Jepang punya superkomputer khusus untuk penelitian antariksa

ATERUI II merupakan superkomputer yang ada di National Astronomical Observatory of Japan (NAOJ) yang khusus digunakan untuk penelitian antariksa

Jepang punya superkomputer khusus untuk penelitian antariksa

Para ilmuwan memiliki teleskop yang sangat mutakhir seperti Hubble dan Very Large Telescope (VLT) di Chili. Bahkan instrumen yang lebih unggul seperti Webb Space Telescope dan Extremely Large Telescope sebentar lagi hadir untuk menggantikan yang lawas. Dilansir dari ExtremeTech (10/9), para ilmuwan sering perlu beralih ke simulasi komputer untuk memahami cara kerja alam semesta. Simulasi tersebut semakin kuat berkat superkomputer Jepang baru yang disebut ATERUI II. Ini adalah sistem tercepat di dunia yang sepenuhnya didedikasikan untuk penelitian astronomi.

ATERUI II merupakan superkomputer yang ada di National Astronomical Observatory of Japan (NAOJ) dan saat ini menduduki peringkat ke-83 di daftar 500 superkomputer terunggul. Sebagian besar superkomputer biasanya dibagi di antara beberapa bidang atau hanya ada untuk digunakan pemerintah, tetapi ATERUI II digunakan khusus untuk penelitian astronomi.

ATERUI II merupakan sistem Cray XC50 yang tiga kali lebih andal dari pendahulunya. Superkomputer ini menggunakan prosesor Intel Xeon Gold 6148. Masing-masing berharga USD3.000 (Rp44,5 juta) dan dilengkapi dengan 20 core (40 thread) dengan frekuensi maksimum 3,7 GHz dan cache 27,5 MB, tidak ketinggalan pula RAM dengan kapasitas 385TB.

Seluruh hardware tersebut menjadikan ATERUI II ideal untuk komputasi paralel. Tim yakin ini akan menjadi salah satu superkomputer multitasking yang paling unggul di dunia yang memungkinkan ATERUI II untuk memecah simulasi menjadi beberapa bagian. Lebih dari 150 tim sudah berada di daftar untuk menggunakan ATERUI II sebelum akhir tahun.

ATERUI II memiliki kekuatan untuk memodelkan variabel gravitasi untuk seluruh galaksi dengan 100 miliar bintang. Simulasi sering digunakan untuk membantu menginformasikan pengamatan masa depan, sehingga para ilmuwan akan dapat memutuskan target dan metode pengamatan dengan kecepatan yang lebih tinggi berkat ATERUI II. Canggih banget ya?

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: