Smart Hospital Jadi Keniscayaan, Potensi Efisiensi Energi Rumah Sakit hingga 20 Persen
Transformasi smart hospital di Indonesia dipercepat, dorong efisiensi energi hingga 20% dan peningkatan layanan pasien berbasis digital.
Diskusi mengenai smart hospital. dok. Schneider electric
Transformasi rumah sakit menuju konsep smart hospital kian mendesak di tengah meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan yang efisien, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Isu ini mengemuka dalam Healthcare Leadership Forum 2026 yang digelar Schneider Electric bersama Perkumpulan Teknik Pelayanan-Kesehatan Indonesia di Jakarta.
Forum ini menjadi ruang strategis bagi pelaku industri kesehatan untuk membahas percepatan transformasi rumah sakit berbasis digital, sekaligus menjawab tantangan operasional yang semakin kompleks.
Di tengah dorongan pemerintah terhadap digitalisasi layanan kesehatan, rumah sakit dituntut beradaptasi tidak hanya dari sisi teknologi, tetapi juga efisiensi dan keberlanjutan.
- Kingston Perkuat Solusi Memori untuk Industri, Dukung Lonjakan Smart Infrastructure dan IoT di Indonesia
- F5 Perkuat Platform Keamanan dan Aplikasi, Dorong Adopsi AI Lebih Aman di Tengah Kompleksitas IT
- Tanda Tangan Digital di Privy Melesat 250%, Literasi Penggunaannya Terus Ditingkatkan
- Cloudflare Dorong Era Agen AI, Siapkan Infrastruktur untuk Jutaan ‘Pekerja Digital’ Otonom
Salah satu tantangan utama adalah tingginya konsumsi energi. Sebagai fasilitas yang beroperasi 24 jam, rumah sakit dapat mengonsumsi energi hingga 2,5 kali lebih besar dibandingkan gedung komersial pada umumnya.
Kondisi ini menempatkan efisiensi energi sebagai prioritas utama dalam transformasi sektor kesehatan.
President Director Schneider Electric Indonesia & Timor Leste, Martin Setiawan mengatakan transformasi rumah sakit harus dilakukan secara menyeluruh.
“Transformasi rumah sakit saat ini tidak hanya berbicara tentang digitalisasi, tetapi juga memastikan efisiensi energi, keandalan operasional, dan keberlanjutan dalam jangka panjang,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendekatan terintegrasi melalui elektrifikasi, otomasi, dan digitalisasi menjadi kunci untuk meningkatkan visibilitas operasional sekaligus memperkuat ketahanan infrastruktur rumah sakit.
Dalam diskusi panel, sejumlah persoalan mendasar sektor kesehatan juga disorot, mulai dari tingginya biaya operasional, kebutuhan peningkatan pengalaman pasien, hingga sistem informasi yang masih terfragmentasi.
Presiden PTPI Eko Supriyanto menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendorong perubahan tersebut.
“Transformasi menuju smart hospital membutuhkan sinergi yang kuat antara regulasi, sistem, pembiayaan, dan sumber daya manusia,” katanya.
Ia menilai, pendekatan yang terstandardisasi akan membantu rumah sakit meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga keberlanjutan layanan dan keterjangkauan bagi masyarakat.
Sejumlah praktik di lapangan menunjukkan transformasi ini bukan sekadar konsep. RS Kanker Dharmais, misalnya, telah mengembangkan sistem informasi terintegrasi dan memanfaatkan building automation system (BAS) untuk meningkatkan efisiensi operasional serta pengambilan keputusan berbasis data.
Sementara itu, Yayasan Telogorejo mencatat integrasi sistem digital mampu meningkatkan efisiensi energi lebih dari 15 persen, sekaligus memperkuat visibilitas operasional secara real-time dan menjaga keandalan layanan 24 jam.
Sebagai solusi, Schneider Electric menghadirkan platform EcoStruxure for Healthcare yang dirancang untuk mendukung transformasi rumah sakit secara menyeluruh.
Teknologi ini mencakup pengelolaan energi kritikal, pemeliharaan aset berbasis data, keamanan sistem terintegrasi, hingga digitalisasi siklus operasional rumah sakit.
Secara global, pendekatan ini telah terbukti mampu menekan konsumsi energi hingga 20 persen sekaligus meningkatkan efisiensi operasional melalui pemanfaatan data dan analitik secara real-time.









