Ancaman digital yang perlu kamu tahu

Di antaranya ada yang menyerang tanpa bisa terdeteksi oleh pengguna biasa, ada juga ancaman yang mulai merubah target serangan.

Saat ini kehadiran internet menjadi sangat penting. Ibaratnya, internet seperti napas kedua bagi masyarakat dunia. Salah satu dampak positif dari hadirnya internet adalah kemudahan berkomunikasi serta terhubung dengan apa dan siapa saja. Selain itu, internet juga menawarkan banyak hal, informasi khususnya.

Meski membawa banyak dampak positif, internet juga bisa menjadi sumber masalah. Untuk sebagian orang, internet digunakan sebagai media untuk melakukan kejahatan digital. Dampaknya cukup beragam, mulai dari serangan ke individu, perusahaan hingga suatu negara.


BACA JUGA

Kemenkominfo imbau warganet tak sebar konten kekerasan

Jaringan internet Starlink bisa hadir jauh lebih cepat

Jepang segera kehabisan nomor seluler 11 digit, segera pakai 14 digit


Untuk itu ada beberapa jenis ancaman digital atau akrab disebut cyber attack yang perlu kamu tahu. Berikut beberapa jenisnya yang belakangan umum ditemukan:

Formjacking, skema cepat kaya bagi penjahat dunia maya

Serangan digital yang mendapat perhatian dari beberapa praktisi keamanan adalah formjacking. Diketahui serangan formjacking sangat sederhana, pada dasarnya seperti skimming ATM virtual. Bedanya, pelaku kejahatan formjacking hanya perlu menyuntikkan kode berbahaya ke situs web toko ritel untuk mencuri data kartu pengguna yang melakukan transaksi digital.

Symantec sebagai salah satu perusahaan yang bergerak di bidang keamanan digital menemukan lebih dari 4.800 situs web yang terinfeksi oleh kode formjacking. Menariknya, Symantec mengatakan bahwa toko ritel online skala kecil hingga menengah umumnya paling banyak diinfeksi oleh serangan jenis ini.

Formjacking merupakan ancaman serius bagi perusahaan dan konsumen,” kata Greg Clark, CEO, Symantec.

“Konsumen tidak memiliki cara untuk mengetahui apakah mereka mengunjungi toko ritel online yang terinfeksi tanpa menggunakan solusi keamanan yang komprehensif. Hal ini tentunya membahayakan informasi pribadi dan keuangan mereka yang berharga rentan terhadap pencurian identitas yang berpotensi merugikan.

Cryptojacking, meski menurun tidak untuk diremehkan

Serangan jenis ini biasanya akan menyerang perangkat komputasi yang digunakan untuk menambang cryptocurrency. Umumnya, serangan cryptojacking akan membajak kinerja CPU dan GPU dari komputer korban dan secara tidak langsung jadi mesing penambang pribadi penyerang. Cara paling mudah untuk mendeteksi serangan ini adalah kerja CPU dan GPU seketika menjadi lebih berat.

Menurut laporan Symantec, serangan jenis ini tengah menurun. Hal ini pun diamini oleh Halim Santoso sebagai Director Systems Engineering ASEAN dari Symantec. “Serangan cryptojacking tengah menurun hingga 52 persen sepanjang tahun 2018. Namun, tetap jangan meremehkan serangan cryptojacking.”

Ransomware, mulai mengubah target serangan

Serangan ransomware sempat meledak beberapa tahun lalu. Serangan ransomware membuat korban tidak dapat mengakses sistem atau data pada komputer hingga ancaman publikasi data-data sensitif. Biasanya penyerang akan meminta sebuah tebusan agar korban dapat kembali mengakses data pada komputernya.

Menariknya, menurut data yang dirilis Symantec. Serangan ransomware menurun hingga 20 persen. Hal ini menjadi penurunan pertama sejeak tahun 2013. Namun, meski serangan ransomware menurun secara keseluruhan, tercatat ada peningkatan infeksi ransomware yang ditujukan ke perusahaan. Sebesar 12 persen serangan ransomware mengarah pada perusahaan di tahun 2018. Diduga, serangan ini masih terus tumbuh hingga tahun ini.

Adapun penurunan angka serangan ransomware adalah berkat perubahan tren pengguna yang semakin banyak meninggalkan perangkat non-windows untuk melakukan berbagai aktivitas seperti mengirim email dan file.

Berhati-hatilah dengan smartphone Anda

Pernahkah Anda berpikir bahwa smartphone yang sedang Anda pegang sekarang merupakan alat mata-mata? Saya berusaha untuk tidak mempercayainya, namun terkadang saya berpikiran demikian. Mengapa bisa begitu?

Jika membicarakan perangkat Android, Anda pasti mengenal Google Play Store. Ya, disini Anda bisa menemukan berbagai macam aplikasi yang mungkin Anda butuhkan. Namun, pernahkah Anda memperhatikan lebih teliti sebelum Anda mulai mengunduh aplikasi tersebut.

Ita ambil contoh pada aplikasi Flashlight, aplikasi ini berfungsi untuk menyalakan lampu LED pada smartphone Anda agar berfungsi sebagai senter. Namun, jika diperhatikan aplikasi ini membutuhakn ijin yang tidak biasa.

Aplikasi ini akan meminta ijin untuk mengambil foto dan video, mengetahui lokasi Anda dengan mengandalkan GPS, menggunakan mikrofon, mengakses storage dan bisa membaca, menghapus serta mengedit konten.

Ok, untuk sebuah aplikasi yang bekerja layaknya saklar untuk menyalakan lampu LED apakah perlu menggunakan resources sampai seperti itu? Jawabannya kembali lagi pada Anda yang menggunakan, apakah Anda siap untuk mengijinkan aplikasi tersebut berjalan pada smartphone Anda?

Itulah beberapa serangan digital yang umum terjadi belakangan ini. Selau berhati-hati dalam menggunakan internet.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: