Teknologi pemindaian 3D semakin populer

Pasar memindaian 3D pada tahun 2021 diprediksi capai Rp33 triliun dan diprediksi bakal banyak digunakan oleh perusahaan

Teknologi pemindaian 3D semakin populer

Perusahaan teknologi 3D untuk pengukuran dan pemindaian, Faro Technologies Inc., bersama PT Datascrip baru saja menggelar Faro 3D User Conference Asia Pasific di Jakarta. Ajang tersebut membahas tren dan perkembangan teknologi produk pemindaian terestrial 3D, permasalahan dan solusinya, serta pemaparan dari para ahli dan praktisi tentang informasi terbaru, pengalaman, dan penerapan teknologi 3D laser scanner di berbagai bidang.

Saat ini, pemerintah sedang melakukan percepatan pembangunan infrastruktur di berbagai daerah sebagai salah satu pendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Perencanaan pembangunan secara berkesinambungan membutuhkan dokumentasi area, bangunan atau struktur dalam wujud 3 dimensi (3D). Dokumentasi dengan menggunakan pemindai laser 3D sangat dibutuhkan, khususnya ketika melakukan survei secara detail, bahkan untuk struktur bangunan yang paling kompleks sekalipun.


BACA JUGA

Perang dagang AS-Tiongkok belum berimbas ke infrastuktur digital

Purwarupa turbin angin terbesar bakal dipasang di Rotterdam

Blockchain punya banyak manfaat di sektor industri


Teknologi pemindaian terestrial 3D yang berkembang saat ini membuat dokumentasi ruang atau area jadi lebih efisien, efektif, akurat dan presisi. Selain efisien dalam segi biaya dan waktu pengerjaan, teknologi 3D laser scanning memiliki data informasi yang lebih sehingga analisa dan aplikasinya sangat luas.

“Semua mengenai dokumentasi 3D dibahas tuntas di dalam konferensi ini untuk memberikan gambaran khususnya mengenai teknologi survei serta konstruksi di masa mendatang. Data 3D dapat diterapkan di berbagai bidang seperti pemindaian volumetrik, bencana, aplikasi asuransi dan juga bangunan bersejarah. Teknologi pemindaian terestrial 3D tidak hanya untuk mengukur data, namun untuk menganalisa data dan pengembangan yang lebih baik,” kata Division Director PT Datascrip, Mary Oetomo.

Berdasarkan data dari ARC Market Analysis menyebutkan pasar pemindaian 3D diperkirakan akan mencapai USD2,3 miliar (Rp33 triliun) pada tahun 2021, dengan Building Information Modelling (BIM) di industri konstruksi menjadi kontributor utama. Menurut Senior Architect dari PDW Architect dan Ketua Institute BIM Indonesia, Kharis Alfi, yang menjadi salah satu pembicara pada Faro 3D User Conference Asia Pacific, proyek konstruksi masa depan perlu perencanaan yang lebih baik dan persiapan yang komprehensif untuk menghemat biaya dan juga untuk menjaga kualitas proyek.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: