Dari Nusa Penida ke Dunia, Brigitta Gunawan Bawa Misi Selamatkan Terumbu Karang Lewat Teknologi
Kisah Brigitta Gunawan, aktivis muda Indonesia yang selamatkan terumbu karang lewat teknologi dan edukasi hingga menjangkau dunia.
Platfrom Diverseas yang digunakan Brigitta Gunawan untuk edukasi soal terumbu karang. dok. Samsung
Nama Brigitta Gunawan mungkin belum setenar aktivis lingkungan global, namun langkahnya dalam menjaga ekosistem laut mulai menarik perhatian dunia.
Berawal dari pengalaman sederhana saat snorkeling di perairan Nusa Penida, Brigitta justru menemukan panggilan hidupnya, yaitu menyelamatkan terumbu karang.
Kini, ia menjadi bagian dari Generation17, sebuah kolaborasi antara Samsung dan United Nations Development Programme yang mendukung generasi muda dalam mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Perjalanan Brigitta tidak dimulai dari latar belakang kelautan. Ia tumbuh di Jakarta, jauh dari laut. Namun, pengalaman melihat langsung keindahan bawah laut Nusa Penida menjadi titik balik yang mengubah cara pandangnya terhadap alam.
- Usung Awesome Intelligence, Samsung Dorong Gaya Hidup Berbasis AI di Galaxy A57 dan Galaxy A37 5G
- Samsung Galaxy A57 5G dan A37 5G Resmi Dijual, Simak Fitur Unggulannya
- Samsung Buka Solve for Tomorrow 2026, Tantang Anak Muda Ciptakan Solusi Teknologi untuk Masalah Nyata
- Samsung Galaxy A37 5G Andalkan Nightography dan AI, Bidik Generasi Konten Kreator Seharian
“Sebagian besar orang tidak akan pernah mengalami hal ini,” katanya, mengenang momen tersebut.
Kesadaran itu semakin kuat setelah melihat ancaman nyata terhadap ekosistem laut. Data dari UN Environment Programme menyebutkan hingga 90% terumbu karang dunia berpotensi hilang pada 2050 akibat pemanasan laut, polusi, dan penangkapan ikan berlebih.
Lebih dari satu miliar orang di dunia juga bergantung pada laut untuk mata pencaharian mereka.
Berangkat dari kegelisahan tersebut, Brigitta memulai gerakan 30x30 Indonesia pada 2021, saat usianya baru 17 tahun.
Gerakan ini mengusung target global untuk melindungi 30% lautan pada 2030. Awalnya sederhana—hanya kampanye media sosial berbasis tagar, namun dalam sebulan mampu mengumpulkan lebih dari 400 dukungan dari berbagai komunitas.
“Saya sama sekali tidak memiliki pengalaman. Saya hanya menikmati prosesnya dan perlahan membangun apa yang kini ada,” ujarnya.
Gerakan ini kemudian berkembang menjadi aksi nyata di lapangan. Bersama komunitas lokal di Bali, Brigitta ikut membangun taman karang buatan untuk membantu pemulihan ekosistem. Hingga kini, lebih dari 1.400 fragmen karang telah ditanam dengan tingkat keberhasilan mencapai 86%.
Namun, tantangan terbesar menurutnya bukan hanya soal restorasi, melainkan bagaimana membuat masyarakat peduli terhadap laut.
Ia menyadari, banyak orang tidak pernah melihat langsung keindahan bawah laut, sehingga sulit memahami urgensi pelestariannya.
Dari situ lahir inovasi berikutnya, yaitu Diverseas, program edukasi berbasis teknologi yang diluncurkan pada 2024. Program ini menggunakan video 360 derajat untuk membawa pengalaman bawah laut ke dalam ruang kelas.
Melalui teknologi tersebut, siswa dapat “menyelam” secara virtual dan menyaksikan langsung kondisi terumbu karang.
Program ini telah menjangkau lebih dari 20.000 orang di 12 negara melalui workshop, kursus daring, hingga pelatihan penyelam.
Bagi Brigitta, pendidikan menjadi kunci perubahan jangka panjang.
“Saya percaya pendidikan sangatlah kuat. Jika dilakukan dengan benar, Anda dapat menginspirasi generasi muda yang akan menjadi pembuat kebijakan di masa depan,” pungkasnya.









