Dituduh jadi mata-mata pemerintah China, ini kata CEO Huawei

CEO Huawei, Ren Zhengfei menyebut bahwa mereka akan menolak permintaan pemerintah jika dinilai merugikan para penggunanya.

Dituduh jadi mata-mata pemerintah China, ini kata CEO Huawei Logo Huawei (CNET)

Huawei saat ini sedang mengalami beberapa kendala besar. Salah satunya adalah ditangkapnya dua petinggi mereka di dua lokasi dan waktu yang berbeda, yakni di Kanada akhir 2018 lalu dan di Polandia beberapa waktu lalu.

Meng Wanzhou, yang ditangkap otoritas Kanada telah dilepas setelah tak terbukti melakukan kesalahan. Sedangkan Wang Weijing yang ditangkap di Polandia, masih dalam penyelidikan atas dugaan spionase. Akibatnya, Huawei pun mendapat tekanan bahwa mereka merupakan mata-mata dari pemerintah China.


BACA JUGA

Uni Eropa ancang-ancang blokir Huawei

Huawei juarai pasar smartphone di China

AS tuduh Huawei tipu bank dan curi teknologi T-Mobile


Gerah dengan tuduhan tersebut, CEO Huawei Ren Zhengfei menggelar wawancara meja bundar dengan beberapa wartawan. Dia menyebut, perusahaannya tidak ada kaitannya dengan pemerintah China.

“Saya mencintai negara saya, saya mendukung Partai Komunis. Tetapi saya tidak akan melakukan apa pun untuk membahayakan dunia, ”kata Ren, seperti dikutip dari laman Gizmodo (16/1/2019).

"Tidak ada undang-undang yang mewajibkan perusahaan di China wajib memasang dara untuk mengintip langsung ke perangkat mereka," tegas pria berusia 74 tahun tersebut. "Saya pribadi tidak akan pernah merugikan kepentingan pelanggan saya dan saya, serta perusahaan saya tidak akan menjawab permintaan tersebut."

Namun, Ren tidak pernah memberikan rincian tentang bagaimana perusahaan pernah menolak permintaan yang berpotensi menggali informasi pribadi oleh pemerintah China. Dia menyebutkan bahwa selain dari masalah keamanan, Huawei juga berada di tengah-tengah perang perdagangan antara AS dan China.

"Huawei hanya benih wijen dalam konflik perdagangan antara China dan AS," kata Ren. “Trump adalah presiden yang hebat. Dia berani memotong pajak secara besar-besaran, yang akan menguntungkan bisnis. Tetapi Anda harus memperlakukan perusahaan dan negara lain dengan baik sehingga mereka mau berinvestasi di AS, dan pemerintah akan dapat memungut pajak yang cukup besar."

Menurut Ren, Huawei saat ini memiliki 30 kontrak untuk memasang infrastruktur 5G di berbagai negara di seluruh dunia. Mereka juga tidak memungkiri bahwa beberapa negara seperti Australia dan Selandia Baru memblokir mereka, serta menolak penawaran pada kontrak tersebut karena masalah keamanan nasional.

Meskipun begitu, banyak negara yang melihat bahwa apa yang ditawarkan oleh Huawei, termasuk dari sisi harga adalah sebuah hal yang sulit untuk ditolak.

“Pesan yang ingin saya sampaikan ke AS adalah kolaborasi dan kesuksesan bersama,” kata Ren. "Di dunia teknologi yang semakin canggih, semakin tidak mungkin bagi perusahaan atau negara manapun untuk mempertahankan atau mendukung kebutuhan dunia."

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini:
Tags :
Huawei 5G