Review Asus TUF Gaming FX505 DT

TUF Gaming FX505 DT, laptop gaming murah yang hampir sempurna

Asus mungkin dapat menaikkan harga dari jajaran TUF Gaming mereka Rp1 juta lebih mahal dengan menampilkan SSD di dalamnya.

TUF Gaming FX505 DT, laptop gaming murah yang hampir sempurna ASUS TUF Gaming FX 505 DT

Saat ini, Asus memiliki portofolio laptop gaming yang tergolong lengkap. Mulai dari laptop super istimewa bernama ROG Mothership yang dibanderol Rp130 juta, Asus juga memiliki jajaran laptop gaming murah yang tersedia mulai dari Rp11 juta-an. Serinya TUF Gaming.

Perfeksionis mungkin kata yang tepat bagi mereka. Tapi, sayangnya tidak untuk satu laptop gaming mereka, yakni TUF Gaming FX505 DT. Meski memiliki harga murah, tapi ada banyak hal yang mengganjal, membuatnya sebagai laptop gaming murah yang hampir sempurna.


BACA JUGA

Corsair Nightsword RGB, paling enak buat tembak-tembakan

ROG Strix Scar III, cocok buat yang mau jadi Pro Gamer pemula

ROG Strix Scar III, cocok buat yang mau jadi Pro Gamer pemula


Dimulai dari desain, saya kecewa dengan Asus yang masih mempertahankan desain mereka, yang membuat semua jajaran TUF Gaming terlihat sama. Hanya kelir luar saja yang pada akhirnya membuat satu tipe dengan tipe lain berbeda.

Khusus untuk FX505 DT, Asus memberikan perpaduan warna silver dan gold. Namun di mata saya, warna gold ini malah terlihat seperti warna oranye. Seksi mungkin bukan hal yang tepat untuk menggambarkan laptop ini. Mungkin berisi adalah kata yang bisa menggambarkan wujud tebal dari laptop gaming ini.

Meski begitu, ketebalannya bisa saya maklumi. Hal ini karena TUF Gaming FX505 DT hadir dengan konektifitas yang cukup lengkap. Di sebelah kiri, saya melihat satu konektor RJ45, satu port HDMI, satu port USB 2.0, dua USB 3.0, dan sebuah jack audio 3,5mm. 

Hilangnya SD Card reader menjadi problematik tersendiri. Saya tak bisa menyematkan kartu SD untuk mentransfer data dari kamera saya dengan cepat. Alhasil, saya harus mengkoneksikannya dengan menggunakan kabel USB untuk mengakses data di kamera saya.

Beralih ke bagian dalam, satu hal yang cukup saya sukai dari laptop ini. Di bagian keyboard, Asus menyematkan Numpad. Bagi mereka yang suka dengan key tambahan, pasti akan senang dengan kehadiran hal tersebut.

Meskipun masih menggunakan keyboard dengan tipe membran, key travel yang dimiliki FX505 DT cukup nyaman digunakan. Tapi, ada kabar buruk bagi kalian yang suka mengkonfigurasi tampilan RGB pada keyboard. Pencahayaan RGB di laptop ini tidak per-key. 

Pengguna tidak dapat membuat wilayah warna sesuka hati mereka. Tapi, hal ini merupakan hal yang baik untuk saya, karena saya tak terlalu menyukai RGB. Saya pun memilih untuk mematikan semua LED yang ada di keyboard laptop ini.

Beralih sedikit ke atas, saya menemukan lubang yang berfungsi sebagai intake udara. Di bagian belakang FX505 DT juga terdapat sebuah exhaust chamber yang cukup besar. Tapi perlu saya peringatkan, pada saat mode Boost, suara kipas akan sangat keras.

Bahkan, terkadang saya dapat mendengar suara kipas dengan sangat jelas meski menggunakan headset. Tapi, harus diakui, performa yang dimiliki laptop ini saat mode Boost cukup mengesankan.

Penasaran, saya pun mengintip bagian dalam dari laptop ini. Dan benar saja, saya melihat dua heat pipe yang cukup besar di bagian dalam. Hadir juga dua kipas blower style, yang bertugas mendinginkan masing-masing GPU dan CPU dari laptop ini.

Nah, berhubung saya sudah menyinggung soal performa, saya akan mulai membahas jeroan dari laptop ini. Asus membenamkan FX505 DT dengan prosesor Ryzen 5 3550H dengan RAM sebesar 8GB single channel. Pengguna dapat menambahkan RAM untuk mendongkrak performa.

Perlu diingat, prosesor AMD sangat suka dengan konfigurasi RAM dual channel. Biasanya, prosesor AMD akan berjalan lebih baik saat mendapatkan konfigurasi tersebut.

GPU-nya pun tidak kalah bertenaga. Selain memiliki GPU internal Vega 8 (ya prosesor ini merupakan prosesor APU), pengguna juga akan mendapatkan GPU Nvidia GTX 1650 dengan VRAM sebesar 4GB. Lantas, bagaimana performanya?

Dalam pengujian benchmark sintetis, prosesor ini dapat menunjukkan performa yang baik. Di Cinebench R15 dan R20 misalnya, prosesor ini memperoleh skor pengujian single-core di angka 146 di Cinebench R15 dan 365 di Cinebench R20.

Beralih ke pengujian benchmark sintetis lain, yakni 3DMark, hasil pengujian dari laptop ini cukup mengesankan. Skor yang dapat diraih pun bisa dibilang memiliki hasil yang cukup tinggi.

Beralih ke pengalaman bermain gim, saya mendapatkan hasil yang cukup mengesankan. Bermain gim modern di resolusi 1080p dengan pengaturan grafis high dapat berjalan di rata-rata 30 fps.

Beralih ke layar, saya sangat terkesan dengan layar yang dihadirkan Asus FX505 DT. Mereka menggunakan layar TN dengan besaran 15,6 inci dengan resolusi Full HD. Ditambah dengan refresh rate 60Hz, membuat laptop ini cukup nyaman untuk memainkan gim kompetitif seperti PUBG.

Tapi, dari semua pujian yang saya berikan, ada satu kendala besar yang menurut saya sedikit menghancurkan pengalaman saya menggunakan FX505 DT. Hal yang saya maksud adalah penggunaan HDD, bukan SSD. Saya mencoba mengukur kecepatan HDD yang ada di laptop ini dengan Crystal Disk Mark. Hasilnya pun cukup mengejutkan.

Hasilnya, skor dari HDD ini hanya 20 persen dari kecepatan yang dapat dihasilkan oleh SSD. Pada awalnya, penggunaan HDD tidak terlalu terasa. Tapi, saat HDD mulai penuh, performa yang didapatkan pengguna pun akan menurun.

Setelah saya cek, Asus menggunakan HDD Toshiba dengan kode MQ04ABF100. Setelah ditelusuri lebih lanjut, HDD ini ternyata merupakan HDD dengan 5400rpm, yang kurang cocok digunakan untuk sebuah laptop gaming.

Sebenarnya, saya mengerti mengapa Asus memilih menggunakan HDD bukan SSD. Mereka ingin menekan biaya keseluruhan dari laptop tersebut dengan menggunakan HDD. Pengguna pun sebenarnya dapat membeli SSD 256GB yang ada di kisaran Rp450 ribu sebagai boot drive dan HDD bawaan dapat dijadikan penyimpanan masif.

Tapi tetap saja, penggunaan HDD di laptop gaming 2019 membuat saya cukup menyayangkan keputusan Asus. Semoga saja, di perangkat TUF Gaming selanjutnya, mereka akan menyematkan SSD di lini tersebut.

Selain itu, saya juga harus mengkritik masa pakai baterai dari laptop ini. Saya hanya dapat menggunakan laptop ini selama 4 jam maksimal untuk sekedar mengetik berita. Sedangkan saat dipakai sembari menonton YouTube, masa pakai baterai akan menurun di angka 3,5 jam saja.

Terakhir, masih banyak kendala di bidang software atau driver yang saya alami. Hal ini sebenarnya bukan kesalahan Asus, namun perlu di catat saya mendapati layar laptop ini mati selama beberapa detik saat menonton video.

Gejala ini sering kali saya rasakan di laptop yang menggunakan prosesor atau GPU AMD. Semoga pihak AMD segera membenahi masalah ini.

So, Asus TUF Gaming FX505 DT memang bukan sebuah laptop gaming murah yang sempurna. Masih banyak hal yang harus diperhatikan oleh Asus untuk membuat para gamer nyaman bermain gim di laptop ini.

Thermal dan peforma bukan menjadi masalah. Begitu juga dengan layar yang nyaman, baik saat digunakan untuk bermain gim atau melahap konten multimedia. Dan untuk membuat laptop ini sempurna, tak ada salahnya membuat laptop ini berjalan menggunakan SSD serta memiliki daya tahan baterai yang lebih lama merupakan sebuah hal yang sangat menyenangkan.

Apakah saya merekomendasikannya? Jika Anda memiliki uang Rp12,4 juta untuk membeli laptop gaming, Asus TUF Gaming FX505 DT merupakan salah satu rekomendasi saya. Hanya saja, Anda harus tahan dengan penggunaan HDD yang lemot.

Jika Anda ingin mendapatkan performa yang lebih baik, Anda tinggal mengganti HDD yang ada di laptop ini dengan SSD dengan menambahkan antara Rp500 ribu hingga Rp1,5 juta, tergantung tipe SSD atau besaran SSD yang Anda inginkan.

 
Asus TUF Gaming FX505 DT
Bagus ...
  • Performa CPU Sangat Baik
  • Keyboard Nyaman Digunakan
  • Layar Sangat Nyaman Dibuat Main Gim
Kurang ...
  • Masih Pakai HDD
  • Tebal
  • Baterai Cukup Boros
Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: