Galaxy A10 vs A20, kembar tapi aneh

Galaxy A10 performanya secara sintetis memang lebih unggul, tapi untuk bermain gim, A20 jauh lebih nyaman.

Galaxy A10 vs A20, kembar tapi aneh (Foto: Tek.id)

Seri Galaxy A milik Samsung kini diperluas ke kelas entry. Hal ini diputuskan setelah Samsung meng-upgrade Galaxy J ke Galaxy A. Oleh karenanya, kini Sahabat Tek tak akan lagi mendapati smartphone baru seri Galaxy J. Galaxy A sendiri menargetkan kalangan muda yang aktif di media sosial, begitu pula dengan Galaxy A10 dan A20.


BACA JUGA

Samsung jadi vendor pertama yang ingin produksi RAM 12Gb LPDDR5

Samsung mulai rancang Galaxy Fold 2

Samsung hadirkan Galaxy A80 dengan rotating camera


Oleh sebab itu Galaxy A10 dan A20 juga dilengkapi sejumlah fitur yang disesuaikan dengan target sasarnya. Salah satunya layar lega berkat poni, agar pengguna bisa menikmati konten dengan maksimal. Ada juga kamera wide yang akan membantu pengguna membuat konten dalam angle yang lebih luas. Selengkapnya berikut ulasan Tek.id terkait Galaxy A10 dan A20.

Desain kembar

Serupa tapi tak sama. Galaxy A10 dan A20 sekilas tampak depannya sangat mirip. Saking miripnya, dua ponsel entry level Samsung ini sulit dibedakan saat dilihat dari tampilan depan. Keduanya sama-sama menggunakan poni yang Samsung sebut Infinity-V. Namun layar Galaxy A10 hanya didukung TFT 6,2 inci dan resolusi HD+.

Galaxy A20 sendiri layarnya sudah berteknologi Super Amoled 6,4 inci. Karena perbedaan layar tersebut, tingkat kecerahan layar Galaxy A20 lebih unggul dibanding A10. Hasil yang sama terlihat baik ketika kecerahan layar diatur paling rendah atau masimal. Sensitifitas layarnya juga terasa berbeda pada dua smartphone ini.

Layar Galaxy A20 terasa lebih responsif dan komponen layarnya lebih nyaman untuk dioperasikan jari. Galaxy A10 juga responsif dan seperti ponsel lainnya, namun saya rasa lebih nyaman mengoperasikan layar Galaxy A20.

Jika tampilan depannya identik, lain dengan tampilan belakangnya. Galaxy A10 mengemas kamera tunggal disertai lampu flash tepat di bawah lensa. Tak ada pemindai sidik jari yang mewarnai case ponsel tersebut. Menariknya, Galaxy A10 menempatkan speaker di belakang ponsel sehingga terkesan jadul mengingat mayoritas smartphone memasang speaker di bawah perangkat atau sisi lainnya.

Sementara itu Galaxy A20 tampilan belakangnya disertai kamera ganda dan lampu flash. Ada juga pemindai sidik jari, yang diposisikan seperti ponsel lainnya di belakang ponsel. Case pada kedua smartphone ini sama-sama menggunakan material polycarbonat sehingga tak licin digenggam.

Penempatan tombol kedua smartphone ini serupa dimana tombol power dan volume diletakkan sejajar di sisi kanan. Saya sendiri cukup suka dengan konsep ini karena memudahkan pengoperasian ketika ponsel ketimbang tombolnya terpisah seperti di seri Galaxy S.

Performa beda tipis

Soal performa, Galaxy A10 ditopang chipset Exynos 7884 yang dipasangkan dengan RAM 2GB dan penyimpanan 32GB. Galaxy A20 juga hadir dengan chipset Exynos 7884, namun dikombinasikan dengan RAM 3GB dan penyimpanan 32GB. Sahabat Tek bisa memperluas penyimpanan dengan memanfaatkan slot microSD yang tersedia secara terpisah dari slot kartu SIM. Mengacu spesifikasi tersebut, tampak jelas bahwa dapur pacu keduanya ditopang prosesor yang sama. Perbedaannya hanya RAM Galaxy A20 yang sedikit lebih besar.

Namun anehnya hasil pengujian 3DMark dan PCMark menunjukkan performa Galaxy A10 lebih unggul dibanding A20. Bahkan hasil tersebut terlihat di hampir semua pengujian, meski selisihnya tak begitu banyak. Skor 3DMark Ice Storm Unlimited A10 mencapai 11270, sementara A20 meraih skor 11263. Di aplikasi PCMark Work Performance, Galaxy A10 menghasilkan skor lebih tinggi dibanding A20, dengan skor masing-masing 5156 dan 5100.

Performa Galaxy A20 juga didukung dengan GPU Mali-G71 MP2. Saat digunakan untuk memainkan gim PUBG, pengalaman bermain gim-nya terbilang masih cukup nyaman. Pergerakan dalam gim juga terasa cukup nyaman. Namun, untuk mendapatkan pergerakan yang jauh lebih mulus, saya  harus mengatur tingkat grafis ke smooth dan frame rate-nya pada tingkat rendah. Fitur gyroscop-nya juga bisa dijalankan dengan baik, sehingga terasa cukup nyaman memainkan gim yang terbilang berat tersebut.

Sementara itu, pengalaman bermain gim di A10, saya rasa kurang nyaman. Untuk mengatasinya, sebaiknya Sahabat Tek mengatur grafis yang paling rendah agar pengalamannya terjaga dan pergerakannya smooth. Pengalaman saya memainkan gim PUBG di A10 memang tak senyaman di A20. Apalagi A10 tidak mendukung fitur gyroscop, sehingga agak terasa sulit untuk menembak musuh.

Fitur performa lainnya yaitu baterai. Galaxy A10 dilengkapi baterai 3.400 mAh dan A20 4.000 mAh. Selain kapasitas dayanya yang besar, A20 juga didukung fitur fast charging 15W. Untuk durasi charging-nya sekitar 2,5 jam hingga baterai terisi penuh. Galaxy A10 sendiri, durasi charging-nya sekitar dua jam karena tidak didukung fitur fast charging.


Kamera ganda A20 vs kamera tunggal A10

Galaxy A10 dan A20 memiliki kamera utama yang sama, dengan resolusi 13MP dan lensa berjenis wide. Yang menjadi pembedanya adalah A20 dilengkapi kamera ganda dengan sensor sekunder 5MP dan lensa berjenis ultra-wide. Akan tetapi, meski kamera utamanya tunggal, kamera Galaxy A10 juga mampu menawarkan opsi wide angle dengan mengubah opsi pengambilan objek.

Hasilnya pengujian menunjukkan gambar bidikan Galaxy A20 memang tampak lebih detil dan kontras. Dengan lensa utamanya yang berjenis ultra-wide, angle pada gambar A20 juga lebih luas dibanding A10 meski digunakan pada scene yang sama. Meski begitu, hasil jepretan Galaxy A10 juga tak kalah menawan karena warna gambarnya saya rasa lebih natural dibanding A20 yang bernuansa kekuningan.

Mengingat konfigurasinya yang berbeda, wajar saja jika Galaxy A20 menawarkan fitur kamera yang lebih kaya. Galaxy A20 menyediakan dukungan fitur Live Focus yang akan membantu mengakomodir foto dengan efek bokeh. Hasil pengujian saya, efek bokeh yang dihasilkan Galaxy A20 terbilang halus. Bokehnya tak berlebihan, sehingga terlihat natural. Detil gambar yang dihasilkan menggunakan mode tersebut pun masih tampak bagus.

Selain Live Focus, Sahabat Tek juga bisa memanfaatkan efek Beauty berkat dukungan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Dengan efek ini, Sahabat Tek bisa mengatur warna kulit, meniruskan wajah, memperbesar mata hingga mengatur warna. Efek Live Focus dan Beauty-nya juga bisa diaplikasikan pada kamera depan maupun kamera belakang Galaxy A20. Sebagai pelengkap, A10 dan A20 juga membawa dukungan stiker yang bisa digunakan di kamera depan maupun kamera belakangnya.

Berbeda dengan kamera belakangnya yang memiliki punya resolusi serupa, kamera depannya kedua smartphone ini mengusung resolusi yang bervariasi. Galaxy A10 dibekali kamera selfie 5MP disertai bukaan f/2.0 dan Galaxy A20 beresolusi 8MP dengan aperture yang sama.

Saya menguji dua smartphone ini untuk ber-selfie ria di indoor dan outdoor agar mendapat perbandingan yang relevan. Untuk hasil selfie indoor, lagi-lagi fokus dan detil gambarnya menang Galaxy A20. Akan tetapi warna Galaxy A10 tetap lebih natural dan mendekati warna asli objek. Hasil selfie A20 juga bernuansa kekuningan seperti hasil kamera belakangnya, sehingga warna objek kurang natural. Angle yang mampu diabadikan kamera A20,lebih luas dibanding A10. Meski begitu, hasil selfie Galaxy A10 terbilang lumayan untuk smartphone kelas entry.

Untuk selfie outdoor, detil dari kamera A20 semakin jelas terlihat. Kontas wananya juga semakin tajam, sehingga hasilnya terlihat menawan. Perbedaan yang jelas juga tampak pada hasil selfie Galaxy A10. Jika di indoor warnanya terlihat natural, perubahan justru terjadi saat selfie outdoor. Warnanya menjadi bernuansa kekuningan sehingga hasilnya begitu kontras dengan hasil selfie A20. Angle selfie kedua ponsel ini juga berbeda dimana A20 menyajikan angle lebih lega.

Beralih ke fitur keamanan, Galaxy A10 hanya mengandalkan fitur Face Unlock untuk membuka kunci ponsel. Sementara itu, Galaxy A20 menawarkan opsi Face Unlock dan sensor sidik jari. Fitur Face Unlock di kedua ponsel bisa dijalankan dengan baik, namun saya rasa waktu pemindaiannya cukup lama dibanding ponsel Samsung lainnya bahkan dibanding ponsel kompetitor. Sensor pemindai jari A20 juga agak sedikit lambat. Belum lagi penempatannya yang hampir sama rata dengan case belakang ponsel, sehingga terkadang membuat saya bingung memposisikan jari.

Audio keduanya juga berbeda dimana Galaxy A20 mampu menyajikan audio yang lebih baik ketimbang A10. Audio A10 terdengar agak sember, apalagi ketika volumenya dimaksimalkan. Meski audio Galaxy A20 lebih bagus dari A10, kualitas audionya bisa dikatakan standar dibanding ponsel lain.

Kesimpulan

Galaxy A10 dibanderol seharga Rp1.799.000, sementara Galaxy A20 dijual seharga Rp2.299.000. Galaxy A10 performanya secara sintetis memang lebih unggul, tapi untuk bermain gim, A20 jauh lebih nyaman. Hal ini terbilang aneh, karena meskipun skor benchmark-nya menunjukkan A10 lebih unggul, tapi saat diajak bermain gim A20 yang menang. Pengalaman ini terlihat dari layarnya yang vivid dan fitur gyroscop-nya yang aktif. Di sektor kamera juga menghasilkan kesimpulan yang agak aneh. Di kondisi indoor, A10 tampak apik, tapi di outdoor A20 tampak lebih menarik. Dengan harganya yang terpaut Rp500.000-an, Galaxy A10 juga bisa dipertimbangkan jika Sahabat Tek menyukai warna yang lebih natural untuk hasil foto indoor.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: