Baterai solid-state Panasonic bisa isi 80% dalam waktu 3 menit
Untuk pertama kalinya, Panasonic memamerkan teknologi baru ini kepada media dan perusahaan pelanggan prospektif.
Panasonic Holdings tengah menggarap mengerjakan baterai all-solid-state dengan fokus awalnya pada drone. Dijadwalkan untuk diproduksi massal pada paruh kedua tahun 2020-an, baterai ini bisa menjadi jawaban untuk penyimpanan energi yang lebih cepat dan efisien.
Perusahaan asal Jepang tersebut mengklaim bahwa baterai all-solid-state dapat mengisi daya hingga 80% hanya dalam waktu sekitar 3 menit. Ini jauh berbeda dengan baterai lithium-ion saat ini, yang membutuhkan waktu hingga satu jam untuk terisi penuh. Dengan demikian, operator drone tidak perlu menghentikan mesinnya dalam waktu lama, sehingga menghasilkan efisiensi yang belum pernah terjadi sebelumnya di industri seperti pertanian, pengawasan, dan layanan pengiriman.
Untuk pertama kalinya, Panasonic memamerkan teknologi baru ini kepada media dan perusahaan pelanggan prospektif, tetapi tetap merahasiakan spesifikasi teknisnya. Dilansir dari Gizmochina (18/9), orang dalam menyatakan bahwa baterai ini dapat bertahan puluhan ribu siklus pengisian-pengosongan, jauh tinggi dari 3.000 siklus yang biasanya ditawarkan oleh baterai lithium-ion.
Meskipun drone adalah sasaran langsungnya, gambaran yang lebih besar bahkan lebih menarik. Baterai all-solid-state berpotensi merevolusi pasar kendaraan listrik. Dengan perusahaan seperti Toyota yang berencana memperkenalkan baterai ini ke dalam kendaraan listrik mereka pada tahun 2027-2028, jelas bahwa industri otomotif sangat memperhatikan teknologi tersebut.
- Semen Merah Putih Pamerkan Inovasi Teknologi Hijau di INTERCEM Asia 2026
- Kemitraan Indonesia–Inggris Kucurkan Pendanaan Inovasi Pembangunan Rendah Karbon
- Teknologi Detect Me Bantu Pantau Kondisi Janin dari Rumah, Tekan Angka Kematian Ibu
- Industri Laboratorium RI Tumbuh Pesat, Lab Indonesia 2026 Siap Jadi Pusat Kolaborasi Global
Toshio Ogawa, Chief Technology Officer di Panasonic Holdings, menekankan perlunya upaya kolaboratif dengan produsen mobil agar integrasi ke dalam kendaraan berhasil, dengan mengatakan, “Hal ini tidak dapat dilakukan secara mandiri oleh satu perusahaan.”









