Menjajal Huawei P30, panduan singkat sebelum ulasan lengkap

Proses review Huawei P30 sedang berlanjut. Berikut merupakan pengalaman saya ketika menjajal sebentar adik dari P30 Pro tersebut.

Setelah beberapa hari lalu saya menguji Huawei P30 Pro. Sekarang saya berkesempatan menjajal sebentar "adik" dari smartphone flagship tersebut, Huawei P30. Kedua ponsel adik-kakak tersebut sebenarnya memiliki jeroan yang sama yakni, prosesor mobile Kirin 980 dan RAM sebesar 8 GB. Unit Huawei P30 yang ada di tangan saya memiliki penyimpanan internal sebesar 128 GB. Perlu dikatehui bahwa Huawei menyematkan memori internal P30 dengan berbagai versi: 64 GB, 128 GB dan 256 GB. Kamu juga dapat menambahkan memori eksternal hingga 256 GB via slot Nano Memory (NM), yang posisinya ada di slot kartu SIM 2. Slot kartu SIM (atau NM) berada di sisi kiri atas.

Soal layar, Huawei P30 mengusung ukuran layar 6,1 inci. Teknologi panel yang dimilikinya adalah OLED yang menjanjikan kontras lebih baik dibandingkan panel layar IPS konvensional. Senada dengan P30 Pro, Huawei P30 juga menyajikan aspect ratio 19.5:9. Kamera depan terletak di dahi ponsel, sehingga Huawei P30 ini memiliki desain notch. Notch tersebut hanya untuk tempat kamera depan, bukan speaker (earpiece). Huawei menempatkan speaker untuk melakukan panggilan telepon di atas kamera depan P30. Meski demikian, bezel atas tetap terlihat tipis.


BACA JUGA

Huawei klaim pendapatan Q1 2019 tumbuh 39 persen YoY

Huawei konfirmasi siap pasok modem 5G untuk iPhone

Siap dijual, Huawei stok 6 juta unit seri P30


Berbicara seputar bezel, Huawei merancangnya cukup tipis, meski bezel kiri dan kanan tetap tampak, berbeda dengan P30 Pro. Pasalnya, Huawei P30 tidak dirancang menggunakan layar melengkung. Ya, paras P30 memang tidak serupawan Huawei P30 Pro. Tetapi saya pribadi lebih menyukai pengalaman menggenggam P30, karena pinggirannya yang tidak melengkung. Layarnya yang berukuran lebih kecil, tanpa sisi belakang yang melengkung, membuatnya lebih nyaman digenggam.

Meski begitu, ketahanan bodi Huawei P30 tidak setangguh Huawei P30 Pro. Huawei P30 mendukung sertifikasi IP53, sehingga memungkinkannya tahan terhadap debu dan cipratan air. Sedangkan P30 Pro memiliki sertifikasi IP68 yang lebih kuat, hingga mampu tenggelam ke kedalaman 2 meter selama 30 menit.

jack audio huawei p30

Tidak ada tombol navigasi fisik, karena Huawei menggantinya dengan tiga tombol virtual di bawah layar. Tombol fisik yang dapat saya temui hanya tombol akses volume dan tombol daya. Satu hal lagi yang saya suka dari P30 dibandingkan P30 Pro, Huawei menyematkan jack audio 3,5 mm. Sebelumnya di Huawei P30 Pro port ini tidak hadir. Mungkin tidak semua orang memerlukan jack tersebut, tetapi kehadirannya dapat membantu saya mendengarkan musik via earphone sembari mengisi ulang baterainya. Sementara kalau menggunakan USB Type-C, saat mengisi ulang baterai, earphone harus kita lepas.

Baterainya sendiri memiliki kapasitas 3650 mAh, daya tahan baterainya akan saya bahas lebih lanjut, ketika telah selesai mengulas smartphone ini secara keseluruhan.

Mirip saudaranya, sensor sidik jari P30 juga terbenam di bawah layar. Untuk sekarang performa pendeteksian sensor biometrik tersebut cukup unggul. Selain sidik jari, ada lagi sensor keamanan biometrik lainnya, yakni pengenal wajah (Face recognition). Berbeda dengan keamanan sidik jari yang membutuhkan proses agak panjang untuk melakukan registrasi, face recognition hanya membutuhkan waktu yang jauh lebih cepat. Performa pengenalan wajah yang dilakukan P30 cukup baik, tidak membutuhkan waktu lama.

kamera belakang huawei p30

Dari segi kamera, P30 dilengkapi dengan 3 kamera: satu beresolusi 40 MP f/1.8 untuk memotret kebutuhan standar, satu beresolusi 16 MP f/2.2 untuk memotret sudut super lebar, dan satu lagi beresolusi 8 MP f/2.4 untuk memotret zoom optik hingga 3x. Optical Image Stabilizatoin (OIS) hanya terdapat pada lensa telefoto. Keputusan menggunakan OIS pada lensa zoom cukup tepat karena ketika kita memotret kejauhan, kamera rentan goyah dan foto jadi blur akibat getaran halus di tangan. Performa lensa telefoto cukup baik, tidak menampilkan momok distorsi. Berkat lensanya bertipe aspherical (ASPH). Huawei juga berkolaborasi dengan Leica untuk pembuatan seluruh kamera belakang P30.

Saya sempat merekam video selama satu menit ketika naik motor berboncengan pada malam hari. Hasilnya cukup baik dengan detil daun-daun pepohonan yang terlihat lumayan tajam. Eksposure yang ditawarkan cukup memukau, tidak terjadi under-exposure.

Beralih ke kamera depan, Huawei melengkapinya dengan sensor beresolusi 32 MP dengan aperture f/2.0 Mode HDR-nya memungkinkan wajah tetap terlihat meski sedang membelakangi cahaya. Kamu juga dapat mengubah warna kulit wajah sesuai yang diinginkan. Tidak luput pula mode Beauty yang dapat menghaluskan kulit dan mengubah bentuk dagu.

Dalam hal performa, smartphone ini sendiri memuaskan saya. Mesinnya lancar dan sangat responsif. Kapasitas RAM sebesar 8 GB membantu saya beralih antar aplikasi dengan mulus tanpa gangguan lagging. Ulasan selengkapnya seputar P30 akan saya umumkan lengkap dengan hasil benchmark serta daya tahan baterainya.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: