Kecanduan gim resmi dikategorikan sebagai penyakit
World Health Organisation yang bernaung di bawah PBB baru saja menyatakan kalau kecanduan gim kini dikategorikan sebagai penyakit dan harus disembuhkan
World Health Organisation (WHO) meninformasikan, kini para orang tua memiliki argumen baru untuk membatasi waktu anak-anak mereka bermain gim lantaran kecanduan bermain video gim telah diakui sebagai gangguan kesehatan mental, dan dapat membuat kecanduan dengan cara yang sama seperti kokain.
“Setelah berkonsultasi dengan para ahli di seluruh dunia, dan mininjau bukti secara mendalam, kami memutuskan bahwa kondisi tersebut harus ditambahkan,” kata Director of the WHO, Department of Mental and Substance, Shekar Saxena kepada AFP.
“Gangguan bermain gim” online dan offline dikelompokkan dengan “gangguan karena penggunaan narkoba atau perilaku adiktif” dalam sedisi ke-11 ICD, revisi besar pertama dalam hampir tiga dekade. Kitab referensi terbaru WHO tentang penyakit yang diakui dan didiagnosis menggambarkan kecanduan gim digital sebagai “pola perilaku permainan terus-menerus” yang menjadi begitu luas sehingga “didahulukan daripada kepentingan hidup lainnya”.
Kata-kata dari entri baru tersebut telah dikenal sejak bulan Januari, ketika WHO mengumumkan masalah gim akan diakui sebagai kondisi patologis. Gejala utama termasuk gangguan kontrol, terutama ketidakmampuan untuk berhenti bermain serta berfokus pada gim dengan mengesampingkan yang lainnya.
- Roblox Terapkan Pembatasan Usia Ketat Mulai Mei, Akses Game dan Chat Disesuaikan dengan Umur
- Ancaman Siber Terkait Game Naik 86 Persen di Asia Tenggara, Gamer Muda Jadi Target Utama
- FFWS SEA 2026 Spring Dimulai 24 April, 5 Tim Indonesia Siap Rebut Tiket ke Esports World Cup
- Update Free Fire “Misteri Bawah Laut” Dirilis, Hadirkan Map Baru hingga Karakter Ray
“Orang itu begitu banyak bermain sehingga minat dan aktivitas lain diabaikan, termasuk tidur dan makan,” kata saxena. Dalam kasus ekstrim, pecandu gim tidak dapat melepaskan diri dari layar, putus sekolah, kehilangan pekerjaan, dan terputus dari hubungan teman-teman serta keluarga. Mayoritas pemain video gim banyak di usia remaja.
Menurut Superdata yang memantau gim dan sektor media interaktif, industri gim meraup USD108 miliar (Rp1.500 triliun) di seluruh dunia pada tahun 2017, lebih dari dua kali lipat penerimaan film box-office. Hampir 40 persen dari penjualan tersebut berada di Asia Timur, Terutama China dan Korea Selatan. Pasar penting lainnya termasuk Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Jerman, dan Brasil. Di Korea Selatan dan Amerika Serikat, banyak klinik telah bermunculan untuk mengobati kecanduan bermain gim, bersama dengan komunitas dan kelompok dukungan online. Demikian dilansir dari Channel NewsAsia.








