Mengapa kita perlu apresiasi Apple Developer Academy?

Apple menjadi vendor perangkat 4G pertama yang mengusung investasi R&D dalam praktik pemenuhan TKDN di Indonesia

Mengapa kita perlu apresiasi Apple Developer Academy? (Foto: Shutterstock)

Indonesia memang agak ketinggalan dari sisi pengembangan teknologi, namun gemar mengadopsi teknologi baru. Alhasil, banyak perusahaan teknologi menjadikan Indonesia sebagai pasar yang penting. 

Kondisi ini, jika dibiarkan, hanya akan membuat masyarakat Indonesia konsumtif. Padahal, sumber daya di Tanah Air memiliki daya saing yang sama. Menyadari hal tersebut, pemerintah atau dalam hal ini Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengeluarkan kebijakan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) yang juga berlaku bagi vendor smartphone yang mengadopsi konektivitas LTE. 

Kemenperin dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengharuskan perangkat 4G yang beredar di Indonesia memiliki 30 persen komponen lokal. Aturannya berlaku sejak 1 Januari 2017. Pada akhirnya, kebijakan ini akan membuat perusahaan tak hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar, namun juga memberikan kontribusi bagi negara.

Aturan TKDN itu bisa diterapkan vendor, baik melalui investasi software atau investasi hardware. Sebagai gambaran, investasi software memiliki komposisi aplikasi lokal 70 persen, pengembangan 20 persen dan manufaktur 10 persen. Jalur investasi hardware sendiri memiliki komposisi manufaktur 70 persen, pengembangan 20 persen dan aplikasi 10 persen.

Selain dua opsi tersebut, vendor perangkat 4G juga bisa memilih opsi investasi Research & Development (R&D). Adapun skemanya, besaran Rp250 miliar-Rp400 miliar setara dengan nilai TKDN sebesar 20 persen, investasi senilai Rp400 miliar-Rp550 miliar setara dengan TKDN 25 persen, investasi Rp550 miliar-Rp700 miliar setara TKDN 30 persen, investasi senilai Rp700 miliar-Rp1 triliun setara TKDN 35 persen, dan investasi di atas Rp1 triliun setara dengan nilai TKDN 40 persen.

Sementara itu, besaran yang harus dipenuhi oleh perusahaan adalah minilai 30 persen dari nilai TKDN. Hampir mayoritas vendor perangkat 4G memilih jalur investasi hardware atau software guna memenuhi kewajibannya menaati kebijakan TKDN. Beberapa vendor, seperti Xiaomi dan Asus bermitra dengan pabrikan lokal untuk merakit ponsel 4G yang dipasarkan di Indonesia. Selebihnya, mereka menyematkan aplikasi lokal dan komponen buatan Indonesia.

Berbeda dengan vendor lainnya, Apple memilih jalur lain, yakni investasi R&D. Sempat beredar kabar bahwa Apple akan membangun pusat riset di Indonesia. Namun, raksasa teknologi itu rupanya membangun fasilitas Apple Developer Academy di Bumi Serpong Damai (BSD) City, Tangerang, Banten, guna memenuhi kewajiban TKDN-nya. 

"Dari dulu bicaranya bikin akademi. Innovation itu kan academy... Kalau kita bicara inovasi, itu software developer, itu aplikasi. Ini cara menjalankannya berdasarkan riset-riset yang mereka miliki, sehingga mereka yang memilih instrukturnya," kata Menteri Perindustrian, Airlangga Hartanto usai pembukaan Developer Academy di BSD pada 7 Mei lalu.

Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menambahkan bahwa R&D bermacam-macam jenisnya. Apple sendiri memilih berfokus pada talent untuk mengembangkan aplikasi sebagai upaya memenuhi TKDN, yang dinilai Rudiantara masih termasuk konteks R&D.

"R&D itu macem-macem, ada engineering yang bikin kaya begini (aplikasi), nah itu kan kita tidak manufaktur itu. Kita R&D nya fokus di talent karenanya kita di development application. Jadi kita tetap dalam konteks itu," terang Menteri yang akrab disapa Chief RA tersebut.

Dengan demikian, Apple menjadi vendor perangkat 4G pertama yang mengusung investasi R&D dalam praktik pemenuhan TKDN di Indonesia. Apple juga menjadi satu-satunya vendor yang memilih jalur tersebut, setidaknya untuk saat ini.

Jika dibandingkan, skema TKDN yang wajib dipenuhi oleh setiap produsen perangkat 4G memang memiliki tujuan yang baik di Indonesia. Namun, ditilik dari sisi peningkatan mutu dan SDM, langkah yang ditempuh Apple dengan memilih jalur investasi R&D memang terbilang lebih baik. Pasalnya, pengembang iOS di Indonesia tercatat masih sedikit ketimbang Android.

Untuk diketahui, menurut Fahrul Haqi, CTO Digital Nusantara Advertensi (DNA) yang berbincang dengan Tek.id, developer iOS di Indonesia memang dalam jumlah yang cukup. Akan tetapi, menjadi pengembang iOS cukup sulit mengingat ketersediaan referensinya masih jarang. Tak jarang, mereka yang masih menjajaki karier sebagai pengembang iOS kerap mengalami kendala dan tak menemukan solusi.

Belum lagi, tingkat kerumitan dalam mengembangkan aplikasi berbasis iOS yang lebih tinggi ketimbang Android, sehingga jumlah pengembang iOS di Indonesia pada 2010 hingga 2013 masih sedikit. Pada saat itu, bahasa pemrograman yang digunakan untuk iOS hanya Objective-C. 

Namun, pada 2014, Apple memperkenalkan bahasa pemrograman Swift yang lebih sederhana, sehingga banyak pengembang baru yang menggunakan bahasa tersebut dan komunitasnya semakin bertambah. Pun begitu di Indonesia.

Tak mengherankan jika pengembangan aplikasi iOS lebih lama dibanding Android. Mengingat rumitnya merancang aplikasi iOS, harganya pun lebih mahal dari Android. Perbedaan harganya di Indonesia bahkan bisa mencapai 33 persen dari harga satu aplikasi berbasis Android. Pembuatan satu aplikasi iOS untuk di Indonesia misalnya dihargai senilai Rp50 juta, sementara versi Android seharga Rp40 juta.

Wajar saja karena untuk mencantumkan aplikasi di App Store pun harus melalui berbagai tahapan yang juga lebih rumit dari Play Store. Belum lagi, harga sebuah akun pengembang di App Store yang jauh lebih mahal dari Play Store. Sebagai informasi, harga akun di App Store untuk perorangan mencapai USD99 atau setara Rp1,4 juta, sementara akun untuk perusahaan dipatok seharga USD299 atau sekitar Rp4,2 juta. Biaya tersebut bahkan hanya berlaku untuk satu tahun saja, sehingga developer harus mengeluarkan biaya lagi guna melakukan perpanjangan. Di Play Store, sebuah akun bisa ditebus hanya dengan USD25 atau setara Rp350 ribu yang bisa digunakan untuk selamanya baik oleh perorangan maupun perusahaan.

Terkait Developer Academy di Indonesia, tampaknya Apple juga berkeinginan agar aplikasi di App Store lebih beragam. Hadirnya fasilitas dari Apple juga akan membantu pengembang iOS di Indonesia untuk mendapat pelatihan langsung dari perusahaan sehingga lebih mudah untuk dipahami ketimbang mencari referensi sendiri.

Berdiri di atas luas lahan sekitar 2.000 meter persegi, fasilitas Developer Academy Apple yang disokong Sinarmas Land itu telah disewa Apple hingga lima tahun ke depan. Fasilitas ini juga menjadi Developer Academy pertama di Asia, dan ketiga di dunia setelah Brasil dan Italia.

Mulanya ,Developer Academy hadir di Naples, Italia, pada 2016, kemudian hadir di Brasil di tahun lalu. Serupa dengan di Brasil dan Italia, Developer Academy di Indonesia juga ditujukan untuk menginspirasi dan menciptakan pengembang iOS di masa depan.

Di Indonesia sendiri, Apple menggelontorkan investasi untuk Developer Academy senilai USD44 juta atau setara dengan Rp615 miliar. Dari nilai tersebut, berarti Apple akan memenuhi TKDN jalur investasi dengan nilai TKDN sebesar 30 persen.

Tak hanya di BSD, Apple juga berencana membangun Developer Academy di dua lokasi lain yang berbeda, sehingga totalnya di Indonesia menjadi tiga fasilitas. Kabarnya, Developer Academy selanjutnya akan dibangun di Jawa Timur dan Sumatera Utara. Hingga saat ini, belum diketahui di mana tepatnya fasilitas itu akan berdiri. Yang jelas, dua Developer Academy akan tersedia di Jawa, sementara sisanya dibangun di luar jawa.

Memulai debutnya di Indonesia pada Juni mendatang, Developer Academy akan menampung 200 siswa sepanjang tahun 2018. Sebagai kelas perdana, Developer Academy diikuti oleh 75 siswa dari Bina Nusantara (BINUS) University. Tak tanggung-tanggung, Apple menghadirkan mentor langsung dari perusahaan, termasuk Apple regional Italia dan Brasil.

Sejauh ini, Developer Academy Apple memang bekerja sama dengan BINUS University, sehingga kelas yang diselenggarakan hanya bisa diikuti oleh mahasiswa perguruan tinggi tersebut. Ke depannya, semua masyarakat bisa mengikuti kelas Apple itu secara gratis. Kehadiran Developer Academy di Indonesia diharapkan mampu menciptakan pengembang untuk masa depan serta memajukan ekonomi masyarakat dalam menghadapi era digital.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: