×
Kanal
    • partner tek.id realme
    • partner tek.id samsung
    • partner tek.id acer
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd

92% UMKM di Indonesia Alami Insiden Siber, Phishing hingga Malware Jadi Ancaman

Oleh: Tek ID - Senin, 14 September 2026 09:30

Survei Kaspersky mencatat 92% UMKM di Indonesia mengalami insiden siber dalam setahun terakhir, dari phishing hingga serangan malware.

92% UMKM di Indonesia Alami Insiden Siber Ilustrasi serangan siber. dok. Freepik

Ancaman siber terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) semakin sulit dipandang sebelah mata. 

Survei Kaspersky menemukan 92% perusahaan berskala kecil dan menengah yang disurvei di Indonesia mengalami insiden keamanan siber dalam setahun terakhir.

Angka tersebut termasuk tinggi dibandingkan sejumlah negara Asia Pasifik yang tercakup dalam survei. 

Vietnam mencatat tingkat insiden sebesar 97%, disusul Malaysia 95%, Indonesia 92%, dan India 87%. Sementara Thailand berada di level 82% dan China 67%.

Secara keseluruhan, hanya 13% perusahaan dengan kurang dari 500 karyawan yang disurvei di kawasan Asia Pasifik dilaporkan tidak mengalami insiden siber selama periode tersebut.

Temuan itu menunjukkan perusahaan berskala lebih kecil tidak otomatis luput dari perhatian pelaku kejahatan siber. 

Digitalisasi bisnis dan semakin mudahnya akses terhadap teknologi untuk melancarkan serangan membuat ancaman yang sebelumnya identik dengan perusahaan besar kini juga dapat menyasar bisnis yang sedang berkembang.

Survei Kaspersky terhadap spesialis keamanan siber menemukan organisasi di Asia Pasifik rata-rata menghadapi tiga jenis insiden keamanan berbeda dalam setahun terakhir.

Pada kelompok UMKM, eksploitasi kerentanan perangkat lunak menjadi jenis serangan yang paling banyak dilaporkan dengan persentase 20%. 

Ancaman berikutnya adalah phishing sebesar 19% dan serangan malware massal 18%.

Eksploitasi kerentanan zero-day berada di posisi lebih rendah, tetapi tetap dilaporkan oleh 6% organisasi yang disurvei.

Persoalan yang dihadapi UMKM tidak hanya berasal dari teknologi. Ketika diminta menentukan faktor yang meningkatkan risiko keberhasilan serangan siber, dua faktor teratas yang dipilih responden di Asia Pasifik berkaitan dengan sumber daya manusia.

Sebanyak 26% responden UMKM menyoroti rendahnya kesadaran keamanan di kalangan karyawan non-TI, sementara 24% menyebut kurangnya keahlian staf keamanan TI.

Faktor lainnya adalah penggunaan perangkat lunak atau perangkat keras usang sebesar 23%, kurangnya penilaian risiko secara berkala 22%, serta tidak adanya solusi keamanan yang memadai sebesar 22%.

Managing Director Asia Pasifik Kaspersky Adrian Hia mengatakan UMKM saat ini tidak lagi dapat dianggap hanya sebagai target sekunder dalam lanskap ancaman siber.

“UMKM di seluruh wilayah Asia Pasifik kini bukan lagi sekadar korban tambahan atau target sekunder. Survei kami menunjukkan bahwa mereka menjadi sasaran utama pelaku ancaman modern yang menggunakan taktik tingkat perusahaan yang sama persis,” kata Hia.

Menurut dia, peningkatan anggaran keamanan siber yang dilakukan banyak UMKM menunjukkan pemimpin bisnis mulai memahami besarnya risiko tersebut.

Survei juga menemukan adanya respons dari perusahaan terhadap meningkatnya ancaman. 

Sebanyak 75% perusahaan di Asia Pasifik berencana memperkuat fungsi keamanan TI mereka, sedangkan 78% UMKM disebut telah meningkatkan anggaran keamanan siber pada tahun ini.

Hampir separuh atau 48% mengalokasikan dana tambahan untuk memperbesar tim TI dan keamanan TI. 

Sementara 32% menggunakannya untuk beralih ke teknologi keamanan yang lebih maju seperti Extended Detection and Response (XDR), Network Detection and Response (NDR), dan Security Information and Event Management (SIEM).

Head of Unified Platform Product Line Kaspersky Ilya Markelov mengatakan perusahaan yang sedang tumbuh kerap menghadapi persoalan keterbatasan anggaran dan kelangkaan tenaga keamanan informasi.

“Kenyataan saat ini, di mana perusahaan dari berbagai skala dapat menjadi sasaran berbagai metode serangan, mendorong dunia bisnis untuk meninjau kembali postur keamanan mereka,” ujar Markelov.

Menurut dia, sistem pertahanan yang terfragmentasi dapat menjadi persoalan ketika berhadapan dengan serangan yang semakin kompleks. 

Karena itu, teknologi keamanan untuk perusahaan berskala lebih kecil perlu mempertimbangkan keterbatasan sumber daya dan kemampuan tim yang mengoperasikannya.

Direktur Custom IT Maximiliano Allo turut menyoroti penggunaan kecerdasan buatan (AI) oleh pelaku serangan sebagai salah satu perkembangan yang perlu diperhatikan.

“Para penyerang semakin sering memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), yang memicu lonjakan volume maupun kompleksitas ancaman masa kini,” kata Allo.

Ia juga menilai perlindungan kredensial semakin penting karena informasi login dapat dimanfaatkan untuk menjalankan serangan terarah, mengganggu operasional bisnis, maupun mencuri data.

Kondisi tersebut membuat edukasi terhadap karyawan nonteknis menjadi salah satu bagian penting dalam pertahanan perusahaan. 

Karyawan perlu dibekali kemampuan mengenali phishing, deepfake, vishing, dan berbagai bentuk rekayasa sosial lainnya.

Kaspersky juga merekomendasikan perusahaan menerapkan aturan akses yang ketat terhadap sumber daya internal dan layanan cloud, segera mencabut akses mantan karyawan, serta menjalankan pencadangan data secara otomatis.

Perusahaan juga disarankan memperbarui perangkat lunak dan perangkat keras, melakukan penilaian risiko secara berkala, menggunakan autentikasi dan pengelolaan kredensial yang memadai, serta memilih sistem keamanan yang sesuai dengan skala, kebutuhan, dan kemampuan sumber daya perusahaan.

×
back to top