Pakai Kapal Listrik, Biaya Bahan Bakar Nelayan Bali Turun hingga 67 Persen
Kapal listrik memangkas biaya bahan bakar nelayan Desa Kelan, Bali, hingga 67% sekaligus membuka pendapatan baru dari wisata mangrove.
Kapal listrik yang diberikan PIS untuk nelayan Bali. dok. PIS
Pemanfaatan kapal listrik mulai memberikan dampak ekonomi bagi nelayan Desa Kelan, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali.
Pengeluaran bahan bakar yang sebelumnya mencapai sekitar Rp600.000 per bulan kini turun menjadi sekitar Rp200.000 atau berkurang hingga 67% setelah nelayan menggunakan kapal bertenaga listrik.
Teknologi tersebut digunakan melalui Program Desa Energi Berdikari (DEB) Keluarga Nelayan Lestari (KENALI) yang dijalankan PT Pertamina International Shipping (PIS) bersama masyarakat pesisir Desa Kelan.
PIS membangun ruang serbaguna untuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) Tanjung Sari yang dilengkapi panel surya berkapasitas 8,72 kilowatt peak (kWp).
- MIND ID Bangun Ekosistem Baterai Kendaraan Listrik di Karawang, Dorong RI Kuasai Rantai Pasok Global
- Industri Tekstil Mulai Beralih ke Truk Listrik, Efisiensi BBM Tembus 40% di Tengah Tekanan Energi
- Toyota Tsusho Uji Coba Truk Listrik Bersama KALISTA dan Nusatama, Dorong Logistik Rendah Karbon
- Microchip dan Hyundai Kembangkan 10BASE-T1S, Perkuat Fondasi Jaringan Kendaraan Listrik dan Otonom
Energi yang dihasilkan digunakan sebagai solar charging station untuk mengisi 10 baterai yang menopang operasional lima mesin kapal listrik.
Anggota KUB Tanjung Sari I Wayan Wirtha mengatakan penggunaan kapal listrik membantu menekan biaya operasional nelayan karena kebutuhan bahan bakar minyak berkurang.
“Selain mendapat tambahan penghasilan dari ecotrip, biaya operasional kami juga jauh lebih hemat. Dulu pengeluaran untuk bahan bakar bisa mencapai Rp600.000 per bulan, sekarang sekitar Rp200.000 saja sebagai cadangan,” ujar Wirtha.
Artinya, pengeluaran bahan bakar yang disebut Wirtha berkurang sekitar Rp400.000 per bulan atau 67%. Bahan bakar minyak masih disiapkan sebagai cadangan.
Penggunaan kapal listrik juga membuka peluang usaha lain di luar aktivitas melaut. Nelayan mulai mengembangkan wisata susur mangrove atau mangrove ecotrip di Desa Kelan.
Kawasan mangrove setempat merupakan habitat berbagai jenis burung. Sebelumnya, pemanfaatannya sebagai destinasi wisata terkendala suara mesin kapal konvensional yang berpotensi mengganggu satwa.
Kapal listrik yang memiliki tingkat kebisingan lebih rendah kemudian digunakan untuk membawa wisatawan menyusuri kawasan mangrove.
Dari kegiatan tersebut, nelayan disebut bisa memperoleh tambahan pendapatan hingga Rp350.000 untuk setiap perjalanan.
Dengan demikian, penggunaan kapal listrik tidak hanya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar dalam kegiatan nelayan, tetapi juga dimanfaatkan untuk mengembangkan sumber pendapatan baru berbasis ekowisata.
Program KENALI turut menyasar pengelolaan lingkungan pesisir. Bersama Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Desa Kelan, masyarakat telah mengelola 183 kilogram sampah rumah tangga yang sebelumnya berpotensi mencemari kawasan pesisir dan laut.
Pemberdayaan juga diperluas kepada keluarga nelayan. Para istri nelayan mendapatkan pelatihan literasi keuangan dan pendampingan usaha untuk mengelola pendapatan keluarga serta mengembangkan produk olahan hasil laut.
Salah seorang penerima manfaat, Luh, mengatakan pendampingan tersebut membantunya memahami pengembangan produk, termasuk dari sisi kemasan dan identitas usaha.
“Sekarang saya lebih memahami cara membuat kemasan yang menarik dan memperkuat identitas produk, sehingga usaha yang saya jalankan memiliki nilai jual yang lebih baik,” ujarnya.
Pjs. Corporate Secretary PIS Vega Pita mengatakan program tersebut dikembangkan dengan menghubungkan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir dan perlindungan lingkungan.
“PIS meyakini bahwa masa depan masyarakat pesisir dan kesehatan ekosistem laut saling berkaitan. Melalui akses energi yang lebih bersih dan pemberdayaan yang berkelanjutan, kami ingin mendukung masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan tanpa mengorbankan lingkungan yang menjadi sumber penghidupan mereka,” ujar Vega.
Melalui pemanfaatan panel surya dan kapal listrik, Program KENALI pada akhirnya mengembangkan dua manfaat sekaligus bagi masyarakat Desa Kelan.
Nelayan dapat menekan sebagian biaya operasional untuk melaut sekaligus memperoleh peluang pendapatan tambahan melalui wisata mangrove.
Model tersebut juga memperlihatkan cara penggunaan energi yang lebih bersih di kawasan pesisir dapat dikembangkan tidak hanya untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar, tetapi juga untuk mendukung kegiatan ekonomi yang memanfaatkan kelestarian ekosistem sebagai salah satu asetnya.









