Wadhwani Foundation Indonesia Dorong Talenta Terus Perbaharui Keterampilan di Era AI
Menurut Dion, pekerjaan operator dan first-line menjadi salah satu jenis pekerjaan yang akan terdampak perkembangan AI.
Taklimat media Wadhwani Foundation
Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) mulai mengubah cara perusahaan menjalankan pekerjaan. Sejumlah tugas yang sebelumnya dilakukan manusia kini semakin memungkinkan untuk diotomatisasi, sehingga kebutuhan keterampilan tenaga kerja juga ikut berubah.
Direktur Wadhwani Entrepreneurship Network (WEN) Indonesia Dion Dewa Barata mengatakan perubahan tersebut perlu diantisipasi, terutama oleh mahasiswa dan lulusan baru yang akan memasuki dunia kerja.
Menurut Dion, pekerjaan operator dan first-line menjadi salah satu jenis pekerjaan yang akan terdampak perkembangan AI.
“Sekarang kita nggak bisa pungkiri, semua pekerjaan operator, semua pekerjaan first-line itu akan tergantikan oleh AI,” ujar Dion di Jakarta, Selasa (22/9).
- Cloudera Jadi Leader IDC MarketScape 2026 di Tengah Tren Sovereign AI Asia Pasifik
- BDx Bangun Pusat Data AI 640 MW di Jawa Barat, Gedung Pertama Beroperasi 2027
- Jobstreet by SEEK Perkenalkan Agentic AI untuk Percepat Proses Rekrutmen
- Hypernet Luncurkan TokenKu.ai, Satu Pintu Akses Lebih dari 120 Model AI
Ia mencontohkan sejumlah pekerjaan seperti petugas parkir, gerbang tol, hingga layanan pelanggan perbankan yang mulai dapat memanfaatkan teknologi untuk menjalankan tugas-tugas tertentu.
Namun, menurut Dion, perkembangan AI bukan berarti manusia tidak lagi memiliki peran di dunia kerja. Peran tersebut justru dapat bergeser menjadi pihak yang mengoperasikan, mengawasi, atau mengembangkan teknologi.
“Fungsinya adalah mereka akan menjadi orang-orang yang akan menggerakkan AI atau akan menjadi supervisor dari AI,” ujarnya.
Dion bahkan menyinggung munculnya posisi Chief of AI Officer dalam sebuah diskusi di Universitas Gadjah Mada (UGM).
Posisi tersebut, menurutnya, berkaitan dengan bagaimana perusahaan melatih, memvalidasi, dan mengembangkan AI agar dapat digunakan untuk kebutuhan bisnis.
Hal tersebut juga menjadi alasan Wadhwani Foundation mendorong konsep “sarjana plus”. Dion mengatakan lulusan perguruan tinggi perlu memiliki kemampuan yang lebih luas daripada sekadar membawa sertifikat pendidikan.
“Kita harus menciptakan sarjana plus. Sarjana yang nggak cuma bermodal sertifikat, tapi sarjana yang benar-benar siap menghadapi tantangan,” kata Dion.
Menurut Dion, kemampuan yang perlu dipersiapkan mencakup kemampuan teknis, soft skill, pemecahan masalah, kemampuan beradaptasi, kolaborasi, kepemimpinan, hingga kemauan untuk terus belajar.
Ia juga mengingatkan agar mahasiswa tidak hanya dipersiapkan untuk mencari pekerjaan, tetapi mampu memberikan solusi ketika memasuki dunia profesional.
“Jangan sampai mahasiswa ini lulus dan menjadi part of the problem. Mahasiswa harus menjadi problem solver,” ujarnya.
Kebutuhan tersebut menjadi salah satu fokus Wadhwani Foundation melalui Wadhwani JobReady.
Program ini ditujukan bagi mahasiswa, pencari kerja, dan profesional untuk membangun kemampuan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Materinya mencakup kemampuan teknis, keterampilan interpersonal, pemecahan masalah, kemampuan beradaptasi, serta kemauan untuk terus belajar.
Berdasarkan data Wadhwani Foundation, sepanjang Januari hingga Juli 2026 terdapat 10.743 peserta yang telah terdaftar dalam Wadhwani JobReady. Dari jumlah tersebut, 5.710 peserta menunjukkan peningkatan kapabilitas yang terukur.









