Bos Telegram tanggapi spyware yang dialami WhatsApp

Masalah keamanan pada WhatsApp yang digunakan miliaran pengguna jelas mengundang perhatian. Pendiri Telegram Pavel Durov pun turut memberikan tanggapan.

Bos Telegram tanggapi spyware yang dialami WhatsApp (Foto: Instagram)

Spyware yang bisa menyusup di WhatsApp menjadi kabar yang mengejutkan pekan ini. Pasalnya software itu bisa mengetahui apa pun yang ada di ponsel Anda termasuk foto, email dan pesan teks melalui kendali hacker. WhatsApp kemudian merilis pembaruan keamanan yang akan mengatasi masalah tersebut.

Masalah keamanan pada aplikasi yang digunakan miliaran pengguna ini jelas mengundang perhatian. Pendiri Telegram Pavel Durov pun turut memberikan tanggapan. Alih-alih terkejut, masalah keamanan itu justru menurutnya sudah pernah terjadi di WhatsApp pada tahun lalu.


BACA JUGA

WhatsApp dukung kunci via sidik jari, ini cara gunakannya

Peretas bisa cegat dan ubah pesan WhatsApp

WhatsApp bakal hadirkan fitur mirip Boomerang Instagram


"Kabar ini tidak mengejutkan saya. Tahun lalu WhatsApp seharusnya mengakui bahwa mereka memiliki masalah yang sangat mirip - satu panggilan video melalui WhatsApp adalah satu-satunya (cara) peretas yang diperlukan untuk mendapatkan akses ke seluruh data ponsel Anda," kata Durov.

Durov mengatakan masalah keamanan di WhatsApp, termasuk masalah terbaru ini terlihat sangat mirip dengan sistem backdoor untuk mengawasi data pengguna. Lain dengan Telegram, WhatsApp bukan aplikasi open source sehingga tak mudah bagi peneliti untuk memeriksa backdoor. Caranya, WhatsApp mengaburkan biner aplikasi mereka guna memastikan tak ada yang bisa mempelajarinya secara menyeluruh.

Pada 2012, WhatsApp mentransfer pesan dalam bentuk teks sehingga dinilai gila oleh Durov. Pasalnya dengan konsep itu, tak hanya pemerintah atau peretas, penyedia jaringan seluler pun bisa memiliki akses ke semua teks WhatsApp. Namun kemudian WhatsApp menambahkan beberapa enkripsi hingga akhirnya diakuisisi Facebook.

Pada 2016 WhatsApp juga menerapkan enkripsi end-to-end agar tak ada pihak ketiga yang bisa mengakses pesan pengguna. Alih-alih aman, pesan itu disimpan di cloud dimana enkripsi tersebut tak lagi bisa diterapkan. Hasilnya, peretas atau pun penegak hukum bisa mengaksesnya.

"WhatsApp tidak memberi tahu penggunanya bahwa saat dicadangkan (di cloud), pesan tidak lagi dilindungi oleh enkripsi end-to-end dan dapat diakses oleh peretas serta penegak hukum," ujarnya.

Terkait masalah keamanan baru dan masalah serupa sebelumnya, Durov menyatakan bahwa pembaruan aplikasi saja tak cukup untuk mengatasinya. Sebagai gantinya, WhatsApp harus menghadapi risiko kehilangan pasar dan bertentangan dengan pihak berwenang untuk mewujudkan orientasi privasi pengguna. Ini merupakan hal yang telah dijalankan dan dihadapi oleh Telegram - aplikasi besutan Durov.

"Melihat riwayat sebelumnya, belum ada satu hari dalam perjalanan 10 tahun WhatsApp bahwa layanan ini aman. Itu sebabnya saya tidak berpikir bahwa hanya memperbarui aplikasi mobile WhatsApp akan membuatnya menjadi aman bagi siapa pun. Agar WhatsApp menjadi layanan yang berorientasi privasi, dia harus berisiko kehilangan seluruh pasar dan bertentangan dengan pihak berwenang di negara asal mereka. Mereka tampaknya tak siap untuk itu," kata Durov.

Risiko itu sudah disadari Durov sehingga dia menyiapkan dirinya bahkan hingga menentang pemerintah Rusia, negara asalnya. Dia juga menyatakan siap dengan rintangan serupa demi menjaga privasi pengguna atau dia sebut melayani kemanusiaan untuk kepentingan jangka panjang. Lebih lanjut Durov sesumbar bahwa Telegram yang telah hadir hampir enam tahun, tak mengalami kebocoran data besar atau kerentanan keamanan apa pun sebagaimana dialami WhatsApp.

"Dalam hampir enam tahun keberadaan Telegram, kami mengungkapkan benar-benar nol byte data kepada pihak ketiga, sementara Facebook / WhatsApp telah berbagi ke hampir semua orang yang mengklaim bekerja untuk pemerintah," ujarnya.

Dalam paragraf pamungkasnya, Durov berbangga telah mengalahkan Facebook satu kali di pasar jejaring sosial Eropa Timur. Dia berambisi akan mengalahkan mereka lagi di pasar global. "Itu tidak akan mudah. Departemen pemasaran Facebook sangat besar. Kami di Telegram, melakukan nol pemasaran. Kami tidak ingin membayar jurnalis dan peneliti untuk memberi tahu dunia tentang Telegram. Untuk itu, kami mengandalkan Anda, jutaan pengguna kami... Usia keserakahan dan kemunafikan akan berakhir. Era kebebasan dan privasi akan dimulai."

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: