App Store Bangkit di Era AI, Lonjakan Aplikasi Tembus 100% di 2026
Lonjakan aplikasi di App Store tembus 100% pada 2026. AI jadi pendorong utama, namun risiko aplikasi bermasalah ikut meningkat.
App Store di perangkat Apple. dok. Apple
Di tengah kekhawatiran kecerdasan buatan (AI) akan “membunuh” aplikasi mobile, fakta justru berkata sebaliknya.
Dikutip dari TechCrunch, sepanjang awal 2026, peluncuran aplikasi baru di App Store dan Google Play justru melonjak tajam, menandai kebangkitan ekosistem aplikasi global.
Berdasarkan analisis Appfigures, jumlah aplikasi yang dirilis secara global pada kuartal I-2026 meningkat 60 persen secara tahunan.
Khusus di ekosistem iOS milik Apple, lonjakan bahkan mencapai 80 persen. Tren ini terus berlanjut hingga April 2026, dengan pertumbuhan total rilis aplikasi menembus 104 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
- John Ternus Resmi Gantikan Tim Cook Jadi CEO Apple Mulai September 2026
- Mac Mini Kini Bisa Jadi Mesin AI, Apple Resmi Izinkan eGPU untuk Akselerasi Kecerdasan Buatan
- Simak! Ini Hasil Pengujian Perfoma MacBook Air M5 Dibandingkan Pendahulunya
- Apple Rilis iPad Air dengan Chip M4, Performa Makin Kencang Dengan RAM 12 GB
Fenomena ini sekaligus membantah anggapan kehadiran chatbot dan agen AI akan membuat pengguna meninggalkan aplikasi.
Senior Vice President Worldwide Marketing Apple Greg Joswiak bahkan menyindir narasi tersebut. Ia mengatakan kabar “kematian” App Store di era AI sebagai sesuatu yang “dibesar-besarkan”.
Alih-alih menggantikan aplikasi, AI justru diduga menjadi katalis utama lonjakan ini.
Teknologi berbasis AI kini memungkinkan siapa saja—bahkan tanpa latar belakang teknis—untuk membuat aplikasi dengan lebih cepat dan mudah.
Tools seperti pengembangan berbasis AI membuka peluang bagi gelombang baru kreator, memicu semacam gairah baru di industri aplikasi. Dengan hambatan teknis yang semakin rendah, ide-ide aplikasi kini lebih mudah diwujudkan menjadi produk nyata.
Data menunjukkan, kategori aplikasi yang berkembang juga semakin beragam. Meski game masih mendominasi jumlah rilis, kategori produktivitas kini masuk lima besar.
Disusul utilitas di posisi kedua, lifestyle di posisi ketiga, serta kesehatan dan kebugaran yang melengkapi daftar kategori terpopuler.
Di balik lonjakan ini, muncul tantangan baru bagi platform distribusi aplikasi. Banyaknya aplikasi baru yang masuk membuat proses kurasi dan pengawasan semakin kompleks.
Beberapa insiden bahkan sempat mencuat. Apple diketahui menarik aplikasi reward karena pelanggaran aturan, setelah sempat menempati posisi atas dalam daftar aplikasi populer.
Kasus lain melibatkan aplikasi kripto palsu yang meniru layanan resmi dan menyebabkan kerugian hingga jutaan dolar bagi pengguna.
Meski begitu, Apple tetap melakukan penyaringan ketat. Sepanjang 2024, perusahaan ini tercatat menolak lebih dari 320 ribu aplikasi karena dianggap spam, menyesatkan, atau meniru aplikasi lain.
Selain itu, lebih dari 37 ribu aplikasi berpotensi fraud berhasil dicegah sebelum menjangkau pengguna.
Pengamat industri menilai, lonjakan aplikasi berbasis AI ini menuntut sistem pengawasan yang lebih adaptif. Semakin mudah aplikasi dibuat, semakin besar pula risiko munculnya aplikasi bermasalah.









