” ujar Kunal.

Menurut dia, Workforce AI Security menerapkan intent-based guardrails pada jalur jaringan untuk memahami konteks interaksi AI dan menerapkan kebijakan sebelum tindakan berisiko dilakukan.

“Dengan penambahan ini, F5 AI Security Platform memberikan satu set kontrol bagi organisasi, baik untuk mengatur cara karyawan mereka menggunakan AI maupun cara mereka membangun dan menerapkan AI, di mana pun AI tersebut dijalankan,” katanya.

Salah satu kemampuan utama F5 Workforce AI Security adalah mengidentifikasi layanan AI yang digunakan melalui browser maupun perangkat pengembangan. 

Perusahaan kemudian dapat menerapkan kebijakan berdasarkan layanan, jenis lisensi, aktivitas unggah berkas, hingga aturan penggunaan data.

Sistem juga dirancang menghubungkan aktivitas AI dengan identitas pengguna maupun agent. Konteks seperti tujuan tindakan, tingkat risiko, dan keputusan berdasarkan kebijakan dapat direkam untuk kebutuhan pengawasan dan audit.

Kontrol menjadi lebih jauh ketika AI agent mulai menjalankan suatu tindakan. F5 Workforce AI Security dapat memeriksa dan mengklasifikasikan pemanggilan tools pada MCP server maupun perangkat AI agent yang didukung.

Berdasarkan identitas pengguna, risiko akses, serta kemungkinan paparan data sensitif, perusahaan dapat menetapkan kebijakan untuk mengizinkan, memblokir, atau memodifikasi tindakan tersebut sebelum dieksekusi.

Pendekatan ini memungkinkan perusahaan, misalnya, tidak hanya mengetahui seorang karyawan menggunakan AI, tetapi juga mengendalikan tindakan yang dapat dilakukan AI ketika memperoleh akses melalui kewenangan pengguna tersebut.

F5 menerapkan kontrol tersebut melalui jaringan atau network path, sehingga perusahaan tidak perlu memasang endpoint client tambahan. 

Kontrol dirancang bekerja pada berbagai jalur interaksi, termasuk browser, Command Line Interface (CLI), coding agent, MCP client, hingga perangkat internal yang mengakses API model AI publik.

Workforce AI Security menjadi pengembangan berikutnya dari strategi keamanan AI F5. 

F5 sebelumnya memperkenalkan F5 AI Security Platform pada Juni 2026 untuk menyediakan kemampuan visibilitas, tata kelola, pengujian, dan perlindungan saat AI dijalankan di lingkungan perusahaan.

Pada Agustus 2026, F5 menambahkan kemampuan AI Gateway, termasuk MCP Gateway, untuk mengontrol lalu lintas dan menerapkan kebijakan di antara aplikasi, model, AI agent, dan tools.

Workforce AI Security memperluas lapisan pengamanan tersebut ke aktivitas pengguna. 

Dengan demikian, kontrol tidak hanya diterapkan pada AI yang dikembangkan perusahaan, tetapi juga terhadap bagaimana karyawan menggunakan AI serta tindakan yang dikerjakan AI agent atas nama mereka.

F5 menyebut kontrol keamanan diterapkan pada jalur tempat prompt dan respons AI mengalir, sehingga tidak bergantung pada satu model, aplikasi, maupun penyedia teknologi tertentu. 

Pendekatan tersebut ditujukan untuk membantu organisasi mendeteksi penggunaan AI, menguji kerentanan, melindungi interaksi ketika sistem berjalan, serta mengatur akses pengguna dan AI agent.

F5 Workforce AI Security dijadwalkan tersedia secara umum mulai Oktober 2026.

×
back to top