Zowie S1 & S2, mouse eSports kok begini?

Meski memiliki banyak memiliki fitur untuk eSport, namun desain dari Zowie S1 dan S2 terlihat sangat membosankan.

Zowie S1 & S2, mouse eSports kok begini?

Untuk menjadi pemain eSports profesional memang membutuhkan skill yang hebat dan bisa didapatkan melalui latihan super intensif dan konsisten. Namun tak dapat dipungkiri jika perangkat gaming, terlebih mouse sangat menentukan kemenangan dari para gamer eSports.

Melihat gurihnya bisnis tersebut, BenQ pada akhirnya meluncurkan sebuah mouse untuk para penggemar eSports. Mereka mencoba peruntungan melalui Zowie S1 dan S2, dua mouse yang memang dirancang untuk menunjang para penggiat eSports.


berita tentang tek.id

BACA JUGA

Plantronics BackBeat FIT 3200, earphone penggemar olahraga

Corsair 220T RGB, casing ramah airflow!

QNAP QSW-308-1C, switch murah untuk rumah dan bisnis kecil


Jika boleh jujur, desain dari kedua mouse ini mengingatkan kami kepada mouse gaming dari sebuah perusahaan untuk ‘gamer’ yang populer beberapa tahun lalu. Bentuknya simpel namun terasa membosankan.

Kedua mouse ini pun lebih ringan dari yang kami kira. S1 memiliki bobot sekira 87 gram, sedangkan S2 memiliki bobot lebih ringan lagi, yakni 82 gram. Secara pribadi, kami lebih senang menggunakan mouse yang memiliki bobot di atas 100 gram.

Mouse ini pun memiliki cat dengan matte finish, dengan logo Zowie di bagian bawah mouse yang hadir tanpa dukungan LED RGB. Awalnya, kami mengira mouse ini dapat bertahan untuk tidak kotor dalam waktu yang lama. Sayangnya, setelah beberapa kali saja di sentuh, mouse ini langsung terlihat kotor.

Yang menarik, ada satu fitur yang sangat jarang ada di mouse gaming lain, yakni hadirnya pengaturan Report Rate di bagian bawah perangkat. Bukan berarti mouse lain tak memilikinya. Tapi pengguna Zowie dapat mengontrolnya langsung menggunakan satu sentuhan tombol saja. Sedangkan mouse lain dapat diatur melalui software.

Jika kalian kurang familiar dengan Report Rate, secara sederhana, fitur ini merupakan kemampuan chipset mouse untuk melaporkan posisinya ke komputer. Hal ini sama dengan Polling Rate di beberapa merek mouse lainnya.

Semakin tinggi nilai Polling Rate, semakin besar kemampuan mouse untuk mendeteksi DPI dan memberikan skrip-nya ke komputer. Alhasil, pembacaan lokasi mouse menjadi lebih akurat.

Ada tiga pengaturan yang dapat dipilih oleh pengguna, yakni 125Hz, 500Hz, dan 1000Hz. Saya sarankan untuk melakukan penyetelan di 1000Hz dan lupakan selamanya.

Sedangkan di sebelah kanan tombol Report Rate, terdapat pengaturan DPI. Ada total empat pengaturan yang dapat dipilih, yakni 400 DPI, 800 DPI, 1600 DPI, dan 3200 DPI yang diwakili dengan warna merah, ungu, biru, dan hijau secara berturut-turut.

BenQ juga mengklaim bahwa mouse ini menggunakan sensor Zowie tuned 3360. Dengan menggunakan kombinasi ini, mereka mengklaim bahwa baik Zowie S1 dan S2 memiliki akurasi yang tinggi.

Namun, satu pertanyaan kami? Mengapa semua tombol pengaturan terdapat di bagian bawah? Kenapa tidak disematkan di bagian atas saja?

Mari kita kesampingkan pertanyaan tersebut. Ada beberapa hal lagi yang masih kami ingin bahas dari desain kedua mouse ini, yakni hadirnya dua tombol di samping kiri perangkat tersebut. Agak aneh sebenarnya penempatan kedua tombol tersebut yang hanya di sebelah kiri. Padahal BenQ menyebut kalau mouse ini ambidextrous.

Oh iya, BenQ tidak menyertakan driver untuk banyak perangkat Zowie, termasuk S1 dan S2. Artinya, kalian harus melakukan pengaturan in-game untuk setiap gim yang berbeda.

Oke, cukup berbicara desain. Selanjutnya kami akan menceritakan pengalaman menggunakan kedua mouse ini. Keduanya memiliki karakteristik yang sama, yakni cukup responsif pada saat digunakan baik dalam bermain gim FPS dan MOBA.

Pad bawah dari Zowie S1 dan S2 pun cukup licin digunakan, baik di atas meja berbahan kayu, mousepad, dan kaca. Selain itu, sensornya juga cukup sensitif saat digunakan di atas kaca, namun lari-larian saat digunakan di atas cermin.

Ada satu hal yang kami harus acungi jempol dari mouse ini, yakni pada saat diangkat dan diletakkan, kursor tidak terlalu lari jauh dari titik awal. Padahal, saya menggunakan DPI tertinggi dalam melakukan pengetesan.

Perbedaan antara S1 dan S2 ada pada ukurannya, dimana S2 memiliki dimensi rata-rata dua hingga empat milimeter. Tapi, rasanya ada perbedaan ukuran yang sangat besar di antara keduanya. Sepertinya, S1 ditujukan untuk mereka yang memiliki tangan yang lebih besar, seperti saya, sedangkan S2 ditujukan untuk anak-anak atau gamer wanita yang memiliki tangan yang relatif kecil.

Satu lagi perbedaan yang menurut kami agak aneh. Mousewheel dari S1 terasa lebih berat. Sedangkan untuk S2 terasa lebih ringan. Secara pribadi, kami lebih suka tipe mousewheel dari S2.

So, apakah Zowie S1 dan S2 layak untuk diandalkan? Dengan harga Rp1,2 juta-an untuk meminang kedua mouse tersebut, agak berat untuk kami rekomendasikan. Namun, bagi kalian yang mencari mouse gaming berukuran kecil, mungkin Zowie seri S2 ini dapat menjadi pilihan.

Sedangkan untuk Zowie S1, saat ini di pasaran masih banyak mouse gaming dengan fitur yang jauh lebih baik. Kecuali Anda mencari sebuah mouse gaming tanpa RGB, baru saya akan rekomendasikan mouse tersebut.

 
Zowie S1 dan Zowie S2
Bagus ...
  • Ringan, Cocok Bagi Pemilik Tangan Kecil
  • Cukup Ergonomis
  • Nyaman Digunakan
Kurang ...
  • Harga Cukup Mahal
  • Model Ketinggalan Zaman, Cenderung Membosankan
  • Terlalu Kecil dan Ringan untuk Pemilik Tangan Besar

 

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini:
Tags :
BenQ Mouse