×
Kanal
    • partner tek.id realme
    • partner tek.id samsung
    • partner tek.id acer
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd

Ancaman Deepfake Meningkat, Industri Keuangan RI Didorong Perkuat Sistem Anti-Fraud Berbasis AI

Oleh: Tek ID - Rabu, 29 April 2026 22:00

Ancaman deepfake meningkat, industri keuangan RI diminta perkuat sistem keamanan berbasis AI untuk cegah penipuan digital.

Industri Keuangan RI Didorong Perkuat Sistem Anti-Fraud Diskusi mengenai risiko deepfake pada keuangan digital Indonesia. dok. AFTECH

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), khususnya deepfake, mulai menjadi ancaman nyata bagi sektor jasa keuangan di Indonesia. 

Pelaku industri menilai, gelombang penipuan berbasis AI kini bergerak lebih cepat dan semakin sulit dideteksi, berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan digital nasional.

Isu ini mengemuka dalam forum tingkat tinggi yang digelar oleh Asosiasi Fintech Indonesia bersama ADVANCE.AI di Jakarta. Diskusi tersebut mempertemukan regulator, pelaku industri, hingga pakar teknologi untuk membahas strategi menghadapi ancaman deepfake yang kian kompleks.

Data dari Otoritas Jasa Keuangan dan Indonesia Anti Scam Centre menunjukkan skala risiko yang signifikan. 

Sepanjang akhir 2024 hingga 2025, tercatat sekitar 274.000 laporan penipuan keuangan dengan estimasi kerugian masyarakat mencapai lebih dari Rp6 triliun.

Deepfake yang mencakup manipulasi audio, video, hingga gambar berbasis AI, kini digunakan dalam berbagai modus penipuan, mulai dari pemalsuan identitas untuk lolos verifikasi nasabah (KYC) hingga kloning suara untuk otorisasi transaksi. 

Kondisi ini diperparah oleh pesatnya adopsi layanan keuangan digital yang membuka celah baru bagi pelaku kejahatan siber.

Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Perbankan OJK Indah Iramadhini mengatakan ancaman ini menjadi perhatian serius regulator.

“OJK sangat memahami bahwa infrastruktur digital yang selama ini mendorong kemajuan inklusi keuangan kini menjadi sasaran penipuan berbasis AI yang semakin canggih,” ujarnya. 

“Kami mengharapkan lembaga jasa keuangan menerapkan autentikasi berlapis, verifikasi liveness yang kuat, serta deteksi anomali secara real-time sebagai kebutuhan operasional utama,” imbuhnya.

Di sisi industri, Sekretaris Jenderal AFTECH Firlie Ganinduto menilai pendekatan mitigasi tidak bisa diseragamkan.

“Kami meyakini kolaborasi antara asosiasi, regulator, penyedia teknologi, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci dalam membangun ekosistem ekonomi digital yang tetap tangguh,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan ADVANCE.AI menyoroti pelaku penipuan kini beradaptasi lebih cepat dibandingkan kesiapan banyak institusi.

“Teknologi untuk mendeteksi dan mencegah serangan deepfake sebenarnya sudah tersedia dan matang. Tantangannya adalah bagaimana menerapkannya dalam skala besar,” ujar Entin Rostini, Government Relations Director, ADVANCE.AI Indonesia.

Forum ini juga menekankan pentingnya integrasi sistem keamanan dari tahap awal, mulai dari onboarding hingga pemantauan transaksi. 

Tanpa penguatan menyeluruh, ancaman deepfake berpotensi terus berkembang dan menggerus kepercayaan publik terhadap layanan keuangan digital.

×
back to top