Social Media Week Jakarta

Mengapa makin banyak perusahaan yang hadir di LINE?

LINE bukan lagi cuma favorit anak-anak muda. Banyak perusahaan yang punya akun resmi di layanan ini.

Banyak perusahaan mulai mencari inovasi dan gaya baru untuk memasarkan produk dan jasa mereka. Banyak yang tergiur dengan paparan jumlah pengguna smartphone yang selalu massif tiap tahun. Tentu, perusahaan itu ingin lebih jauh lagi berkomunikasi dengan konsumen mereka lewat smartphone yang makin mainstream.

Aplikasi messenger atau perpesanan, seperti LINE pun melihat peluang besar ini. Oleh karena itu, LINE mengubah langkah mereka yang dari sekadar aplikasi untuk chatting semata menjadi smart platform baru.


berita tentang tek.id

BACA JUGA

Instagram uji coba sembunyikan fitur like minggu depan

Caption Instagram untuk pesta Halloween

Instagram dorong pengguna untuk hentikan bullying


Kamis (14/9), Revie Sylviana, Business Development Director LINE Indonesia, menjabarkan hasil penelitian menarik mengenai perilaku konsumen Indonesia.

"Indonesia adalah pengguna banyak aplikasi messenger. Studi Inmobi untuk pasar Indonesia menunjukkan, rata-rata pengguna memasang sekitar 4 aplikasi messenger berbeda. Salah satu aplikasi messenger terkuat di Indonesia adalah LINE. Kenapa LINE, karena di sana pengguna mengkonsumsi berbagai jenis konten dan layanan," jelasnya.

Masih menurut penelitian Inmobi seperti yang dipaparkkan Revie, 97% pengguna smartphone lebih sering mengakses messenger setiap hari dalam waktu yang berbeda-beda, ketimbang aplikasi mobile lain. Itu karena 39% pengguna menganggap messsenger adalah platform komunikasi utama mereka.

Dalam sudut pandang LINE, di smartphone pengguna saat ini ada terlalu banyak notifikasi, konten, aplikasi, sehingga mereka mulai membutuhkan satu platform yang mampu mengintegrasi semua kebutuhan mereka. 

Melihat begitu lekatnya pengguna dengan aplikasi messenger mereka, inilah yang membuat messenger bergegas mengubah diri menjadi platform anyar.

Jangan heran kalau saat Anda membuka LINE, ada banyak layanan yang sebenarnya tersedia di dalamnya. Ada LINE Academy, LINE Jobs untuk mencari info lowongan kerja, LINE Today sebagai platform konten dan membaca berita, LINE Shop untuk belanja online, sampai layanan pembayaran LINE Pay.

Untuk mewujudkan ambisinya ini, LINE terkoneksi dengan banyak brand dan penyedia konten. Dan tampaknya semangat mereka untuk menggaet banyak merek dan publisher belum kendur sampai saat ini.

LINE meyakini, lewat aplikasi messenger inilah, akuisisi pelanggan menjadi lebih efektif, mudah, dan pelanggan tidak perlu lagi mengunduh banyak aplikasi.

"Tentunya kami juga sudah punya segmen, khususnya di Indonesia yang memiliki karakter pengguna yang unik," ujar Revie.

Ini menarik karena solusi yang ditawarkan LINE lebih ringkas dari Apps Store. Bagi perusahaan atau merek dagang, memasarkan aplikasi mereka sendiri butuh maintenance, strategi, dan dana yang tidak sedikit. 

Ini karena satu aplikasi harus bersaing dengan jutaan aplikasi lainnya di dalam ekosistem Apps Store. Untuk diketahui, pada tahun 2016 lalu Google Play Store Store memiliki 200 juta aplikasi di dalamnya (sumber: App annie).

Sementara menurut Revie, marketing komunikasi di aplikasi messenger bisa berjalan begitu efektif. Dia mencontohkan, Alfamart sebagai akun resmi yang memiliki pengikut terbanyak di LINE dengan jumlah 8,3 juta pengikut. 

LINE sendiri secara global memiliki 5,2 juta akun resmi brand-brand dari seluruh dunia. Sementara jumlah pengikut akun resmi itu semua lebih dari 9,3 miliar. Lewat akun-akun resmi itulah, brand berkomunikasi dengan konsumen mereka secara intensif.

Sementara itu dalam aplikasi messenger, pengguna bisa langsung berbagi informasi kepada kontak mereka. Keuntungan lainnya, akuisisi pengguna akan cepat dilakukan, sebab mereka berbagi dengan kawan yang dikenal, meski informasi tersebut awalnya berasal dari merek tertentu.

Penyampaian strategi marketing komunikasi lewat messenger pun bisa jadi lebih luwes. Bahkan, sampai mampu mencapai level trust.

Komunikasi yang intensif ini menutup jarak antara konsumen dengan merek secara signifikan. LINE Indonesia sendiri memiliki 60 juta pengguna terdaftar. Mereka kuat di segmen konsumen Millenials. Sekitar 80% demografi pengguna LINE Indonesia berusia di bawah 30 tahun. 

Memperbesar peluang

Saat ini, LINE tengah menggodok layanan baru agar pengguna LINE makin betah membuka aplikasi tersebut. Salah satunya memperkuat konten video. Sebut saja fitur LINE Video Call, LINE Group Video Call. Tidak lama lagi, LINE akan menghadirkan LIINE TV di Indonesia.

LINE juga mengadopsi kecerdasan buatan yang memiliki kemampuan untuk mengoleksi data perilaku pengguna. Ini tools baru bagi merek-merek untuk menyelami perilaku konsumen mereka lebih dalam lagi.

Lewat teknologi Artificial Intelligence ini, LINE kini mampu memprediksi perilaku chatting, konsumsi produk, lokasi pengguna, konsumsi konten, belanja, dan lain-lain. 

Inisiatif Artificial Intelligence ini juga sudah dilakukan beberapa brand seperti Unilever, Telkomsel, Microsoft, dengan menciptakan Chatbot di dalam aplikasi LINE. Semua ini menandakan transisi penting dari aplikasi messenger biasa ke smart platfrom yang lebih kaya fitur dan layanan.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: