×
Kanal
    • partner tek.id realme
    • partner tek.id samsung
    • partner tek.id acer
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd

Apakah megapixel besar pasti menghasilkan foto lebih bagus?

Oleh: Dommara Hadi S Erlan | Hieronimus Patardo - Selasa, 05 November 2019 16:15

Resolusi kamera yang besar pada smartphone belum tentu menghasilkan kualitas yang baik. Ada beberapa aspek teknis yang membuatnya kurang sempurna.

Apakah megapixel besar pasti menghasilkan foto lebih bagus?

Kehadiran Xiaomi Redmi Note 8 dan Redmi Note 8 Pro, Realme XT dan Oppo Reno2 yang menawarkan kamera utama beresolusi 48MP- 64MP, kembali memunculkan pertanyaan: apakah resolusi kamera yang besar, pasti menghasilkan foto yang lebih bagus? 

Teorinya, resolusi tinggi seharusnya menjadikan hasil gambar menjadi lebih detail. Dengan menggunakan kamera beresolusi tinggi, informasi setiap piksel pada gambar terpampang dengan jelas. Selain itu, resolusi yang tinggi juga memungkinkan kamera bekerja lebih cepat dan mulus tanpa gangguan block noise, yang kerap mengurangi detail pada foto.

Tetapi sayangnya, ukuran resolusi kamera smartphone tak selalu menentukan kualitas keseluruhan hasil gambar. Bagus atau tidaknya sebuah hasil foto ditentukan oleh tiga faktor, yakni: kualitas sensor gambar, lensa, dan prosesor. Oleh karena itu, hasil potret smartphone belum tentu lebih bagus, meski resolusinya lebih tinggi dibandingkan kamera DSLR atau mirrorless.

Ukuran sensor gambar pada kamera ponsel menjadi salah satu faktor penentu kualitas gambar. Semakin besar ukuran sensor, maka akan semakin bagus pula foto yang dihasilkan. Menurut halaman resmi Expert Photography, sensor gambar adalah bagian dari kamera yang berfungsi sebagai penangkap cahaya.

Sensor kamera bekerja layaknya film pada kamera analog. Ukuran sensor pada kamera ponsel berbeda-beda. Sebagai contoh, kamera utama Redmi Note 8 Pro yang memiliki resolusi 64 MP dilengkapi dengan ukuran sensor 1/1.7 inci, sedangkan kamera utama Redmi Note 8 dengan resolusi 48 MP dilengkapi dengan ukuran sensor 1/2 inci.

Sensor Redmi Note 8 Pro sedikit lebih besar dibandingkan Redmi Note 8 biasa. Namun demikian, mengingat Redmi Note 8 Pro mengusung resolusi lebih tinggi, maka ukuran piksel setiap sensor kedua ponsel tersebut sama, yakni 0,8 mikrometer. Oleh karena itu, cahaya yang dapat ditangkap dari setiap piksel untuk kedua ponsel tersebut menjadi sama banyaknya. 

Salah satu ponsel unggulan yang juga berresolusi tinggi adalah Huawei Mate 30 Pro, yakni 40 MP. Sensor kameranya juga berukuran besar untuk sekelas ponsel, yakni 1/1,7 inci.

Metode pixel binning

Cahaya merupakan hal yang penting dalam fotografi. Beberapa pabrikan yang menghadirkan kamera ponsel beresolusi tinggi menggunakan metode pixel binning agar setiap piksel pada sensor ‘menjadi lebih besar’ untuk menangkap cahaya yang lebih banyak. Ubergizmo menjelaskan, pixel binning adalah proses menggabungkan beberapa piksel menjadi satu.

Dengan demikian, ukuran piksel menjadi lebih besar demi mengurangi gangguan noise. Tetapi konsekuensinya, resolusi sensor yang menerapkan teknologi pixel binning menjadi menurun. Contoh, pada kamera Redmi Note 8 Pro terjadi penerapan pixel binning, sehingga pemotretan secara default dapat dilakukan dengan resolusi 16 MP. Artinya, kamu harus ‘mengaktifkan’ mode 64 MP kalau ingin memotret dengan resolusi tinggi. Hal ini juga terjadi di kamera smartphone beresolusi 48MP, seperti seri Oppo F11 Pro.

Konsekuensinya, pada saat mengaktifkan mode kamera 64MP atau 48MP pada smartphone-smartphone tersebut, ada fitur yang tak bisa aktif. Misalnya, fitur HDR dan AI tak berfungsi karena prosesor melakukan proses manipulasi piksel.

Biasanya, binning terjadi pada empat piksel yang bergabung menjadi satu piksel berukuran besar. Dengan melakukan ini, sensor dapat meningkatkan sensitivitas untuk menangkap cahaya. Hal ini juga membuat kualitas pemotretan di kondisi minim cahaya akan lebih baik.

Kualitas kamera ponsel juga bergantung pada prosesor yang digunakan. Realme XT, misalnya, menggunakan System-on-Chip (SoC) Qualcomm Snapdragon 712. Snapdragon 712 dilengkapi dua Image Signal Processor (ISP) buatan Qualcomm, Spectra 250.

Selain ISP, yang juga berpengaruh terhadap kualitas foto adalah kecerdasan buatan (AI). Qualcomm sudah melengkapi Snapdragon 712 dengan AI Engine. AI berperan untuk mengenali objek, mengoptimalkan mode portrait dan juga memperbaiki kualitas low light night mode. Selain itu, AI bisa membantu mengenali scene, atau memunculkan opsi smart cropping.

Penentu lain dari kualitas foto pada smartphone adalah lensa. Pada Mate 30 Pro, Huawei bekerja sama dengan Leica demi menghadirkan hasil yang tajam. Sejak 2014, Huawei bekerja sama dengan Leica dalam urusan kreasi lensa ponsel ini.

Produk pertama Huwei yang menggunakan lensa ini adalah P9 pada 2016. Mengutip informasi dari ZDnet, Leica dikenal karena keunggulan kaca lensanya. Akan tetapi, lensa pada ponsel Huawei masih bermaterial plastik. Mereka mengklaim, lensa plastik tersebut dirancang sedemikian rupa agar hasilnya mirip dengan bahan kaca.

Baik Huawei maupun Leica tidak memproduksi lensa untuk ponsel Huawei. Mereka menggunakan produsen pihak ketiga dengan spesifikasi yang disetujui Leica dan Huawei.

Kesimpulan

Kembali kepada pertanyaan awal, apakah resolusi kamera yang besar, pasti menghasilkan foto yang lebih bagus? Belum tentu.

Resolusi tinggi bisa dibilang berguna, dengan catatan jika kamu ingin mencetak hasil foto tersebut pada kertas foto berukuran besar. Resolusi tinggi pada ponsel menyebabkan setiap piksel (atau photosite) menjadi sangat kecil, sehingga hasilnya terdapat noise ketika kamu memotret pada kondisi cahaya remang.

Oleh karena itu, beberapa vendor ponsel tampaknya ‘kurang pede’ ketika menawarkan resolusi tinggi karena secara default, perangkat akan memotret menggunakan metode pixel binning untuk memanipulasi foto. Tidak heran, vendor yang menawarkan kamera beresolusi besar, juga menawarkan fitur mode malam.

Foto yang bagus membutuhkan lebih dari sekadar resolusi besar. Faktor lain yang juga sangat berpengaruh adalah sensor kamera, prosesor gambar, kecerdasan buatan, dan juga pembelajaran mesin (Machine Learning). Empat perusahaan ponsel yang berada di garis depan dalam pengembangan kamera ponsel saat ini adalah: Apple, Google, Huawei, dan Samsung. Banyak orang menyebut para raksasa tersebut telah membawa kamera ponsel pintar ke era fotografi komputasional. Apa itu? Kita akan membahasnya dalam artikel berikutnya.

Kamera pada ponsel saat ini menjadi hal yang tak dapat dipisahkan. Sebagian orang justru beranggapan kamera pada smartphone menjadi hal penting untuk menunjang hobi memotret bagi para penikmat konten digital.

Saat ini kembali melombakan besaran megapiksel. Hal ini dapat dilihat dari beberapa brand smartphone yang mulai menggaungkan besaran megapiksel pada produk barunya. Lihat saja varian anyar Redmi Note 8 Pro dan realme XT yang menawarkan kamera utama 64MP.

Tren besar-besaran megapiksel sudah kita alami sejak puluhan tahun lalu. Coba kita flashback sedikit. Pada tahun 2000-an, ada dua perusahaan yang menyematkan kamera pada ponsel genggamnya. Perusahaan itu adalah Sharp dan Samsung. Saat itu besaran megapikselnya masih berkutat pada angka 0,35MP yang bisa membuat sebuah foto yang memiliki 350.000 piksel.

Seiring waktu, besaran megapiksel kamera ponsel terus berkembang. Nokia sempat merasakan era keemasannya dengan menawarkan kamera beresolusi 2MP melalui seri N90.

Tak berlangsung lama, Sony mengambil alih kepemimpinan Nokia dengan meluncurkan Sony Ericsson K800i yang mengenalkan kamera beresolusi 3.2MP dengan fitur auto-fokus, penstabil gambar dan dukungan flash.

Perang besar-besaran megapiksel masih terus berlanjut. Samsung secara konsisten menjadi produsen yang terus mengenalkan ponsel dengan perkembangan besaran megapiksel pada perangkat mereka. Mulai dari 5MP (2006), 8MP (2008), dan 8MP di tahun 2009.

Kemudian di tahun berikutnya Sony kembali memenangkan perlombaan besaran megapiksel dengan meluncurkan ponsel berkamera 16MP.

Memasuki era smartphone, perkembangan besaran megapiksel justru melambat. Namun trennya bergeser ke dukungan software.

Pada masa ini, beberapa perusahaan tak lagi melombakan besaran megapiksel. HTC merasa kamera dengan resolusi 4MP sudah cukup baik. Sony mengenalkan Xperia Z dengan 13MP. Samsung meluncurkan 16MP pada seri Zoom.

Namun yang menarik adalah perusahaan asal Finlandia, Nokia. Mereka membuat terobosan besar dengan merilis Lumia 1020 yang membawa kamera beresolusi 41MP.

Resolusi tinggi apa jaminan?

Resolusi tinggi seharusnya menjadikan hasil gambar menjadi lebih detil. Menggunakan kamera beresolusi tinggi, informasi setiap piksel gambar terpampang dengan jelas. Selain itu, resolusi yang tinggi juga memungkinkan kamera bekerja lebih cepat dan mulus tanpa gangguan block noise, yakni gangguan dari kumpulan piksel yang menciptakan gambar kurang mendetil.

Agar dapat lebih memahami apa itu megapiksel, kita perlu mengetahui apa itu piksel. Menurut halaman resmi Finder, piksel adalah satu titik dalam gambar visual. Saat menatap layar TV jadul berjenis teknologi CRT dengan seksama, maka kamu bisa melihat titik-titik layar merah, biru dan hijau yang berukuran sangat kecil. Masing-masing titik tersebut adalah piksel.

Sekarang perhatikan lagi layar TV LCD atau OLED, kemungkinan titik-titik piksel tersebut akan lebih sulit terlihat ketimbang pada TV CRT. Hal ini bisa terjadi karena jutaan piksel berkumpul dalam ruang yang sama, sehingga berujung ke gambar yang lebih tajam.

Hampir sama halnya pada kamera ponsel, tugas setiap piksel berfungsi untuk menangkap data gambar apapun yang diarahkan oleh pengguna, setiap piksel akan menangkap cahaya yang dipantulkan oleh setiap subjek dalam satu frame. Megapiksel adalah hitungan jumlah piksel dalam suatu gambar, di mana awalan “mega” mengacu kepada satuan “satu juta”. Jadi kamera ponsel dengan resolusi 16 MP memiliki sensor 16 juta piksel, 48 MP memiliki sensor 48 juta piksel, kamera 64 MP memiliki sensor 64 juta piksel, dan seterusnya.

Tetapi sayangnya, besaran resolusi kamera yang ada pada ponsel tidak selalu menentukan kualitas keseluruhan hasil gambar. Bagus atau tidaknya sebuah hasil kamera ditentukan oleh tiga faktor, kualitas sensor gambar, lensa dan prosesor. Oleh karena itu, jika ada sebuah kamera ponsel yang memiliki resolusi lebih tinggi dibandingkan dengan kamera DSLR atau mirrorless, maka hasil pada kamera ponsel belum tentu lebih bagus.

Ukuran sensor gambar pada kamera ponsel dapat dijadikan salah satu faktor penentu kualitas gambar. Semakin besar ukuran sensor, maka akan semakin bagus pula gambar yang dihasilkan. Menurut halaman resmi Expert Photography, sensor gambar adalah bagian dari kamera yang berfungsi sebagai penangkap cahaya.

Sensor kamera bekerja layaknya film pada kamera zaman dulu. Ukuran sensor pada kamera ponsel berbeda-beda. Sebagai contoh, kamera utama Redmi Note 8 Pro yang memiliki resolusi 64 MP dilengkapi dengan ukuran sensor 1/1.7 inci, sedangkan kamera utama Redmi Note 8 dengan resolusi 48 MP dilengkapi dengan ukuran sensor 1/2 inci. Jika dilihat, sensor Redmi Note 8 Pro memiliki ukuran yang sedikit lebih besar dibandingkan dengan versi non-Pro. Tetapi mengingat Redmi Note 8 Pro mengusung resolusi lebih tinggi, maka ukuran piksel setiap sensor yakni 0,8 mikrometer. Oleh karena itu, cahaya yang dapat ditangkap dari setiap piksel untuk kedua ponsel tersebut adalah sama.

Dalam kamera digital, sensor kameranya seperti panel surya yang mengumpulkan cahaya untuk mereproduksi gambar. Sensor kamera yang berukuran lebih besar akan mengumpulkan lebih banyak cahaya, menciptakan gambar yang lebih baik secara keseluruhan. Ukuran kamera digital ‘sesungguhnya’ memiliki standar.

Pada kamera digital, ada ukuran APS-C, 4/3, dan full-frame. Ukuran yang tertinggi pada mirrorless atau DSLR adalah full-frame, yang mana mirip dengan ukuran film pada kamera analog. Sedangkan ukuran sensor pada kamera ponsel tidak memiliki standarisasi layaknya mirrorless atau DSLR, oleh karenanya agak sulit menentukan kualitas kamera smartphone meski besaran mega pikselnya besar sekalipun. Tetapi kini rata-rata kamera ponsel memiliki ukuran sensor gambar 1/2 inci, kemungkinan ini dapat dijadikan standar ukuran ketika ingin melihat kualitas gambar dari ukuran sensor.

Seperti yang dikatakan sebelumnya, ukuran setiap piksel pada kamera ponsel beresolusi tinggi (64 MP) adalah 0,8 mikrometer. Ini sangat jauh berbeda dibandingkan ukuran satu piksel pada kamera mirrorless. Pada Sony a7R IV yang beresolusi 61 MP adalah 3,76 mikrometer. Dari sini dapat saya katakan bahwa satu piksel pada mirrorless Sony a7R IV mampu menampung sekitar 500 persen cahaya lebih banyak, dibandingkan dengan setiap piksel sensor kamera Redmi Note 8 atau Redmi Note 8 Pro.

×
×
back to top