×
Kanal
    • partner tek.id realme
    • partner tek.id samsung
    • partner tek.id acer
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd

Indonesia Hadapi 108 Ribu Ancaman Siber per Hari, Keterampilan Analitis Jadi Tantangan

Oleh: Tek ID - Rabu, 04 November 2026 17:15

Kaspersky mendeteksi 39,7 juta ancaman lokal di Indonesia pada 2025, setara 108 ribu per hari, saat keterampilan tenaga siber masih timpang.

Indonesia Hadapi 108 Ribu Ancaman Siber per Hari Ilustrasi keamanan siber. dok. F5

Ancaman keamanan siber di Indonesia masih menjadi persoalan serius. Kaspersky mendeteksi hampir 40 juta insiden ancaman lokal pada perangkat komputer di Indonesia sepanjang 2025, atau rata-rata lebih dari 108 ribu deteksi setiap hari.

Di tengah tingginya ancaman tersebut, kemampuan tenaga profesional keamanan siber di kawasan Asia-Pasifik, termasuk Indonesia, dinilai masih menghadapi kesenjangan keterampilan teknis maupun nonteknis.

Berdasarkan data Kaspersky, sebanyak 39.718.903 insiden ancaman lokal terdeteksi pada komputer pengguna yang berpartisipasi dalam Kaspersky Security Network (KSN) di Indonesia selama Januari hingga Desember 2025.

Ancaman lokal tersebut antara lain berkaitan dengan perangkat penyimpanan yang dapat dilepas, seperti flashdisk dan media eksternal lainnya. 

Temuan ini memperlihatkan pentingnya pengamanan perangkat sekaligus kebiasaan digital pengguna dalam mencegah risiko keamanan.

Sementara itu, data Kaspersky mengenai tenaga profesional keamanan siber di Asia-Pasifik menunjukkan kesenjangan terbesar pada keterampilan pemrograman sistem, dengan persentase mencapai 62 persen.

Kekurangan keterampilan lainnya meliputi pemahaman kerangka kerja atau framework sebesar 61 persen dan teknologi jaringan sebesar 46 persen.

Persoalan serupa juga ditemukan pada kemampuan nonteknis. Sebanyak 48 persen responden menunjukkan kesenjangan dalam kemampuan berpikir analitis, disusul pemecahan masalah sebesar 43 persen dan kerja sama tim sebesar 41 persen.

Kaspersky menemukan 48 persen profesional keamanan siber di Asia-Pasifik mengaku pernah melakukan kesalahan pada awal karier akibat kurangnya pengetahuan.

Kesalahan yang paling sering dilaporkan mencakup pengabaian pencadangan data dan penggunaan langkah pengamanan yang sudah usang, masing-masing sebesar 43 persen.

Selain itu, sebanyak 36 persen responden mengaku pernah gagal menerapkan perlindungan identitas.

Temuan tersebut menunjukkan penguasaan teori saja belum cukup untuk menghadapi ancaman keamanan digital yang terus berkembang.

Bahkan, sebanyak 25 persen responden di Asia-Pasifik menilai pendidikan formal yang mereka tempuh hanya sedikit membantu atau sama sekali tidak berguna dalam menjalankan pekerjaan sehari-hari sebagai profesional keamanan siber.

Managing Director Kaspersky untuk Asia-Pasifik Adrian Hia mengatakan pengembangan tenaga keamanan siber perlu menyeimbangkan kemampuan teknis dengan keterampilan analitis dan pemecahan masalah.

"Kawasan ini membutuhkan para profesional yang mampu memadukan kedalaman teknis dengan kemampuan analitis dan pemecahan masalah yang kuat. Hal ini memerlukan panduan yang terstruktur dan praktis, bukan sekadar pengalaman kerja di lapangan," ujar Adrian.

Di sisi lain, kesadaran perusahaan terhadap pentingnya keamanan digital terus meningkat.

Survei global Kaspersky menunjukkan 81 persen organisasi di Asia-Pasifik telah meningkatkan anggaran keamanan teknologi informasi (TI).

Vietnam mencatat persentase tertinggi sebesar 94 persen, diikuti Indonesia sebesar 87 persen. Sementara itu, Malaysia dan India masing-masing mencatat 83 persen.

Meski demikian, peningkatan anggaran belum otomatis menyelesaikan persoalan kekurangan keterampilan tenaga profesional keamanan siber.

Perusahaan juga membutuhkan sumber daya manusia yang mampu mengoperasikan teknologi perlindungan, menganalisis ancaman, dan mengambil tindakan ketika terjadi insiden keamanan.

Tanpa kemampuan tersebut, investasi pada perangkat maupun sistem keamanan berisiko tidak dimanfaatkan secara optimal.

Untuk membantu menjawab kesenjangan keterampilan tersebut, Kaspersky memperkenalkan Cyber Pathways, platform panduan karier dan pembelajaran di bidang keamanan siber.

Platform ini dirancang untuk membantu pengguna memahami berbagai profesi keamanan siber, menilai kemampuan yang telah dimiliki, serta menentukan keterampilan yang perlu dikembangkan.

Melalui fitur Kaspersky Cyber Heroes, pengguna dapat mengenal enam bidang utama keamanan siber, yaitu intelijen ancaman, analisis malware, operasi keamanan, penilaian keamanan, keamanan jaringan, dan penelitian keamanan informasi.

Cyber Pathways juga menyediakan tes panduan karier interaktif untuk membantu pengguna mengidentifikasi bidang yang sesuai dengan kemampuan dan minat mereka.

Terdapat tiga kategori tes yang ditujukan bagi pemula, profesional berpengalaman, dan organisasi.

Hasil penilaian tersebut kemudian dapat digunakan sebagai dasar rekomendasi pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna.

Materi pembelajaran yang ditawarkan mencakup program pelatihan praktis dari Kaspersky Cybersecurity Training dan Kaspersky Academy.

Bagi perusahaan, tersedia pula sumber daya dari Kaspersky Security Awareness yang ditujukan untuk meningkatkan kesadaran keamanan digital di lingkungan kerja.

Adrian mengatakan platform tersebut diharapkan dapat membantu profesional keamanan siber memahami posisi dan arah pengembangan karier mereka.

"Platform ini memberikan peta yang lebih jelas bagi para profesional mengenai posisi mereka saat ini dan arah pengembangan karier yang perlu ditempuh," katanya.

×
back to top