KESGI Dashboard Diluncurkan, Platform Data ESG Berbasis AI untuk Bisnis Hijau
KESGI Dashboard dorong bisnis hijau dan investasi ESG berbasis data di Indonesia secara lebih transparan.
KESGI Dashboard untuk bisnis hijau diluncurkan. dok. Katadata
Upaya mendorong percepatan ekonomi hijau di Indonesia memasuki babak baru. Katadata melalui Katadata Green meluncurkan KESGI (Katadata ESG Insight) Dashboard, sebuah platform berbasis data yang dirancang untuk memperkuat implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di kalangan perusahaan publik.
Peluncuran ini dilakukan dalam Katadata ESG Forum bertema “ESG untuk Akselerasi Dekarbonisasi & Bisnis Hijau” di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, yang dihadiri lebih dari 100 peserta dari kalangan regulator, investor, hingga pelaku industri.
KESGI Dashboard hadir sebagai solusi atas tantangan utama dalam penerapan ESG, terutama terkait keterbatasan data yang terintegrasi dan mudah dianalisis.
Platform ini menghimpun serta mengolah data ESG perusahaan tercatat di pasar saham, diperkaya dengan penilaian panel ahli dan teknologi kecerdasan buatan (AI).
- SailPoint Rilis Shadow AI Remediation, Solusi Kendali Real-Time untuk Risiko AI Generatif di Perusahaan
- Infobip Luncurkan AgentOS, Platform AI untuk Otomatisasi Komunikasi Pelanggan Skala Besar
- Cisco dan NVIDIA Kembangkan Secure AI Factory, Percepat Implementasi AI dari Data Center hingga Edge
- Kaspersky Ingatkan Bahaya Interaksi Berlebihan dengan AI, Berdampak pada Mental dan Keamanan Pengguna
Co-founder dan CEO Katadata Metta Dharmasaputra menilai ekonomi hijau berpotensi menjadi motor baru pertumbuhan nasional.
“Tanpa sektor ini sebagai pendorong baru, akan sulit mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen,” ujarnya.
Ia juga menyoroti hasil survei BEI bersama Mandiri Institute pada 2024 terhadap 150 perusahaan, yang menunjukkan tantangan utama implementasi ESG masih berkutat pada minimnya data kuantitatif, keterbatasan SDM, serta tingginya biaya pengumpulan data.
Co-founder dan Chief Content Officer Katadata Heri Susanto mengatakan KESGI Dashboard dirancang untuk menjembatani kesenjangan tersebut.
“KESGI menjadi solusi agar data bisa diubah menjadi insight, dari kepatuhan menjadi keputusan, dan dari fragmentasi menjadi integrasi,” katanya.
Menurut Heri, KESGI menggunakan metodologi yang mengacu pada standar global namun diselaraskan dengan regulasi nasional.
Sistem penilaiannya mencakup tiga pilar ESG dengan 15 topik utama dan lebih dari 100 indikator, sehingga mampu memberikan gambaran komprehensif terhadap kinerja keberlanjutan perusahaan.
Ke depan, Katadata juga akan mengembangkan Katadata ESG-50 Leader Index, yang akan mengidentifikasi 50 perusahaan dengan praktik ESG terbaik di pasar modal Indonesia.
Indeks ini diharapkan menjadi rujukan investor dalam menilai kinerja keberlanjutan sekaligus performa finansial perusahaan.
Deputy Head Katadata Green Jeany Hartriani mengayakan ESG tidak lagi cukup diposisikan sebagai kewajiban pelaporan.
“ESG harus lebih dari sekadar pelaporan, tetapi menjadi prinsip kepemimpinan yang melatarbelakangi operasional perusahaan,” ujarnya.
Sementara itu, Penanggung Jawab Sementara Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik mengatakan indeks ESG kini semakin relevan dalam pengambilan keputusan investasi.
Mengacu data Otoritas Jasa Keuangan per Februari 2026, terdapat 72 produk reksadana dan ETF berbasis ESG dengan total dana kelolaan mencapai Rp15,83 triliun.
“BEI telah menyediakan enam indeks berbasis ESG untuk mendorong produk investasi berkelanjutan, sekaligus memperkuat ekosistem melalui kolaborasi dengan berbagai mitra, termasuk Katadata,” jelasnya.
Sebagai bagian dari penguatan ekosistem, Katadata Green juga menandatangani nota kesepahaman dengan sejumlah mitra strategis, seperti East Ventures, Life Cycle Indonesia, Indonesia Carbon Capture and Storage Center, A+ CSR Indonesia, Rekosistem, dan Jejakin. Kolaborasi ini ditujukan untuk memperluas adopsi praktik ESG berbasis data di berbagai sektor industri.









