Monetisasi 5G masih sulit dilakukan

Monetisasi 5G saat ini masih sulit untuk dilakukan. Hal ini disampaikan langsung oleh Ririek Adriansyah, Dirut Telkom.

Monetisasi 5G masih sulit dilakukan Source: Telkomsel

Ririek Adriansyah menilai monetisasi 5G saat ini masih sulit untuk diprediksi di Indonesia. Pasalnya menurut Dirut Telkom itu, teknologi 5G di saat ini baru bagus di level demo saja, sementara di dunia nyata belum tentu teknologi itu aplikatif.

“Banyak use case teoritis, tapi kalau kita lihat pada hari ini, sebenarnya use case yang riil bisa dimonetize itu belum banyak," ujar Ririek. 


berita tentang tek.id

BACA JUGA

ZTE klaim kecepatan 5G mereka tembus 1300Mbps

Tiongkok jadi negara kedua yang meluncurkan 5G secara nasional

CEO Xiaomi janjikan 10 smartphone 5G di tahun depan


Ia juga menambahkan ada beberapa negara yang sudah meluncurkan pelayanan 5G namun masih kesulitan hingga saat ini. Penggunaannya masih terbatas pada fix lined access. Pasalnya 5G menjanjikan kecepatan yang cukup besar. Kecepatannya menurut Ririek, bisa di atas 1Gbps  hanya dapat dilakukan jika menggunakan fiber optik. 

“5G memang sudah banyak didemokan. Itu memang bagus untuk didemo, tapi di dunia nyata belum tentu itu suatu yang practiceable. Misalnya mobil driverless. Di Indonesia, teknologi itu masih challenging banget untuk digunakan di jalan luas”, tambah Ririek. 

Untuk diketahui, pada ajang Asian Games 2018 tahun lalu, Telkomsel pernah memamerkan kencangnya koneksi 5G dengan menggunakan mobil driverless. Sayangnya, dalam sambutan yang diberikan Ririek di acara Selular Congress 2019, ia menyatakan bahwa teknologi itu saat ini belum bisa digunakan. Ia bahkan menyarankan untuk menggunakan mobil driverless itu di kawasan tertutup, misalnya kawasan industri. 

Kendati begitu Ririek menyatakan standarisasi 5G sudah dilakukan. Bahkan di standard 3GPP semua spektrum sudah dibuka untuk 5G. Itu baru batch pertama. Nanti di batch berikutnya baru akan dibuka spektrum lain. 

Ririek memprediksi kalau teknologi 5G akan sulit untuk menggapai konsumen gadget. Menurutnya, use case paling potensial untuk 5G adalah B2B dan B2B2B (business to business to business). Untuk itu, implementasi 5G diprediksi akan berbeda dari 4G. Salah satu tantangan yang harus dihadapi adalahi belum tersedianya spektrum yang idle untuk digunakan jaringan 5G. 

Pemerintah harus membuka spektrum minimal 100 Mhz. Sementara semua spektrum yang layak dipakai itu masih digunakan sampai saat ini. Tak hanya itu, dari sisi operator pun masih kesulitan. Pasalnya monetize (5G) ini sampai saat ini masih belum jelas. 

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: