Bahaya Tersembunyi Tren GRWM, Rutinitas Anak Bisa Jadi Celah Kejahatan Siber
Tren video GRWM anak berisiko mengungkap lokasi sekolah, rumah, dan rutinitas. Simak peringatan Kaspersky dan cara menjaga privasi anak di internet.
Ilustrasi kegiatan anak di dunia digital. dok. Kaspersky
Tren video Get Ready With Me (GRWM) yang populer di kalangan anak-anak dan remaja ternyata menyimpan risiko terhadap keamanan data pribadi.
Tanpa disadari, konten yang memperlihatkan rutinitas sehari-hari dapat mengungkap lokasi sekolah, lingkungan tempat tinggal, hingga kebiasaan anak kepada orang asing di internet.
Perusahaan keamanan siber Kaspersky mengingatkan informasi pribadi tidak selalu bocor melalui pencantuman alamat rumah atau nomor telepon.
Detail sederhana seperti seragam sekolah, logo pada tas, pemandangan dari jendela, hingga percakapan tentang jadwal kegiatan juga dapat menjadi petunjuk.
- TrendAI Integrasikan Nvidia Nemotron, Deteksi Ancaman Siber Tanpa Transfer Data Eksternal
- Indonesia Hadapi 108 Ribu Ancaman Siber per Hari, Keterampilan Analitis Jadi Tantangan
- Kaspersky AI Protect Meluncur di Asia Pasifik, Bisa Periksa File LLM dan Agen AI
- Kaspersky Temukan Situs Palsu iPhone 18, Incar Uang hingga Data Kartu Bank
Jika digabungkan, berbagai informasi tersebut berpotensi memperlihatkan lokasi yang sering dikunjungi anak, orang-orang di sekitarnya, serta pola aktivitas hariannya.
Informasi yang tersebar di internet juga membentuk jejak digital yang sulit dihapus sepenuhnya.
Foto maupun video yang awalnya dibagikan kepada teman dapat disalin, disebarluaskan, atau dikaitkan dengan informasi lain dari akun media sosial.
Kaspersky memperingatkan pelaku kejahatan siber dapat memanfaatkan informasi tersebut untuk membuat pesan penipuan atau phishing yang lebih meyakinkan, menyamar sebagai orang yang dikenal anak, hingga membuat profil palsu.
Untuk mengurangi risiko tersebut, orang tua disarankan membiasakan anak memeriksa kembali foto atau video sebelum diunggah.
Perhatikan apakah konten memperlihatkan identitas sekolah, lokasi rumah, nama teman, atau informasi mengenai rutinitas harian.
Anak-anak juga perlu diajak memahami informasi yang dibagikan secara daring tidak selalu terbatas pada audiens yang dituju.
Selain itu, keluarga dapat memeriksa jejak digital secara berkala dengan menelusuri nama, akun media sosial, dan profil lama yang masih dapat diakses publik.
Akun yang tidak lagi digunakan serta unggahan yang memuat informasi pribadi sebaiknya ditinjau kembali atau dihapus apabila memungkinkan.
Pengaturan privasi media sosial juga perlu diperiksa secara rutin, termasuk siapa yang dapat melihat unggahan, mengirim pesan, dan mengakses informasi profil.
Orang tua sebaiknya turut mengawasi izin aplikasi terhadap lokasi, kontak, dan data pribadi anak.
Cyber Literacy Projects Lead Kaspersky Andrey Sidenko mengatakan edukasi keamanan digital harus diberikan sejak dini agar anak memahami risiko dari aktivitas mereka di internet.
“Anak-anak saat ini tidak selalu bisa memilih kapan mereka menjadi terlihat oleh publik secara daring. Sebuah video yang dibuat untuk audiens terbatas bisa saja tiba-tiba menjangkau ribuan orang,” ujar Sidenko.
Menurutnya, mengingatkan anak untuk berpikir sebelum mengunggah konten saja tidak cukup.
Mereka juga perlu memahami cara melindungi privasi dan mengelola informasi yang telanjur tersebar.
Kaspersky menekankan pentingnya komunikasi terbuka antara orang tua dan anak mengenai aktivitas digital.
Dengan pendampingan yang tepat, anak-anak tetap dapat berkreasi melalui media sosial tanpa mengabaikan keamanan informasi pribadinya.









