sun
moon
Premium Partner :
  • partner tek.id praxis
  • partner tek.id asus
  • partner tek.id benq
  • partner tek.id oppo
  • partner tek.id qnap
  • partner tek.id synologi
  • partner tek.id acer
  • partner tek.id wd
  • partner tek.id advo
Selasa, 24 Mar 2020 14:58 WIB

Alasan Google tidak gunakan Snapdragon 865 di Pixel 5 series

Alasan utama karena massalah harga. Selain mahal, Snapdragon 865 membuat ongkos produksi meningkat di beberapa lini dan berujung pada harga jual yang mahal.

Alasan Google tidak gunakan Snapdragon 865 di Pixel 5 series
Source: XDA Developers

Tingginya harga Snapdragon 865 akhirnya membuat beberapa perusahaan absen menggunakan chipset ini untuk smartphone flagshipnya. Laporan terbaru menyebutkan bahwa Google dan LG tidak akan menggunakan Snapdragon 865 untuk flagship terbarunya tahun ini. 

Bulan lalu, XDA Developers melaporkan kalau Pixel 5 dan 5 XL akan hadir dengan menggunakkan Snapdragon 765G. Sekalipun chipset ini memiliki performa yang lebih rendah dari Snapdragon 865, perbedaannya sebenarnya tidak terlampau jauh. Untuk diketahui, Snapdragon 865 menggunakan delapan inti dengan konfigurasi empat inti A77 dan empat inti A55. Sementara Snapdragon 765G, juga menggunakan delapan inti dengan konfigurasi sedikit lawas, yakni empat inti A76 dan empat inti A55. 

Secara performa seharusnya hal ini tidak memberikan perbedaan terlampau jauh di keduanya. Apalagi kedua chipset ini juga sama-sama sudah mendukung koneksi 5G. Bagi perusahaan sekelas Google yang sangat mengandalkan optimasi software, perbedaan kedua chipset ini mungkin tidak akan terlihat. 

Setali tiga uang, LG juga memutuskan untuk tidak menggunakan Snapdragon 865, melainkan Snapdragon 765G untuk flagshipnya tahun ini, yakni LG G9 ThinQ. Bahkan HMD juga melakukan hal yang sama untuk perangkat Nokia 8.3. 

Lantas apa yang membuat vendor ini enggan menggunakan Snapdragon 865 padahal memiliki performa yang tinggi? 

Alasan terbesar ada di sektor harga. Penggunaan Snapdragon 865 membuat harga sebuah smartphone melambung tinggi. Pasalnya chipset ini menuntut pembuat smartphone mengubah desain ponsel mereka menjadi lebih besar untuk mengakomodasi kebutuhan Snapdragon 865. 

Dilansir dari ArsTechnica (24/3), Snapdragon 865 tidak memiliki modem onboard. Artinya ada dua chip terpisah antara 4G dan 5G yang saat ini dikenal sebagai modem X55. Qualcomm sudah memutuskan kalau Snapdragon 865 harus dipasangkan dengan modem X55 yang menjadi persyaratan mutlak bagi smartphone yang ingin dapat terkoneksi ke jaringan 5G menggunakan chipset ini. 

Nah, chip tambahan tersebut tentunya akan membutuhkan ruang lebih besar. Selain ongkos produksi bertambah karena ukuran ini, desain motherboard nya juga menjadi lebih rumit. Ditambah lagi kebutuhan mmWave untuk menjamin kecepatan internet 5G-nya. Untuk itu diperlukan beberapa modul RF (radio-frequency) yang ditempatkan di beberapa area smartphone. Ongkos produksi pun bertambah lagi. 

Untungnya, mmWave ini bersifat opsional, artinya pembuat smartphone bisa saja menghilangkannya. Hal ini terjadi pada Galaxy S20 yang memiliki ukuran paling kecil di antara line up tersebut. Opsi mmWave tidak digunakan agar tetap dapat menjaga ukuran smartphone lebih kecil dari seluruh line up Galaxy S20 series. 

Tidak hanya itu, koneksi 5G secara langsung berdampak pada konsumsi baterai. Karenanya, kapasitas baterai yang besar pun mutlak diperlukan untuk smartphone 5G. Besarnya ruang yang diperlukan Snapdragon 865 juga berujung ada ukuran layar yang semakin besar seiring bertambahnya ukuran smartphone. Ongkos produksi kembali bertambah. 

Dengan kata lain, mahalnya harga Snapdragon 865 bukan semata-mata mahal pada chipset itu sendiri, melainkan berdampak pula pada seluruh rangkaian proses produksi smartphone

Lain halnya dengan Snapdragon 765G. Dengan memiliki performa yang sedikit lebih rendah, harga jualnya pun menjadi lebih terjangkau. Tidak hanya itu, ini merupakan chipset Qualcomm pertama yang terintegrasi dengan modem 5G. Alih-alih menggunakan dua chip untuk koneksi yang berbeda, Snapdragon 765G dikemas dalam satu bentuk yang kompak, satu chipset yang dapat menjawab kebutuhan smartphone 5G. Karena hal ini, vendor smartphone tetap bisa membuat ponsel dengan ukuran yang sama seperti smartphone 4G lainnya. Karena ini pula, ongkos produksi bisa diminimalisir sedemikian rupa. Vendor senang, konsumen juga senang. 

Share
back to top