Dibanding Facebook, Google rekam lebih banyak data pengguna
Laporan baru Axios menunjukkan, Google lah yang sebenarnya lebih banyak mengetahui sebagian besar tentang pribadi pengguna.
(Foto: VentureBeat)
Stereotip bahwa Facebook menjadi aplikasi penambang data pribadi pengguna telah menggema sejak beberapa tahun lalu. Dalam skandal Cambridge Analytica, 87 juta pengguna terlibat menjadi korban praktik pencurian data. Akibatnya, Facebook beserta eksekutifnya Mark Zuckerberg harus berhadapan dengan sejumlah penyelidikan.
Namun rupanya, penambang data terbanyak bukanlah Facebook. Laporan baru Axios menunjukkan, Google lah yang sebenarnya lebih banyak mengetahui sebagian besar tentang pribadi pengguna.
Jumlah pengetahuan Google akan penggunanya disebut Ina Fried - penulis laporan - bergantung pada tingkat tertentu yang dikaitkan dengan pengaturan privasi pengguna. Namun faktor yang lebih penting adalah "perangkat mana, produk dan layanan apa yang Anda gunakan".
Fried mencatat informasi yang dikumpulkan Google meliputi video yang Anda tonton, aktivitas pembelian hingga istilah yang Anda cari. Selain itu, Google pun menampung informasi terkait dengan siapa Anda berkomunikasi atau berbagi konten, serta iklan maupun konten yang Anda simak di situs Google.
- Google Perbarui Veo 3.1, Kini Bisa Buat Video Vertikal dari Gambar Referensi
- Pembaruan Terbaru Google Photos Bikin Pencarian Wajah Jadi Makin Mudah
- Hasil Uji Coba Ungkap Gemini 3 Flash Halusinasi Hingga 91 Persen Saat Tidak Tahu Jawaban
- Google Photos Hadirkan Fitur Baru untuk Edit Video dan Highlight Reel Lebih Mudah
Dilansir Alternet (13/3), Google memiliki browser sendiri yakni Chrome. Raksasa teknologi ini juga punya sistem operasi (Android) serta email sendiri (Gmail). Dalam laporannya Friend menunjukkan bahwa Google mengumpulkan riwayat penelusuran di Chrome, yang telah pengguna sinkronkan dengan akun Google.
Sementara itu, beberapa informasi yang tidak dikumpulkan Google termasuk lalu lintas internet dari router Google WiFi dan data Google Documents dari pelanggan bisnis yang mengharuskan pengguna membayar biaya langganan. Google sebelumnya memanfaatkan konten email di Gmail untuk memilih iklan yang akan ditampilkan. Namun kini praktik itu dihentikan karena data lain dinilai lebih efisien.
Untuk meminimalisir hal tersebut, Fried menawarkan opsi kepada pengguna seperti menggunakan mesin pencari lain semisal Microsoft Bing, atau memilih tidak login ketika menggunakan mesin pencarian Google. Kendati demikian, Fried berkata "sulit untuk sepenuhnya memblokir Google" karena kekuatan layanan Google yang luas.








