×
Kanal
    • partner tek.id realme
    • partner tek.id samsung
    • partner tek.id acer
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd

Kaspersky Temukan 92.000 Serangan Menyamar Jadi Layanan AI, ChatGPT Paling Banyak Dicatut

Oleh: Tek ID - Kamis, 20 Agustus 2026 10:20

Kaspersky menemukan 92.000 serangan menyamar sebagai layanan AI dan 15.000 malware berkedok perangkat lunak agentic AI.

Kaspersky Temukan 92.000 Serangan Menyamar Jadi Layanan AI Ilustrasi serangan siber menggunakan agen AI palsu. dok. Magnifric

Popularitas kecerdasan buatan (AI) mulai dimanfaatkan penjahat siber untuk mencari korban. Kaspersky menemukan 92.000 serangan berbahaya yang menyamar sebagai layanan AI, dengan hampir separuhnya mencatut ChatGPT.

Berdasarkan temuan Global Research and Analysis Team (GReAT) Kaspersky, sebanyak 49 persen serangan tersebut menyamar sebagai aplikasi ChatGPT. Sementara Claude dan Gemini masing-masing dicatut dalam 18 persen serangan.

Temuan tersebut menunjukkan munculnya risiko baru di tengah semakin luasnya penggunaan AI. Penjahat siber tidak selalu harus mengeksploitasi kelemahan teknis sebuah model AI, tetapi dapat memanfaatkan kepercayaan pengguna terhadap aplikasi maupun layanan yang sudah dikenal.

Peneliti keamanan GReAT Kaspersky Sojun Ryu mengatakan perkembangan AI telah bergerak dari teknologi untuk menghasilkan dan merangkum konten menuju copilot yang terintegrasi dalam alur kerja. 

Kini, industri memasuki era agen AI yang dapat membuat perencanaan, menggunakan perangkat, memanggil API, hingga menjalankan tindakan secara otonom.

“Meski manusia tetap dilibatkan untuk memverifikasi setiap tahap pengembangan berbasis AI, kita melihat semakin banyak insiden di mana verifikasi sering kali diabaikan demi memaksimalkan produktivitas. Ketika kecepatan melampaui verifikasi, kecepatan tersebut justru dapat memperbesar risiko,” kata Ryu.

Ancaman tidak berhenti pada pencatutan nama layanan AI populer. Peneliti Kaspersky juga mengidentifikasi lebih dari 15.000 sampel malware yang menyamar sebagai perangkat lunak agentic AI.

Malware tersebut mencakup trojan, spyware, exploit, downloader, dropper, hingga backdoor. Menjalankan aplikasi palsu tersebut berpotensi membuka jalan bagi penyerang untuk mencuri informasi internal maupun membangun akses kendali jarak jauh terhadap perangkat korban.

Risiko tersebut menjadi semakin besar karena aplikasi AI kini terintegrasi lebih dalam dengan lingkungan kerja dan pengembangan perangkat lunak. 

Agen AI bahkan dapat memiliki kemampuan mengakses perangkat maupun berinteraksi dengan API sehingga verifikasi terhadap perangkat lunak yang digunakan menjadi semakin penting.

Kaspersky turut menyoroti ketergantungan pengembangan AI terhadap perangkat lunak open-source. 

Menurut Ryu, kondisi tersebut menjadikan rantai pasok perangkat lunak sebagai salah satu sasaran potensial bagi penyerang.

“Kenyataannya adalah pengembang membutuhkan open source. AI membutuhkan open source. Dan para penyerang sangat memahami hal ini; itulah sebabnya serangan rantai pasok perangkat lunak yang menargetkan paket open source tetap menjadi salah satu ancaman paling signifikan,” ujarnya.

Menurut Kaspersky, sedikitnya 10 kampanye serangan berskala besar telah terpantau sejak pertengahan tahun lalu pada berbagai ekosistem open-source, terutama npm dan PyPI.

Salah satu kasus yang disoroti adalah serangan rantai pasok terhadap Axios pada Maret 2026. Pustaka JavaScript tersebut disebut memiliki lebih dari 100 juta unduhan setiap pekan dan digunakan oleh lebih dari 170.000 paket perangkat lunak.

Penyerang membobol komputer pengelola utama sebelum memperoleh akses terhadap akun npm proyek dan merilis versi pustaka yang telah disusupi kode berbahaya.

Versi tersebut hanya tersedia sekitar tiga jam, tetapi telah diunduh oleh ratusan perangkat. Kasus ini memperlihatkan bagaimana kompromi terhadap satu komponen open-source tepercaya dapat merambat dengan cepat ke rantai pasok perangkat lunak yang lebih luas.

“Berdasarkan survei kami tahun lalu, 31 persen perusahaan enterprise pernah terdampak oleh serangan rantai pasok. Hal ini mencerminkan betapa dalamnya integrasi perangkat lunak open source dalam lingkungan pengembangan perusahaan,” kata Ryu.

Menurut dia, ekosistem open-source diperkirakan tetap menjadi salah satu sasaran utama karena dapat menjadi pintu masuk untuk menyusup dan memperoleh informasi penting perusahaan.

Menghadapi risiko tersebut, Kaspersky menilai perusahaan perlu membangun zona pengembangan tepercaya yang dapat memisahkan konten eksternal dari aset pengembangan internal. 

Perlindungan tidak hanya diterapkan pada Integrated Development Environment (IDE), tetapi juga ekstensi, ruang kerja, dan izin yang dimiliki agen AI.

Perusahaan juga perlu mengendalikan jalur masuk perangkat lunak ke lingkungan kerja sekaligus mempertahankan visibilitas terhadap aktivitas yang berlangsung. 

Pendekatan tersebut diperlukan agar peningkatan keamanan tidak justru menambah proses persetujuan yang menghambat produktivitas.

Kaspersky mengatakan tim GReAT memantau perangkat lunak sumber terbuka dan menyediakan informasi yang dapat menandai komponen rentan maupun berbahaya. 

Audit terhadap alur kerja GitHub Actions menggunakan Kaspersky Container Security juga menemukan lebih dari 250.000 potensi kesalahan konfigurasi pada proses continuous integration/continuous delivery (CI/CD).

Temuan tersebut memperlihatkan tantangan keamanan AI tidak hanya muncul ketika sebuah aplikasi telah digunakan, tetapi juga selama proses pengembangan perangkat lunak.

“Ketika kepercayaan diverifikasi sebelum eksekusi, organisasi justru bergerak lebih cepat, bukan lebih lambat. Yang terpenting, keamanan akan gagal jika kita lebih mengutamakan kecepatan dibandingkan perlindungan serta visibilitas,” ujar Ryu.

×
back to top