×
Kanal
    • partner tek.id realme
    • partner tek.id samsung
    • partner tek.id acer
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd

Evolusi Drone: Dari Eksperimen Nikola Tesla hingga Pesawat Tanpa Awak Berbasis AI

Oleh: Dhanisa Julia Putri - Selasa, 06 Oktober 2026 17:40

Evolusi drone berlangsung lebih dari satu abad, dari eksperimen kendali radio Nikola Tesla hingga AI, sensor dan penerbangan BVLOS modern.

Dari Eksperimen Nikola Tesla hingga Pesawat Tanpa Awak Ilustrasi drone. dok. Magnific

Drone yang terbang di langit saat ini merupakan hasil evolusi teknologi selama lebih dari satu abad. 

Jauh sebelum dilengkapi sensor, sistem navigasi hingga kecerdasan buatan (AI), gagasan mengendalikan kendaraan tanpa manusia di dalamnya sudah muncul sejak akhir abad ke-19.

Salah satu tonggak awalnya terjadi pada 1898. Nikola Tesla memperkenalkan kapal torpedo sepanjang empat kaki yang dapat dikendalikan menggunakan gelombang radio dalam sebuah konferensi pers di New York, Amerika Serikat.

Eksperimen tersebut menunjukkan kendaraan dapat dikendalikan dari jarak jauh tanpa manusia berada di dalamnya. 

Konsep kendali radio kemudian ikut berkembang dalam dunia penerbangan.

Roger D. Connor, kurator di Departemen Aeronautika Museum Dirgantara Nasional, menjelaskan perkembangan penerbangan tanpa awak berjalan beriringan dengan kemajuan teknologi radio. 

Perpaduan keduanya membuka kemungkinan pesawat diterbangkan tanpa pilot berada di kokpit.

Namun, kendali jarak jauh saja belum cukup. Pesawat juga membutuhkan teknologi yang dapat mempertahankan kestabilannya selama berada di udara.

Pada 1913, penemu Amerika Serikat Elmer Sperry bersama putranya, Lawrence Sperry, dengan dukungan Angkatan Laut AS mengembangkan penstabil giroskopik otomatis. 

Teknologi ini memungkinkan pesawat mempertahankan penerbangan dengan lebih stabil tanpa harus terus-menerus dikendalikan pilot.

Kebutuhan militer kemudian menjadi salah satu pendorong perkembangan awal pesawat tanpa awak. 

Teknologi tersebut menawarkan kemungkinan menjalankan misi berisiko tanpa menempatkan pilot langsung di dalam pesawat.

Pada 1917, insinyur Inggris Archibald Low mengembangkan Aerial Target, pesawat yang dirancang untuk dikendalikan melalui radio dan menjadi salah satu eksperimen awal pesawat tanpa awak untuk kebutuhan militer.

Setahun kemudian, Amerika Serikat mengembangkan Kettering Bug. Pesawat kecil tanpa pilot tersebut menggunakan giroskop, barometer, dan mekanisme otomatis untuk mengatur penerbangannya.

Kettering Bug memang tidak pernah digunakan dalam pertempuran. 

Namun, proyek tersebut menunjukkan pesawat dapat menjalankan penerbangan berdasarkan mekanisme yang telah ditentukan sebelumnya, sebuah konsep yang kemudian terus berkembang dalam teknologi penerbangan tanpa awak.

Memasuki dekade 1930-an, Inggris mengembangkan Queen Bee sebagai pesawat target yang dikendalikan melalui radio. 

Amerika Serikat kemudian memproduksi Radioplane OQ-2 secara massal untuk kebutuhan latihan militer.

Peran pesawat tanpa awak selanjutnya tidak lagi terbatas sebagai sasaran latihan.

Pada 1950-an dan 1960-an, pesawat tanpa awak mulai dibekali kamera serta berbagai sensor untuk menjalankan misi pengintaian. 

Salah satu contohnya adalah AQM-34 Firebee yang digunakan dalam berbagai misi pengawasan selama Perang Vietnam.

Kemajuan teknologi selanjutnya memungkinkan pesawat tanpa awak terbang lebih lama, membawa lebih banyak sensor, dan mengirimkan informasi dari jarak jauh.

Perubahan tersebut antara lain terlihat pada RQ-1 Predator yang melakukan penerbangan pertamanya pada 1994. 

Pesawat tanpa awak ini dirancang untuk menjalankan misi pengintaian dalam durasi panjang.

Perkembangan kemudian berlanjut dengan RQ-4 Global Hawk. Berdasarkan bahan yang tersedia, pesawat tersebut hadir pada 1995 dengan kemampuan terbang hingga ketinggian 65.000 kaki selama lebih dari 32 jam.

Kemampuan membawa berbagai sensor memungkinkan pesawat tanpa awak mengumpulkan data dari wilayah yang luas. 

Pada tahap ini, teknologi drone tidak lagi hanya berkutat pada pertanyaan apakah sebuah pesawat dapat diterbangkan tanpa pilot, tetapi juga seberapa lama dan seberapa jauh pesawat itu dapat menjalankan misinya.

Memasuki era modern, perkembangan drone semakin kompleks. Kemajuan tidak hanya terjadi pada kemampuan terbang dan membawa sensor, tetapi juga sistem navigasi, komunikasi, otomatisasi, serta pemrosesan data.

Drone secara bertahap dikembangkan agar mampu menjalankan semakin banyak fungsi dengan keterlibatan manusia yang lebih sedikit.

Perkembangan tersebut berlanjut hingga 2026. Federal Aviation Administration (FAA) mencatat industri drone bergerak menuju otomatisasi yang semakin tinggi, termasuk pemanfaatan AI dan sistem kesadaran situasional elektronik untuk membantu operasi pesawat tanpa awak di ruang udara.

Salah satu perkembangan penting lainnya adalah penerbangan Beyond Visual Line of Sight atau BVLOS.

BVLOS memungkinkan operasi drone dilakukan ketika pesawat tidak selalu berada dalam jangkauan pandangan langsung operator. 

Pengembangan kemampuan ini menjadi salah satu bagian penting dalam perluasan pemanfaatan drone.

Perjalanannya pun semakin jauh dari eksperimen kendali radio pada penghujung 1800-an. 

Drone modern kini menggabungkan sistem navigasi, sensor, komunikasi, pemrosesan data, dan otomatisasi untuk menjalankan operasi yang semakin kompleks.

×
back to top