AI Bikin Serangan Siber Makin Cepat, 52 Persen Ancaman Serius Terlambat Terdeteksi
Sebanyak 52 persen pelanggaran siber serius baru terdeteksi setelah 90 hari. Kolaborasi AI dan manusia dinilai menjadi kunci pertahanan.
Ilusrasi serangan siber. dok: Kaspersky
Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) membuat serangan siber semakin cepat dan sulit dideteksi. Kaspersky mencatat 52 persen pelanggaran keamanan dengan tingkat keparahan tinggi baru ditemukan setelah lebih dari 90 hari berada dalam sistem tanpa terdeteksi.
Temuan tersebut berasal dari analisis terbaru divisi Kaspersky Compromise Assessment. Secara keseluruhan, pada 31 persen insiden yang dianalisis, aktivitas berbahaya telah berlangsung di dalam organisasi selama lebih dari tiga bulan.
Bahkan, kasus terlama yang ditemukan sepanjang tahun lalu tercatat tidak terdeteksi hingga empat tahun.
Managing Director Kaspersky untuk Asia Pasifik Adrian Hia mengatakan perkembangan AI dan semakin terhubungnya sistem teknologi informasi (TI) dengan teknologi operasional (OT) turut memperbesar titik buta yang harus dihadapi tim keamanan perusahaan.
- Waspada Penipuan Tiket BTS Arirang 2026, Kaspersky Temukan Situs Palsu Incar Penggemar
- Kaspersky Ungkap Strategi Aman Mengelola Agen AI di Organisasi
- Riset Kaspersky: 83 Persen Pebelanja Online Indonesia Andalkan Insting Sendiri Hadapi Penipuan Digital
- Kaspersky Perkuat Pertahanan Siber dengan Modul External Attack Surface Terbaru
“Seiring kecepatan dan konektivitas membentuk kembali lanskap perusahaan dan organisasi modern di kawasan ini, yang terutama didorong oleh AI dan aplikasinya, tim keamanan menghadapi titik buta yang semakin besar di seluruh lingkungan TI dan OT. Akibatnya, keamanan siber saat ini bukan lagi hanya perlombaan melawan waktu. Ini adalah perlombaan melawan ketidakjelasan,” kata Hia.
Kaspersky melihat sedikitnya tiga tren besar yang perlu diwaspadai organisasi, yakni serangan dengan bantuan AI, sabotase siber terhadap infrastruktur yang menghubungkan sistem TI dan OT, serta aktivitas spionase siber yang semakin canggih.
Sepanjang tahun lalu, Kaspersky mendeteksi dan memblokir sekitar 500.000 file berbahaya unik setiap hari. Jumlah tersebut meningkat 7 persen dibandingkan 2024.
Ancaman juga mulai merambah semakin jauh ke aktivitas fisik perusahaan. Hia mencontohkan serangan siber terhadap Nichirei Corp yang mengganggu jaringan logistik perusahaan tersebut.
Di India, sektor manufaktur juga menjadi salah satu sasaran ransomware industri dengan serangan yang dapat mengganggu operasional pabrik dan layanan TI industri.
Meningkatnya penggunaan agen AI turut menciptakan risiko baru dalam rantai pasok teknologi. Kaspersky mengidentifikasi lebih dari 15.000 sampel malware yang menyamar sebagai perangkat lunak agen AI sepanjang tahun ini.
Risikonya semakin besar karena agen AI dapat bergantung pada berbagai kerangka kerja pihak ketiga, API, hingga plugin.
Jika salah satu komponen dalam rantai tersebut berhasil disusupi, dampaknya berpotensi menjalar ke sistem lain yang bergantung padanya.
“Agen AI memperkenalkan lapisan rantai pasokan baru—tahun ini saja, Kaspersky telah mengidentifikasi lebih dari 15.000 sampel malware yang menyamar sebagai perangkat lunak AI agen,” ujar Hia.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat organisasi tidak cukup hanya memikirkan bagaimana menghentikan serangan. Perusahaan juga perlu mengetahui seberapa jauh mereka mampu melihat aktivitas yang berlangsung di seluruh sistem dan ekosistem bisnisnya.
Temuan mengenai lamanya ancaman bersembunyi di dalam jaringan sekaligus menunjukkan investasi teknologi keamanan belum tentu cukup apabila tidak disertai pemantauan berkelanjutan, kemampuan deteksi, dan kesiapan operasional.
Kaspersky menilai Security Operations Center (SOC) yang terintegrasi menjadi semakin penting. SOC memungkinkan organisasi menggabungkan pemantauan, teknologi, analisis, dan tenaga ahli untuk memperpendek waktu antara masuknya ancaman dengan proses pendeteksian.
“Ketika organisasi mengandalkan praktik keamanan reaktif atau kurangnya pemantauan berkelanjutan, penyerang mendapatkan waktu berharga untuk bergerak secara lateral, meningkatkan hak akses, dan membahayakan aset penting,” kata Hia.
Di tengah meningkatnya penggunaan AI oleh penjahat siber, Kaspersky menilai teknologi yang sama juga perlu dimanfaatkan untuk memperkuat pertahanan. Namun, AI tidak diposisikan sebagai pengganti tenaga ahli keamanan siber.
Kaspersky menyebut pendekatan yang menggabungkan AI dengan kemampuan manusia tersebut sebagai HuMachine Intelligence atau kecerdasan manusia-mesin.
Menurut Kaspersky, pendekatan itu telah dikembangkan selama lebih dari dua dekade. Sejak 2004, Kaspersky membangun model machine learning yang dilatih menggunakan telemetri global anonim dari jutaan endpoint untuk membantu mendeteksi ancaman.
“AI bukanlah tambahan di Kaspersky. Selama 20 tahun terakhir, AI telah tertanam di seluruh lapisan teknologi kami, memungkinkan deteksi lebih cepat, otomatisasi lebih cerdas, dan perlindungan yang lebih konsisten,” jelas Hia.
Ia menilai masa depan keamanan siber akan semakin bergantung pada kolaborasi antara kecerdasan buatan dan kemampuan manusia, terutama ketika pola serangan terus berubah dan volume data keamanan semakin besar.
“Kami selalu percaya bahwa seiring dengan terus berkembangnya ancaman siber, masa depan keamanan siber terletak pada kolaborasi antara AI dan keahlian manusia. Ini bukan hal terpisah—ini adalah Kecerdasan Manusia-Mesin, seperti yang kami sebut,” katanya.
Kaspersky menerapkan pendekatan tersebut melalui sejumlah solusi keamanan, termasuk Kaspersky Next yang menggabungkan perlindungan real-time dengan kemampuan Endpoint Detection and Response (EDR) dan Extended Detection and Response (XDR).
Model AI generatif di dalam platform tersebut digunakan untuk mengubah data keamanan mentah menjadi informasi terstruktur yang dapat ditindaklanjuti tim keamanan.
Pendekatan itu ditujukan untuk mengurangi pekerjaan manual sekaligus membantu organisasi menghadapi keterbatasan tenaga ahli keamanan siber.
Selain teknologi, Kaspersky menyediakan layanan seperti Kaspersky Compromise Assessment, Managed Detection and Response (MDR), Incident Response, serta SOC Consulting untuk mendukung organisasi mulai dari identifikasi ancaman, penanganan insiden, hingga pembangunan dan pengembangan SOC.









