Apakah megapixel besar pasti menghasilkan foto lebih bagus?

Resolusi kamera yang besar pada smartphone belum tentu menghasilkan kualitas yang baik. Ada beberapa aspek teknis yang membuatnya kurang sempurna.

Apakah megapixel besar pasti menghasilkan foto lebih bagus?

Kehadiran Xiaomi Redmi Note 8 dan Redmi Note 8 Pro, Realme XT dan Oppo Reno2 yang menawarkan kamera utama beresolusi 48MP- 64MP, kembali memunculkan pertanyaan: apakah resolusi kamera yang besar, pasti menghasilkan foto yang lebih bagus? 


berita tentang tek.id

BACA JUGA

Black Shark harus tempuh jalur hardware demi penuhi TKDN

Mengenal komputasi kamera ponsel terdepan

MediaTek siapkan chip 5G untuk smartphone murah


Teorinya, resolusi tinggi seharusnya menjadikan hasil gambar menjadi lebih detail. Dengan menggunakan kamera beresolusi tinggi, informasi setiap piksel pada gambar terpampang dengan jelas. Selain itu, resolusi yang tinggi juga memungkinkan kamera bekerja lebih cepat dan mulus tanpa gangguan block noise, yang kerap mengurangi detail pada foto.

Tetapi sayangnya, ukuran resolusi kamera smartphone tak selalu menentukan kualitas keseluruhan hasil gambar. Bagus atau tidaknya sebuah hasil foto ditentukan oleh tiga faktor, yakni: kualitas sensor gambar, lensa, dan prosesor. Oleh karena itu, hasil potret smartphone belum tentu lebih bagus, meski resolusinya lebih tinggi dibandingkan kamera DSLR atau mirrorless.

Ukuran sensor gambar pada kamera ponsel menjadi salah satu faktor penentu kualitas gambar. Semakin besar ukuran sensor, maka akan semakin bagus pula foto yang dihasilkan. Menurut halaman resmi Expert Photography, sensor gambar adalah bagian dari kamera yang berfungsi sebagai penangkap cahaya.

Sensor kamera bekerja layaknya film pada kamera analog. Ukuran sensor pada kamera ponsel berbeda-beda. Sebagai contoh, kamera utama Redmi Note 8 Pro yang memiliki resolusi 64 MP dilengkapi dengan ukuran sensor 1/1.7 inci, sedangkan kamera utama Redmi Note 8 dengan resolusi 48 MP dilengkapi dengan ukuran sensor 1/2 inci.

Sensor Redmi Note 8 Pro sedikit lebih besar dibandingkan Redmi Note 8 biasa. Namun demikian, mengingat Redmi Note 8 Pro mengusung resolusi lebih tinggi, maka ukuran piksel setiap sensor kedua ponsel tersebut sama, yakni 0,8 mikrometer. Oleh karena itu, cahaya yang dapat ditangkap dari setiap piksel untuk kedua ponsel tersebut menjadi sama banyaknya. 

Salah satu ponsel unggulan yang juga berresolusi tinggi adalah Huawei Mate 30 Pro, yakni 40 MP. Sensor kameranya juga berukuran besar untuk sekelas ponsel, yakni 1/1,7 inci.

Metode pixel binning

Cahaya merupakan hal yang penting dalam fotografi. Beberapa pabrikan yang menghadirkan kamera ponsel beresolusi tinggi menggunakan metode pixel binning agar setiap piksel pada sensor ‘menjadi lebih besar’ untuk menangkap cahaya yang lebih banyak. Ubergizmo menjelaskan, pixel binning adalah proses menggabungkan beberapa piksel menjadi satu.

Dengan demikian, ukuran piksel menjadi lebih besar demi mengurangi gangguan noise. Tetapi konsekuensinya, resolusi sensor yang menerapkan teknologi pixel binning menjadi menurun. Contoh, pada kamera Redmi Note 8 Pro terjadi penerapan pixel binning, sehingga pemotretan secara default dapat dilakukan dengan resolusi 16 MP. Artinya, kamu harus ‘mengaktifkan’ mode 64 MP kalau ingin memotret dengan resolusi tinggi. Hal ini juga terjadi di kamera smartphone beresolusi 48MP, seperti seri Oppo F11 Pro.

Konsekuensinya, pada saat mengaktifkan mode kamera 64MP atau 48MP pada smartphone-smartphone tersebut, ada fitur yang tak bisa aktif. Misalnya, fitur HDR dan AI tak berfungsi karena prosesor melakukan proses manipulasi piksel.

Biasanya, binning terjadi pada empat piksel yang bergabung menjadi satu piksel berukuran besar. Dengan melakukan ini, sensor dapat meningkatkan sensitivitas untuk menangkap cahaya. Hal ini juga membuat kualitas pemotretan di kondisi minim cahaya akan lebih baik.

Kualitas kamera ponsel juga bergantung pada prosesor yang digunakan. Realme XT, misalnya, menggunakan System-on-Chip (SoC) Qualcomm Snapdragon 712. Snapdragon 712 dilengkapi dua Image Signal Processor (ISP) buatan Qualcomm, Spectra 250.

Selain ISP, yang juga berpengaruh terhadap kualitas foto adalah kecerdasan buatan (AI). Qualcomm sudah melengkapi Snapdragon 712 dengan AI Engine. AI berperan untuk mengenali objek, mengoptimalkan mode portrait dan juga memperbaiki kualitas low light night mode. Selain itu, AI bisa membantu mengenali scene, atau memunculkan opsi smart cropping.

Penentu lain dari kualitas foto pada smartphone adalah lensa. Pada Mate 30 Pro, Huawei bekerja sama dengan Leica demi menghadirkan hasil yang tajam. Sejak 2014, Huawei bekerja sama dengan Leica dalam urusan kreasi lensa ponsel ini.

Produk pertama Huwei yang menggunakan lensa ini adalah P9 pada 2016. Mengutip informasi dari ZDnet, Leica dikenal karena keunggulan kaca lensanya. Akan tetapi, lensa pada ponsel Huawei masih bermaterial plastik. Mereka mengklaim, lensa plastik tersebut dirancang sedemikian rupa agar hasilnya mirip dengan bahan kaca.

Baik Huawei maupun Leica tidak memproduksi lensa untuk ponsel Huawei. Mereka menggunakan produsen pihak ketiga dengan spesifikasi yang disetujui Leica dan Huawei.

Kesimpulan

Kembali kepada pertanyaan awal, apakah resolusi kamera yang besar, pasti menghasilkan foto yang lebih bagus? Belum tentu.

Resolusi tinggi bisa dibilang berguna, dengan catatan jika kamu ingin mencetak hasil foto tersebut pada kertas foto berukuran besar. Resolusi tinggi pada ponsel menyebabkan setiap piksel (atau photosite) menjadi sangat kecil, sehingga hasilnya terdapat noise ketika kamu memotret pada kondisi cahaya remang.

Oleh karena itu, beberapa vendor ponsel tampaknya ‘kurang pede’ ketika menawarkan resolusi tinggi karena secara default, perangkat akan memotret menggunakan metode pixel binning untuk memanipulasi foto. Tidak heran, vendor yang menawarkan kamera beresolusi besar, juga menawarkan fitur mode malam.

Foto yang bagus membutuhkan lebih dari sekadar resolusi besar. Faktor lain yang juga sangat berpengaruh adalah sensor kamera, prosesor gambar, kecerdasan buatan, dan juga pembelajaran mesin (Machine Learning). Empat perusahaan ponsel yang berada di garis depan dalam pengembangan kamera ponsel saat ini adalah: Apple, Google, Huawei, dan Samsung. Banyak orang menyebut para raksasa tersebut telah membawa kamera ponsel pintar ke era fotografi komputasional. Apa itu? Kita akan membahasnya dalam artikel berikutnya.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: