Palapa Ring Timur selesai, startup dari timur siap melejit

Infrastruktur jaringan telekomunikasi menjadi salah satu pendorong untuk meningkatkan geliat startup internet di tanah air. Proyek strategis seperti Palapa Ring pun selesai dibangun, apakah ada bintang baru yang muncul?

Perkenalan saya dengan internet yang cukup intensif adalah pada saat menempuh kuliah di Malang, Jawa Timur, periode 2008-2012. Akses ke internet kala itu masih lewat bilik-bilik warung internet. Internet waktu saya kuliah, adalah tempat untuk mengeksplorasi Friendster, Facebook, mencari materi tugas kuliah, artikel, maupun jurnal ilmiah.

Lain cerita dengan teman satu kos sekaligus kakak kelas saya di kampus yakni, Agus, Excel, Hanif, dan Andreas. Empat orang yang gemar menggarap desain grafis di kos-kosan ini, mampu memanfaatkan internet lebih daripada kebanyakan mahasiswa lainnya.


berita tentang tek.id

BACA JUGA

Bapak Web punya ide untuk menyelamatkan Web

Loon terus lanjutkan misinya untuk berikan internet di wilayah pedalaman

Kuliah dengan beasiswa, pendaftaran ditutup hari ini


Awalnya mereka anak Warnet juga seperti saya. Kendati begitu, mereka kerap ikut lomba desain dari luar negeri yang diadakan situs desain buatan Australia. Bayaran mereka waktu itu kalau menang desain kaos saja, sudah dalam mata uang dolar amerika. Singkat cerita, mereka pun patungan untuk membeli modem dan paket data yang mahal kala itu, agar aktivitas mereka lebih terpusat di kos-kosan.

Tak lama setelahnya mereka benar-benar mendapat proyek yang lebih serius dari internet. Sebuah proyek desain untuk template slide persentasi di Power Point pun mereka kerjakan siang malam. Jumlah pesanannya tidak sedikit. Tak sampai setahun mereka menekuni pekerjaan tersebut, rekan kerja mereka asal Swedia, empunya proyek pun bertandang ke Malang dan membuka kantor cabang di sana. Tak ayal, Agus, Excel, Hanif, dan Andreas jadi duduk di jajaran manjemen dalam usia relatif muda.

Agus sampai harus dop out dari kuliah saking sibuknya bekerja di kantor dan tak pernah kelihatan di kampus. Excel, nyaris mengikuti jejaknya. Sementara Hanif dan Andreas, saat proyek itu berlangsung, sudah lulus kuliah terlebih dahulu, bahkan Andreas menempuh S2 sembari membesarkan perusahaan slide persentasinya di Malang. Klien mereka tidak main-main kala itu, sampai dari luar negeri segala.

Di zaman akses internet masih cukup sulit seperti di atas, orang-orang kreatif seperti Andreas, Hanif, Agus, dan Excel pun menemukan kesempatannya sendiri. Tidak heran, per Februari 2019, telah tercatat lebih dari 2000 startup internet bermunculan di tanah air.

Tidak bisa kita pungkiri, bahwa landasan utama dari kemunculan ribuan startup ini adalah infrastruktur internet yang mulai merata. Tanpa pembangunan infrastruktur internet yang baik dan mengusung asas keadilan sosial, kisah-kisah seperti kawan saya di Malang, atau 2000 startup lainnya, tidak akan pernah terjadi. Tidak ada Gojek, Tokopedia, Bukalapak, ataupun Traveloka.

Proses Panjang Proyek Palapa Ring

Tahun 1998 adalah cikal bakal pembangunan infrastruktur internet di Indonesia. Saat itu, pemerintah membangun sebuah proyek bernama Nusantara 21. Sayang, krisis ekonomi yang melanda Indonesia, membuat proyek tersebut mangkrak.

Tujuan utama dari Nusantara 21 adalah meningkatkan cakupan telekomunikasi di 300 kecamatan seluruh Indonesia. Konsep yang digunakan adalah “information highway” yaitu integrasi infrastruktur jaringan di Indonesia dengan menggunakan satelit, kabel fiber optik, kabel televisi, seluler, dan teknologi penyiaran.

Setelah terhambat selama beberapa tahun, pada 2005 digemakan sebuah inisiasi baru bernama Cincin Serat Optik Nasional (CSO-N) yang diprakarsai oleh PT Tiara Titian Telekomunikasi (TT-Tel).

Mereka mengajukan proposal berupa jaringan kabel kasar bawah laut berbentuk cincin terintegrasi berisi frekuensi pita lebar yang membentang dari Sumatera Utara hingga Papua Barat dengan perkiraan panjang sekitar 25.000 km.

Setiap cincin akan meneruskan akses frekuensi dari satu titik ke titik lainnya di setiap kabupaten. Di atas kertas, akses ini mendukung jaringan optik dengan kapasitas 300 gbps hingga 1.000 gbps.

Pemerintah kemudian memopulerkan gagasan tersebut dengan nama Palapa O2 Ring. Tapi, nama tersebut berubah menjadi Palapa Ring dan menjadi proyek strategis nasional. Dua tahun setelah 2005, proses tender pun dilakukan oleh pemerintah. Mereka menargetkan untuk memulai pekerjaan pada 2008 dan selesai pada 2013. Sayang, proyek ini kembali menemui jalan buntu.

Pada akhirnya, pada 2016, tepatnya pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, proyek ini kembali dilakukan. Dipercayakan kepada Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, proyek ini kemudian berlanjut.

Proyek Palapa Ring ini merupakan proyek besar, misinya adalah menjangkau 34 provinsi, 440 kota/kabupaten di seluruh Indonesia. Total panjang kabel yang dibutuhkan pun mencapai 35.280 kilometer di bawah laut dan 21.807 kilometer di daratan.

Proyek Palapa ring sendiri dibagi menjadi tiga paket, yakni paket Barat, Tengah serta Timur. Beberapa wilayah yang terjangkau oleh proyek ini mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua, yang terhubung bagaikan lingkaran besar.

Rampungnya Palapa Ring

Setelah menunggu selama dua tahun, tepatnya pada 11 Mei 2018, Kominfo menyatakan bahwa proyek Palapa Ring Barat sudah rampung sepenuhnya. Masyarakat pun sudah dapat menikmati jaringan internet yang baik.

Terbukti, pada masa rampungnya Palapa Ring Barat, data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia menunjukkan angka yang menarik. Penetrasi pengguna internet meningkat menjadi 171,17 juta (2018). Meningkat sekitar 10% dari penetrasi pengguna internet tahun sebelumnya, 143,26 juta.

Meski belum merata sepenuhnya, kontribusi pengguna internet per wilayah di Indonesia mulai membaik. Kontribusi pengguna internet di wilayah Kalimantan 6,6%, Bali & Nusa Tenggara 5,2%, Sulawesi-Maluku-Papua 10,9%. Karena tahun 2018 lalu, Palapa Ring Barat sudah lampung, terjadi kenaikan pengguna sebesar 21,6% kontibusi dari Sumatra. Pada tahun 2017 lalu Sumatra berkontribusi sebesar 19,09%.

Pada akhirnya proyek Palapa Ring Timur pun dinyatakan rampung pada akhir Agustus 2019. Pihak pemerintah pun sudah melakukan uji coba layanan tersebut dan berjalan dengan sangat baik.

“Kita sudah melakukan uji coba jaringan dengan melakukan panggilan dari Nunukan, Kalimantan Utara ke Asmat, Papua,” kata Rudiantara.

Rudiantara pun menyiratkan bahwa pihaknya sudah siap untuk meresmikan Palapa Ring Timur dalam waktu dekat ini. “Kami hanya tinggal menemukan momentum yang tepat (untuk meresmikan Palapa Ring Timur),” ujarnya.

Startup dari Timur Indonesia

Hasil data APJII menunjukkan hal menarik dalam perilaku konsumen internet di Indonesia. Ada tiga alasan terkuat kenapa masyarakat kita memanfaatkan internet yakni, komunikasi perpesanan (24,7%), beraktivitas di sosial media (18,9%), dan mencari informasi terkait pekerjaan (11,5%).

Menggaris bawahi aktivitas terakhir, soal mencari informasi terkait pekerjaan inilah yang biasanya menimbulkan peluang-peluang baru. Seperti halnya apa yang dilakukan Agus, Excel, Andreas, dan Hanif dahulu. Tidak heran, orang-orang yang mencari informasi terkait pekerjaan ini mendapatkan solusi baru, akses ke model bisnis baru, pelatihan online, dan lain-lain yang memperkaya pengetahuan dan pengalaman mereka.

Merujuk penelitian Google-Temasek tahun 2018, potensi ekonomi digital di Indonesia pada tahun 2025 diperkirakan akan mencapai USD100 miliar. Pertumbuhan dan potensi ekonomi digital Indonesia termasuk yang terbesar di kawasan ASEAN.

“Dengan hadirnya Palapa Ring Timur ini saya berharap akan ada potensi-potensi startup yang tumbuh di luar Jawa,” kata Rudiantara dengan penuh harapan.

Tren kemunculan startup dari luar Jawa pun mulai terlihat, salah satunya adalah Kopitani.id. Startup ini merupakan salah satu startup di bidang pertanian yang muncul dari Makassar, Sulawesi Selatan. Kopitani sendiri mengambil ceruk pasar, sebagai marketplace untuk menjajakan biji kopi dari petani langsung ke pembeli.

“Kami memiliki cabang tidak hanya di Sulawesi Selatan saja, melainkan di Papua, Flores, dan lainnya,” kata salah satu Co-Founder Kopitani.id, Ivan Arie Sustiawan.

Meski saat ini dia memiliki banyak petani, namun ada satu hal yang menjadi penghambat mereka, yakni penyebaran internet. “Kami masih mengalami kendala, terutama di Papua. Kami merupakan startup berbasis teknologi. Jadi internet merupakan hal yang sangat penting bagi kami,” ujar Ivan.

Saat mengetahui paket Palapa Ring Timur sudah rampung, dia pun merasa sangat senang. Dia berharap dengan masuknya internet ke Indonesia Timur, bisa membantu mengembangkan startup miliknya.

“Saya harap sih bisa segera masuk (internet) ke Papua agar kita bisa lebih cepat membantu mitra petani kita yang ada di sana. Bisa membantu kami juga buat segera mewujudkan ekspansi ke Jakarta,” harapnya.

Geliat Industri eSport

Tidak hanya startup, salah satu industri yang ikut naik pamor kala infrastuktur internet menjadi lebih baik adalah eSport di Indonesia. Industri ini juga ikut mendapatkan momentum di era internet kencang dan terjangkau seperti sekarang. eSport saat ini memiliki sebuah potensi yang sangat besar. Menkominfo Rudiantara mengatakan, pada 2017 silam, penghasilan gim di kawasan Asia Tenggara sebesar USD2,216 juta disumbang Indonesia sebesar 21 persen. “Kita masih punya banyak potensi untuk berkembang di masa depan,” ujar Rudiantara.

Uniknya, atlet eSport tak melulu berasal dari Jakarta atau Pulau Jawa yang infrastuktur internetnya memang sudah baik. Tersebutlah nama Adriand 'Drian' Larsen, salah satu atlet eSport asal Pontianak, Kalimantan Barat. Dia adalah salah satu andalan tim Onic eSport.

“Saya waktu pertama kali mengajak Adrian sampai harus ke Kalimantan. Saya izin ke orangtuanya untuk membawa Adrian ke Jakarta,” kata manajer tim Onic, Chandra Wijaya ketika menceritakan proses pencarian bakatnya tersebut.

Di sisi lain, kami juga sempat berbincang dengan salah satu manajer umum dari Onic eSport, Justin. Dalam perbincangan melalui telepon, dia mengaku saat ini tertarik untuk mencari bakat di luar Jawa.

“Kami memiliki keinginan mencari bakat-bakat atlet eSport dari luar Jawa. Tapi kita tahu, internet di berbagai wilayah selain Jawa masih parah. Anak-anak (Onic) yang dari Kalimantan sering mengeluh kalau sedang bermain, jaringannya sering turun naik,” katanya.

Kehadiran internet yang stabil melalui program Palapa Ring, menjadi harapan Justin. Ia memimpikan akan ada semakin banyak acara-acara eSport di luar Jawa, sehingga dapat memperluas kesempatan bagi pemain eSport berbakat menunjukkan keahlian mereka.

Rudiantara sendiri pernah mengatakan bahwa saat ini eSports bukan sekadar permainan, tapi sudah menjadi ajang profesional. “Ini peluang bagi Indonesia, tidak hanya untuk mengembangkan gim lokal tapi menjadi wadah bagi anak muda kita mengukir prestasi esports di level internasional.”

Selain itu, dia juga menegaskan bahwa saat ini, Pemerintah tidak lagi akan menjadi regulator. Melainkan mereka akan menjadi fasilitator dan akselerator untuk semua ekonomi bidang kreatif, seperti eSport dan startup.
 

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: