Open Source Dinilai Jadi Fondasi Kedaulatan AI Indonesia
Cloudera menilai open source menjadi fondasi kemandirian AI Indonesia melalui interoperabilitas, kedaulatan digital, dan Private AI.
Ilustrasi AI. dok. Cloudera
Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), Indonesia dinilai perlu membangun fondasi teknologi yang terbuka agar tidak bergantung pada segelintir penyedia teknologi proprietary.
Menurut Cloudera, kemandirian AI tidak ditentukan oleh kecanggihan model generatif semata, tetapi oleh kemampuan organisasi mengendalikan data, arsitektur, dan tata kelola teknologi yang menopangnya.
Chief Technology Officer (CTO) Cloudera Sergio Gago mengatakan dominasi penyedia teknologi proprietary berpotensi membuat organisasi kehilangan fleksibilitas dalam mengembangkan sistem AI.
Ketergantungan terhadap satu vendor (vendor lock-in) dinilai dapat membatasi inovasi, meningkatkan biaya, sekaligus mengurangi kendali organisasi atas teknologi yang digunakan.
- Studi: AI Mendorong Penemuan Produk, Kreator Tetap Berpengaruh pada Keputusan Belanja
- 95 Persen Implementasi AI Belum Haslkan Dampak Bisnis, Infrastruktur dan Tata Kelola Jadi Kunci
- 73% Infrastruktur TI Sektor Publik Belum Siap Jalankan AI Kompleks
- ChatGPT Jadi Rekan Berpikir, Pemuda Bali Ubah Modal Rp500 Ribu Menjadi Bisnis Bertaraf Internasional
Menurut Sergio, isu tersebut menjadi semakin relevan bagi Indonesia yang tengah memperkuat posisinya sebagai ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara.
Nilai ekonomi digital nasional diproyeksikan mencapai sekitar Rp3.240 triliun hingga Rp6.120 triliun (setara 180 miliar–340 miliar dolar AS) pada akhir dekade ini.
Di saat yang sama, sekitar 80 persen pengguna di Indonesia telah memanfaatkan teknologi AI setiap hari, sementara tingkat adopsi agentic AI di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, telah mencapai 42 persen.
Namun, Gago menilai banyak organisasi masih terlalu berfokus pada model AI generatif tanpa memperkuat fondasi yang mendukungnya.
"Dalam perlombaan mengadopsi AI, banyak organisasi justru mengabaikan fakta yang mendasar, bahwa AI sesungguhnya dibangun mulai dari model, dengan data, arsitektur dan tata kelola (governance),” katanya dalam keterangan tertulis.
Sergio menjelaskan, organisasi yang ingin membangun sistem AI untuk kebutuhan operasional bisnis perlu bertumpu pada tiga pilar utama, yakni interoperabilitas, kedaulatan digital, dan Private AI.
Ketiga aspek tersebut menjadi fondasi agar perusahaan memiliki kendali penuh atas data sekaligus tetap fleksibel dalam mengembangkan teknologi AI.
Pada aspek interoperabilitas, organisasi didorong mengadopsi standar dan format data terbuka sehingga dapat mengganti komponen teknologi tanpa harus membangun ulang seluruh sistem.
Pendekatan tersebut juga memungkinkan perusahaan menghindari ketergantungan permanen terhadap satu vendor, sekaligus meningkatkan efisiensi biaya dan pengelolaan data.
Di Indonesia, prinsip ini telah diterapkan melalui platform SATUSEHAT yang mengintegrasikan data layanan kesehatan dari berbagai fasilitas kesehatan dalam satu ekosistem digital nasional.
Sementara itu, kedaulatan digital dinilai semakin penting karena AI kini menjadi fondasi berbagai sektor strategis, mulai dari layanan publik, kesehatan, pendidikan, pertahanan, hingga industri keuangan.
Menurut Gago, organisasi harus mampu mengendalikan lokasi penyimpanan data, akses terhadap data, model AI yang digunakan, hingga kemampuan memindahkan workload apabila terjadi perubahan regulasi, kebijakan penyedia layanan, maupun dinamika geopolitik.
Ia menilai penerapan arsitektur hibrida menjadi salah satu solusi untuk memenuhi regulasi perlindungan data tanpa menghambat inovasi.
Sebaliknya, ketergantungan penuh pada layanan public cloud eksternal maupun platform proprietary berpotensi menimbulkan risiko operasional ketika penyedia layanan mengubah harga, lisensi, atau bahkan menghentikan dukungan terhadap teknologi tertentu.
Pilar ketiga adalah Private AI, yakni pendekatan yang memungkinkan perusahaan menjalankan model AI langsung di lingkungan data yang telah dikelola secara aman.
Dengan cara tersebut, organisasi dapat menjaga keamanan data, mengelola identitas pengguna, serta memastikan jejak pengelolaan data (data lineage) tetap terpantau sepanjang siklus operasional AI.
Menurut Gago, keberhasilan implementasi AI tidak diukur dari kemampuan menghasilkan demonstrasi teknologi yang menarik, melainkan dari kemampuan membangun sistem yang stabil, aman, memenuhi kebutuhan audit, dan dapat diandalkan dalam aktivitas bisnis sehari-hari.
Karena itu, interoperabilitas, kedaulatan digital, dan Private AI harus berjalan beriringan agar AI dapat diterapkan secara bertanggung jawab.
Sebagai salah satu kontributor proyek open source global, Cloudera menilai strategi AI yang dibangun di atas arsitektur hybrid, data terbuka, dan kendali penuh akan memberikan fondasi yang lebih kuat bagi organisasi untuk berinovasi sekaligus meminimalkan risiko di masa depan.
"Kami meyakini bahwa open source bukan hanya akan membuat AI lebih terjangkau. Lebih dari itu, open source akan menjadikan AI lebih terbuka, lebih adaptif, lebih relevan dengan kebutuhan lokal, serta lebih layak untuk dipercaya,” pungkasnya.









