Review Film

Midsommar, tragedi putus cinta dalam balutan horor epik

Midsommar sebenarnya sebuah tragedi putus cinta dengan balutan horor yang membuatnya menjadi tontonan yang epik.

Midsommar, tragedi putus cinta dalam balutan horor epik Florence Pugh berperan sebagai Deni di Midsommar, garapan Ari Aster.

Film horor selama ini dikenal sarat dengan kegelapan, hantu, jumpscare dan scoring yang menggelitik bulu kuduk setiap penonton. Itu film horor pada umumnya, tidak dengan Midsommar, film buatan Ari Aster. Sebagai pendatang baru di film horor, dia berhasil membuktikan bahwa namanya patut diperhitungkan di industri ini. 

Midsommar menjadi  film kedua dalam daftar sinematografi Ari Aster. Film pertamanya berjudul Hereditary, yang ternyata popularitasnya meledak menjadi salah film horor terbaik di tahun 2018. 


berita tentang tek.id

BACA JUGA

Jessica Henwick bakal main film Matrix 4

Begini bocoran tampilan Sonic terbaru

Netflix laporkan kenaikan jumlah pelanggan di kuartal ketiga


Sewaktu hendak menonton film ini, saya menyimpan harapan yang tinggi dengan kualitas film kedua Ari Aster ini. Pasalnya, di film perdana, Ari Aster tampak berusaha keluar dari pakem horor pada umumnya. Wajar saja kalau saya berharap film ini akan sebaik atau malah lebih cetar dari Hereditary. 

Well, Midsommar ini menceritakan tentang sekelompok anak muda yang pergi berlibur ke desa terpencil di daerah Halsingland, Swedia. Beberapa di antara mereka pergi dengan tujuan untuk menyelesaikan tesis antropologinya. Di sana, mereka akan merayakan festival tengah musim panas, yang dikenal sebagai Midsummer, yang dalam bahasa Swedia lebih dikenal sebagai Midsommar. 

Di awal film, kita akan diajak untuk mengenal lebih dalam siapa Dani Arbor (Florence Pugh) dan Christian Hughes (Jack Reynor). Meski belum memasuki 10 menit pertama di film, Ari Aster langsung menyuguhkan adegan yang intens. Di sini, Dani sebagai karakter utama harus mengalami kemalangan bertubi-tubi. Hubungannya dengan sang pacar sedang terombang-ambing, namun di sisi lain, kondisi keluarganya (yang akhirnya ternyata meninggal) pun terus menggelayut di benaknya. 

Semuanya berjalan perlahan, tapi ini baru awalnya. Ari Aster menyimpan kejutan lain setelah kejadian ini. Yang menarik adalah bagaimana Aster mampu meracik adegan awal ini dengan baik. Seperti yang orang bilang, “kesan pertama begitu menggoda”. 

Sebenarnya, scoring yang muncul di awal ini terbilang sederhana. Yang terdengar hanyalah kumpulan suara alat musik string yang tidak beraturan. Terkesan berantakan, tapi justru menggetarkan sebagai pembuka film ini. 

Secara keseluruhan, Midsommar sebenarnya sebuah film yang menceritakan kandasnya hubungan cinta Dani dengan Christian. Konon katanya, Aster sendiri masih dalam masa move on karena berpisah dari pasangannya ketika menggarap Midsommar. Karenanya, pergulatan antara kedua karakter utama ini mampu diramu dengan baik. Terkesan nyata, layaknya dalam kehidupan sehari-hari. 

Ditimpa banyak kemalangan, akhirnya Dani memutuskan ikut pergi ke Swedia bersama dengan teman-teman Christian. Di sinilah, Aster semakin menonjolnya esensi sebenarnya dari film tersebut. 

Sebagaimana disebut sebelumnya, Midsummer merupakan sebuah festival yang dilakukan untuk merayakan siang terpanjang dalam satu tahun. Makanya, dalam film ini, tidak banyak adegan yang dilakukan dalam suasana yang gelap. Hampir seluruh set dilakukan dengan suasana yang terang. 

Bukan perkara mudah membuat suasana menegangkan dalam suasana terang benderang, seperti di Midsommar. Pasalnya, warna cerah kerap mendominasi di film ini, yang seharusnya warna-warna semacam itu muncul di film dengan tema yang lebih berbahagia ketimbang Midsommar. 

Desa terpencil tempat mereka menginap berada pada sebuah padang luas di tengah hutan. Aster dengan cerdik meramu sejumlah detail untuk membuat para penonton terlibat sepenuhnya dalam film ini. Desiran angin, rumput yang saling bergesekan satu sama lain, diiringi dengan nyanyian dari kejauhan. Detail kecil, seperti suara mulut khas komunitas tersebut pun ditempatkan dengan sangat apik. Suara-suara khas semacam itu bisa jadi merupakan karakteristik yang ingin ditekankan Aster dalam setiap filmnya. Konsep yang sama juga diberikan Aster di film Hereditary. Sederhana memang, tapi sanggup membangun persepsi di mana para karakter itu sedang berada dan apa yang mereka alami. 

Pakaian putih mendominasi di film ini, disertai dengan beberapa simbol khas budaya pagan di masa lalu. Kalau mau disebutkan, setiap adegan dalam Midsommar mengandung simbol-simbol tersendiri yang akan sangat banyak sekali. 

Bagi yang sudah menonton Hereditary, pasti tidak asing lagi dengan gaya Ari Aster dalam membuat sebuah film. Keluar dari pakem horor yang ada, film ini tetap hadir dengan mencekam. 

Patut diakui, akting Florence Pugh sangat mencuri perhatian dalam film ini. Totalitasnya dalam memerankan Dani yang mengalami banyak kemalangan patut diacungi jempol. Sepengamatan saya, Pugh tidak banyak tersenyum dalam film ini. Hanya beberapa kali dalam film itu Pugh terlihat tersenyum. Ekspresi bingung, takut dan depresi mendominasi karakter Dani, yang ditampilkan dengan sangat baik oleh Pugh. 

Rasa-rasanya, tidak salah Aster memilih beberapa karakter muda berbakat di film ini. Vilhelm Blomgren, Will Poulter, William Jackson Harper dan tentunya Jack Reynor, bersama-sama membangun perkembangan kisah ini. Perlahan tapi pasti, mereka mampu tetap berpegang dalam karakternya masing-masing. Layaknya seorang komposer, Aster menempatkan mereka semua dalam satu komposisi apik, bagian per bagian secara perlahan untuk mendapatkan klimaks terbaik dalam film ini. 

Akting dari pemeran lain itu membangun kisah ini dengan sangat baik. Perkembangannya berjalan dengan perlahan, dapat dinikmati tetapi tetap harus memberikan konsentrasi penuh ketika mengikutinya. Yup, konsentrasi, karena film ini menawarkan detail yang sangat kaya. 

Bayangkan saja, Anda menonton film seperti Us. Efek psikologis yang dihadirkan film ini kira-kira sama dengan itu. Saking detailnya, ketinggalan satu adegan akan cukup berpengaruh dalam menikmati film ini. 

Film ini bertema putus cinta, tetapi tidak dihadirkan dengan manja oleh Aster, justru menegangkan dan mencekam. Hal itu juga didukung dengan sedikitnya musik yang digunakan Aster. Paling tidak, musik itu baru muncul ketika mendekati klimaks. Dibuat menanjak sedikit demi sedikit oleh Aster. 

Midsommar akan sangat memainkan emosi para penonton. Teknik pengambilan gambar, mimik wajah setiap pemerannya dan gerakan-gerakan yang mereka buat semuanya diatur dengan rapi yang mampu membuat penonton tertegun menyaksikan setiap adegan. Intinya adalah, tetap bertahan menyaksikan Midsommar sampai akhir, barulah ketahuan apa yang hendak disampaikan oleh Aster. 

Aster mampu meracik film putus cinta dengan cara lain. Seolah-olah, putusnya pasangan ini merupakan sebuah konspirasi besar yang melibatkan sekte Harga. Sekte tersebut berperan untuk memisahkan keduanya. Perlahan tapi pasti dan tidak terdeteksi. 

Kendati ada banyak sensor yang dilakukan (yang ternyata menjadi penyebab terlambatnya Midsommar masuk Indonesia), film ini tidak kehilangan esensinya sebagai sebuah film horor. Tetap menyeramkan dengan caranya sendiri dan menguras emosi. 

Secara keseluruhan, Midsommar sebenarnya sebuah tragedi putus cinta dengan balutan horor yang membuatnya menjadi tontonan yang epik dan terasa segar. Tetap menyeramkan dan menegangkan tanpa adanya jumpscare yang kadang terasa sangat mengganggu. Sensor nyatanya tidak mengurangi ketegangan yang hendak disuguhkan Aster di film keduanya. Namun kalau masih belum puas dengan apa yang ada di bioskop, belakangan ini sudah terbit versi Director’s Cut dengan durasi penuh 171 menit tanpa sensor. 

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: