Kemitraan Indonesia–Inggris Kucurkan Pendanaan Inovasi Pembangunan Rendah Karbon
Indonesia–Inggris danai 4 proyek inovasi rendah karbon lewat LCDI-ITF, dorong solusi iklim berdampak langsung bagi masyarakat.
Proyek LCDI-ITF Tahap 1 resmi diluncurkan Pemerintah Indonesia-Inggris. dok. Bappenas
Pemerintah Indonesia bersama Pemerintah Inggris mulai merealisasikan pendanaan inovasi untuk mempercepat pembangunan rendah karbon.
Melalui program Low Carbon Development Initiative–Innovation and Technology Fund (LCDI-ITF), empat proyek terpilih kini memasuki tahap implementasi di berbagai wilayah Indonesia.
Kolaborasi ini melibatkan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) dan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup bersama Foreign, Commonwealth and Development Office, yang telah menjalin kemitraan sejak 2017 untuk mendorong pembangunan berkelanjutan berbasis bukti dan inklusif.
Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Bappenas Leonardo A.A. Teguh Sambodo mengatakan program ini merupakan bagian dari langkah konkret implementasi kebijakan.
- Teknologi Detect Me Bantu Pantau Kondisi Janin dari Rumah, Tekan Angka Kematian Ibu
- Industri Laboratorium RI Tumbuh Pesat, Lab Indonesia 2026 Siap Jadi Pusat Kolaborasi Global
- Urai Limbah Plastik Jadi Bata Daur Ulang Lewat Tempat Sampah Inovatif
- Binus University Raih Rekor MURI Lewat 120 Inovasi Teknologi Mahasiswa di Techvolution 2025
“Innovation and Technology Fund menjadi bentuk nyata bagaimana perencanaan dapat diterjemahkan menjadi aksi pembangunan rendah karbon,” ujarnya.
Dari total 283 proposal dengan nilai pengajuan mencapai Rp1,59 triliun, pemerintah menetapkan empat proyek tahap awal dengan total pendanaan Rp20,33 miliar.
Proyek tersebut mencakup pengelolaan sampah, budidaya udang berbasis energi surya, pengolahan rempah berkelanjutan, serta dekarbonisasi pertanian padi.
Direktur Utama BPDLH Joko Tri Haryanto mengatakan keberhasilan program sangat ditentukan pada tahap implementasi.
“Kami ingin membantu inovasi melewati ‘valley of death’ agar dapat berkembang dan memberikan dampak nyata,” katanya.
Minister Counsellor Kedutaan Besar Inggris Peter Rajadiston mengatakan solusi iklim harus mampu menciptakan lapangan kerja hijau dan memperkuat ketahanan komunitas, tidak hanya menurunkan emisi.
Program LCDI-ITF menjadi bagian dari strategi Indonesia dalam mengintegrasikan kebijakan, pendanaan, dan inovasi teknologi untuk mencapai target pembangunan rendah karbon.
Hingga 2024, Indonesia telah mencatat potensi penurunan emisi sebesar 30,36 persen melalui lebih dari 29.000 aksi lintas sektor.
Ke depan, skema ini diharapkan menjadi model yang dapat direplikasi secara nasional. Selain mempercepat solusi iklim di tingkat lokal, pendekatan ini juga membuka peluang transformasi inovasi menjadi kebijakan dan investasi yang berdampak luas bagi pembangunan berkelanjutan









