Kenapa Huawei masuk daftar hitam dan peluangnya di dunia

Huawei masuk dalam daftar hitam Amerika Serikat. Lantas, apa sebabnya dan bagaimana kiprah Huawei ke depannya?

Kenapa Huawei masuk daftar hitam dan peluangnya di dunia Source: Google

Untuk dapat menjawab pertanyaan pada judul di atas, kita perlu memahami duduk perkara permasalahan yang terjadi antara Amerika Serikat dengan perusahaan asal Tiongkok ini. Singkatnya, pemerintahan Amerika Serikat, yang saat ini dipimpin oleh Donald Trump percaya bahwa Huawei terlibat dalam aktivitas yang mengancam keamanan nasional atau kebijakan luar negeri negara tersebut. 

Kalau dilihat dalam skala yang lebih luas, peristiwa ini bukan semata-mata karena Huawei itu sendiri, melainkan perang dagang yang terjadi di antara kedua negara tersebut. Apalagi aksi blokir-memblokir ini bukan Amerika yang memulai, melainkan Tiongkok. Semua pasti paham kalau di Negeri Tirai Bambu itu, layanan semacam Google, YouTube, Twitter, Instagram, Facebook dan bahkan Wikipedia tidak bisa diakses. Entah kebetulan atau tidak, semua layanan itu bermarkas di Amerika Serikat. 


berita tentang tek.id

BACA JUGA

Mate 30 Pro tak bisa dipakai untuk memesan ojol

Resmi, ini harga dan spesifikasi Huawei Mate 30 Pro di Indonesia

Cara mudah untuk install aplikasi Google di Huawei Mate 30 Pro


Tapi asal tahu saja, hal ini sebenarnya bukan hanya terjadi pada Huawei semata. Entity List ini berisi daftar organisasi dan individu yang dipercaya terlibat, atau menunjukkan risiko keterlibatan, pada aktivitas yang berlawanan dengan keamanan nasional Amerika Serikat atau kebijakan luar negeri negara tersebut. Daftar ini berupa dokumen sepanjang 281 halaman yang dikelola oleh Biro Industri dan Keamanan (Bureau of Industry and Security/ BIS) di bawah Departemen Perdagangan Amerika Serikat. 

Daftar ini memuat lebih dari 400 perusahaan dari berbagai negara, seperti Rusia, Tiongkok, Ukraina, Iran dan bahkan Inggris. Amerika sudah mencekal sekitar 317 perusahaan asal Rusia. Huawei sendiri merupakan satu dari 143 perusahaan asal Tiongkok yang berakhir di daftar ini, selain juga ada ZTE. Namun drama Huawei ini lebih menyita perhatian internasional. Karena pada dasarnya, Huawei berhasil menduduki peringkat kedua merek smartphone terbesar di dunia ketika sanksi itu dijatuhkan. 

Mate 30 proyek coba-coba?

Dampak-dampak yang dilaporkan ketika Huawei diumumkan masuk dalam Entity List mulai terasa. Salah satu dampak terbesar adalah perusahaan asal Tiongkok ini tidak lagi bisa menggunakan Android berlisensi dari Google. Dengan kata lain, Google Mobile Services (GMS) akan absen di perangkat terbaru Huawei. 

Menyadari hal itu, perusahaan ini berjuang untuk tetap dapat meluncurkan perangkat baru. Beberapa solusi, salah satunya adalah membuat sistem operasi sendiri pun muncul. Meski pada akhirnya, HarmonyOS ini belum dapat digunakan pada smartphone

Peluncuran Huawei Mate 30, meski diklaim sudah dipersiapkan dengan baik masih saja terkesan nekat. Kendati tetap bisa menggunakan sistem operasi Android yang bersifat open source itu, ketiadaan Google cukup membuat orang berpikir dua kali sebelum memutuskan membeli smartphone itu. 

Secara hardware, Huawei Mate 30 dan mate 30 Pro sendiri bukanlah perangkat yang ecek-ecek. Di dalamnya tertanam chipset Kirin terbaru dengan sejumlah inovasi yang ditawarkan. Nama Leica pun kembali tersemat di sektor kameranya. Di sana terdapat juga empat kamera belakang dan dua kamera depan. Bahkan dua dari kamera belakang itu juga sudah hadir dengan dukungan OIS. 

Kalau mau disebutkan satu persatu, ada banyak inovasi yang ditawarkan Huawei di Mate 30 Series, terutama di sektor kamera dan Kirin 990 buatan mereka sendiri. Tetapi yang paling menarik untuk disoroti adalah Huawei Mobile Services (HMS). 

Untuk mengakali absennya GMS, Huawei menggunakan layanan mobile buatan sendiri. Pun juga dengan toko aplikasinya. Pengguna Huawei akan mendapatkan toko aplikasi bernama App Gallery. Waktu meluncurkan perangkat ini, Richard Yu, CEO Huawei Consumer Product menyebut ada lebih dari 45.000 dukungan aplikasi di toko tersebut. Namun itu pun masih jauh dari kata cukup. Kalau dibanding Google Play Store jumlahnya masih kalah jauh. Data tahun 2018 menyebut bahwa ada lebih dari 3,6 juta aplikasi yang terdaftar di Google Play Store. Mengingat umurnya, wajar hal ini terjadi. 

Lalu, apakah Huawei Mate 30 series ini layak untuk dimiliki? Secara hardware memang sangat menjanjikan. Namun bagi pasar Eropa dan pasar lain di luar Tiongkok, hal ini cukup berpengaruh. Walau demikian bukan berarti tidak ada jalan keluar dari persoalan ini. Kalau mau dicari di internet, ada banyak tutorial untuk memasang Google Play Store dan aplikasi Google lainnya di Mate 30 series. Saat kami sarikan, ada dua cara yang digunakan, yakni menggunakan LZPlay dan VMOS. 

Solusi pertama hanya berlangsung sebentar saja. Huawei dan Google langsung bekerja sama untuk memblokir penggunaan aplikasi tersebut. Hal ini dilakukan lantaran LZPlay membutuhkan akses sampai ke inti sistem di Mate 30 series. 

Solusi kedua sampai saat ini masih bisa digunakan. Singkatnya VMOS akan menjalankan emulator Android berlisensi di Mate 30 series. Layaknya memiliki dua smartphone dalam satu wadah yang sama. Sejauh ini belum ada laporan mengenai dampak penggunaan aplikasi ini. 

Dilihat sekilas pun, hal ini menunjukkan betapa menggiurkannya Huawei Mate 30 series, terlepas dari tidak terdapatnya dukungan Google Mobile Services di dalamnya. Malahan klaim Huawei menyebut bahwa pihaknya sudah menjual lebih dari sejuta unit Mate 30 series hanya dalam waktu tiga jam. Tetapi harus dipahami, ini hanya terjadi di Tiongkok saja, yang mana negara tersebut sudah terbiasa dengan tidak adanya layanan Google. 

Indonesia bakal kebagian Mate 30 Pro

Huawei sendiri menyatakan akan memboyong Huawei Mate 30 Pro. Hal ini sudah dikonfirmasi oleh Huawei Indonesia. Dari 2-14 November mendatang, sudah dilakukan Registration of Interest (ROI) sistem online. Pelanggan yang tertarik dan ingin memiliki Huawei Mate 30 Pro lebih awal dapat melakukan pendaftaran ini.

Huawei juga menyebut bahwa masa pre-order akan berlangsung selama satu minggu, dari 15 hingga 22 November tahun ini. Sehari setelah masa pre-order berakhir, pada (23/11) produk yang bersangkutan sudah dapat diambil. Penjualan perdana akan dilakukan pada akhir bulan ini. 

“Butuh ada sesuatu yang baru, harus ada yang pertama dicoba. Ini best phone dengan spesifikasi Kirin baru dan teknologi kamera baru. Meski secara software kita baru mulai, akan ada adaptasi yang cukup panjang,” ungkap Lo Khing Seng, Deputy Country Director, Huawei Consumer Business Group Indonesia.

Soal dukungan layanan Google, Khing Seng menyebut bahwa hal ini bukanlah menjadi halangan bagi Huawei di Indonesia pada khususnya. Karena itu perusahaan ini menyiapkan HMS sebagai penggantinya. 

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: