Binus Gandeng Microsoft, AI Kini Dampingi Mahasiswa dari Daftar Kuliah hingga Cari Kerja
Binus menghadirkan Student Journey AI berbasis Microsoft Azure untuk mempercepat pendaftaran, pembelajaran, referensi, dan layanan karier.
Student Journey AI Binus University. dok. Binus
Binus University memperluas pemanfaatan kecerdasan buatan melalui rangkaian solusi bertajuk Student Journey AI yang dibangun di atas platform Microsoft Azure.
Teknologi tersebut digunakan untuk mendukung berbagai tahapan layanan mahasiswa, mulai dari proses pendaftaran, pembelajaran, pencarian referensi akademik, hingga persiapan karier.
President of Binus Higher Education Stephen Wahyudi Santoso mengatakan penerapan AI tidak ditempatkan sekadar sebagai fitur tambahan, tetapi sebagai bagian dari ekosistem pendidikan yang mengikuti perjalanan mahasiswa sejak awal.
“Kami tidak ingin menghadirkan AI sekadar sebagai fitur teknologi, tetapi sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran yang mendampingi mahasiswa sejak proses awal pendaftaran, menjalani perkuliahan, mengakses pengetahuan, hingga mempersiapkan karier,” ujar Stephen.
- Cloudera: Fondasi Data Jadi Tantangan Utama Implementasi AI di Sektor Kesehatan
- Telkomsel dan Pertamina Patra Niaga Integrasikan AI Braze, Bidik Layanan Lebih Personal
- Open Source Dinilai Jadi Fondasi Kedaulatan AI Indonesia
- Studi: AI Mendorong Penemuan Produk, Kreator Tetap Berpengaruh pada Keputusan Belanja
Pada tahap pendaftaran, Binus menggunakan AI Face Recognition yang dilengkapi liveness detection dan face comparison.
Sistem tersebut digunakan untuk memverifikasi identitas mahasiswa melalui foto yang diambil secara real-time dari perangkat masing-masing.
Penerapan teknologi itu memangkas proses yang sebelumnya membutuhkan waktu sekitar 10 menit per mahasiswa menjadi kurang dari 3 detik.
AI juga diterapkan dalam proses pembelajaran, terutama untuk membantu dosen menangani forum diskusi daring yang melibatkan banyak mahasiswa.
Melalui AI Forum Summary berbasis Azure OpenAI, sistem dapat merangkum percakapan panjang menjadi sejumlah poin utama. Hasil ringkasan tetap dapat diedit dan diverifikasi dosen sebelum dipublikasikan.
Pendekatan tersebut menggunakan prinsip human-in-the-loop, yakni AI membantu mempercepat pekerjaan, sementara keputusan akhir tetap berada di tangan manusia.
Faculty Member Binus University Pandu Dwi Luhur Pambudi mengatakan AI digunakan untuk mengurangi pekerjaan rutin agar dosen dapat lebih fokus pada interaksi akademik dengan mahasiswa.
“Bagi saya, AI bukan pengganti dosen, tetapi alat yang membantu mengurangi beban pekerjaan rutin. Dengan begitu, kami dapat lebih fokus mendampingi mahasiswa, berdiskusi, dan menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna,” ujar Pandu.
Selain pembelajaran, Binus menggunakan Azure AI, Azure Machine Learning, dan Vector Database untuk membantu mahasiswa menemukan referensi seperti buku, jurnal, tesis, maupun artikel.
Sistem tersebut dirancang memahami konteks akademik pengguna, mulai dari jurusan, mata kuliah, hingga riwayat bacaan, kemudian memberikan rekomendasi koleksi yang dinilai paling relevan.
Layanan itu dirancang untuk melayani lebih dari 2.000 pengguna secara bersamaan.
Pemanfaatan AI juga diperluas ke tahap akhir perjalanan mahasiswa. Melalui AI-Driven Career Growth Recommendations berbasis Azure OpenAI GPT-4o-mini yang terintegrasi di platform Binnusmaya, mahasiswa dapat memperoleh rekomendasi pengembangan karier secara lebih luas.
Binus menilai teknologi tersebut dapat memperluas jangkauan layanan bimbingan karier yang sebelumnya lebih terbatas karena bergantung pada proses manual.
Dalam skema ini, peran career coach tetap dipertahankan sebagai mentor, bukan sekadar fungsi administratif.
Country General Manager Microsoft Indonesia Gunawan Susanto mengatakan penerapan AI di pendidikan perlu tetap berpusat pada kebutuhan manusia.
“Kolaborasi dengan BINUS menunjukkan bagaimana AI yang bertanggung jawab dapat menciptakan dampak nyata bagi pendidikan Indonesia. Ketika teknologi dirancang di sekitar kebutuhan manusia, hasilnya adalah pengalaman yang lebih baik bagi mahasiswa, dosen, dan seluruh komunitas kampus,” ujar Gunawan.
Menurut Microsoft, pendekatan yang berpusat pada manusia menjadi kunci agar AI dapat mempercepat layanan tanpa menghilangkan peran pendidik maupun pengambil keputusan.









