Lewat Merdeka AI, Lintasarta Perkuat Kendali Data dan Keamanan Industri Nasional
Lintasarta hadirkan Merdeka AI lewat Cloudeka agar data perusahaan dikelola di Indonesia, sekaligus memperkuat kedaulatan digital nasional.
Fasilitas Lintasarta. dok. Lintasarta
Lintasarta memperkuat pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) berdaulat melalui inisiatif Merdeka AI.
Langkah ini memungkinkan perusahaan di Indonesia memanfaatkan teknologi AI dengan tetap mempertahankan kendali atas data, keamanan, dan operasional bisnis dalam yurisdiksi nasional.
Melalui Merdeka AI, Lintasarta menyediakan infrastruktur dan layanan digital yang beroperasi di Indonesia serta dirancang untuk mendukung kepatuhan terhadap regulasi nasional.
Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian teknologi sekaligus memperluas pemanfaatan AI di berbagai sektor industri.
- Cegah Kejahatan Keuangan, WIDTH dan Nawadata Perkuat Sistem Perbankan dengan AI
- Riset Digital 2027: Orang Indonesia Gemar Pakai AI, WhatsApp hingga Belanja Online
- 88 Persen Perusahaan Indonesia Tingkatkan Investasi AI, Biaya dan Regulasi Jadi Tantangan
- Survei Ericsson: Indonesia Nomor Dua dalam Penggunaan AI Multimodal Harian di 27 Pasar
Director & Chief IT Services Officer Lintasarta Ginandjar mengatakan pengembangan AI berdaulat diperlukan agar perusahaan nasional tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memiliki kendali terhadap infrastruktur dan data yang digunakan.
“Bagi Lintasarta, Merdeka AI bukan sekadar inisiatif teknologi, melainkan komitmen untuk memperkuat kemandirian digital Indonesia,” ujar Ginandjar.
Ia menegaskan Lintasarta ingin memastikan industri nasional memiliki akses terhadap infrastruktur dan kemampuan AI yang andal tanpa mengorbankan kendali atas keamanan maupun operasional bisnis.
Salah satu fondasi Merdeka AI adalah Cloudeka, layanan komputasi awan milik Lintasarta yang menyediakan infrastruktur digital bagi perusahaan.
Melalui layanan Sovereign AI, Cloudeka didukung pusat data yang beroperasi di Indonesia sehingga pengelolaan data dapat dilakukan dalam yurisdiksi nasional.
Pendekatan tersebut menjadi penting bagi perusahaan yang mengelola informasi sensitif dan harus memenuhi ketentuan keamanan serta perlindungan data, terutama di sektor perbankan, energi, dan layanan publik.
Lintasarta menyebut saat ini telah melayani lebih dari 30 persen perusahaan badan usaha milik negara (BUMN) di Indonesia.
Jangkauan pelanggannya juga mencakup bank-bank nasional, bank swasta, bank syariah, Bank Pembangunan Daerah (BPD), hingga perusahaan energi dan minyak serta gas bumi dari sektor hulu sampai hilir.
Dari sisi tata kelola, Lintasarta memperoleh sertifikasi ISO/IEC 42001:2023 untuk Artificial Intelligence Management System (AIMS) dari TÜV SÜD Indonesia pada Oktober 2026.
Pencapaian tersebut menjadikan Lintasarta perusahaan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) nasional pertama di Indonesia yang meraih sertifikasi itu.
Sertifikasi tersebut berkaitan dengan penerapan sistem manajemen AI yang sistematis dan bertanggung jawab, termasuk pengelolaan risiko serta tata kelola penggunaan teknologi dalam organisasi.
Untuk memperluas kolaborasi, Lintasarta juga berencana menyelenggarakan Merdeka AI Summit: Cloudeka Sovereign for Future Enterprise.
Forum ini akan mempertemukan pemerintah, pelaku industri, dan ekosistem teknologi untuk membahas penerapan AI sesuai kebutuhan bisnis dan prioritas nasional.
“Merdeka AI adalah upaya membangun kemampuan dari dalam negeri agar perusahaan memiliki fondasi sesuai prioritasnya,” kata Ginandjar.









