Teknologi ternyata tidak bersalah atas perilaku negatif seseorang

Sebuah studi baru mengungkapkan hasil yang cukup mengejutkan. Ternyata screen time tidak memiliki andil banyak dalam pembentukan perilaku negatif seseorang.

Teknologi ternyata tidak bersalah atas perilaku negatif seseorang Source: NewAtlas

Sebuah penelitian yang digagas oleh Universitas Oxford mengungkapkan hasil yang cukup mengejutkan. Penelitian itu mengatakan bahwa penggunaan teknologi digital nyatanya hanya berpengaruh kurang dari setengah persen dari perilaku negatif para remaja.

Perlu diketahui, pengaruh paparan teknologi (dalam hal ini screen time) pada anak-anak sampai saat ini masih jadi perdebatan. Ada beberapa pihak yang berpendapat, kekhawatiran itu tidak beralasan. Terkait hal ini, sejumlah ilmuwan masih belum mencapai kata sepakat untuk menjelaskannya.


BACA JUGA

Apa itu proyek Palapa Ring?

Sempat tumbang, situs Kemenkominfo kembali pulih

Rusia uji coba putuskan koneksi internet di seluruh kota


Studi tersebut menggunakan sebuah metode yang dikenal dengan Specification Curve Analysis (SCA). Pada dasarnya, metode ini berupaya menganalisis data menggunakan sebanyak mungkin spesifikasi. Setelah menghitung variabel data yang tersedia, kemudian para peneliti akan membandingkan efek dari penggunaan teknologi digital dengan berbagai faktor lainnya.

Tak seperti anggapan yang ada selama ini, penelitian ini justru mengungkapkan bahwa penggunaan teknologi digital hanya menyumbang 0,4 persen dari total penyebab perilaku negatif seseorang. Kebanyakan perilaku negatif justru disebabkan oleh pengalaman langsung seseorang. Contohnya bullying yang ternyata dampaknya lebih besar 4 kali lipat daripada penggunaan teknologi.

Meski begitu, penelitian yang digagas Andrew Przybylski ini dikatakan masih dikkeritik peneliti lainnya. Ben Carter, seorang peneliti dari King College London menyatakan bahwa penelitian ini masih memiliki kekurangan pada spesifikasi seputar penggunaan teknologi.

“Studi ini hanya melihat durasi penggunaan dan bukan bagaimana teknologi digunakan, yang mungkin akan memberikan indikator yang lebih baik,” ujar Carter.

Menurutnya setiap anak akan menggunakan teknologi digital dengan cara berbeda, seperti mengerjakan tugas atau hanya mengakses media sosial saja. Meski begitu, harus ditekankan bahwa penelitian Przybylski merupakan penelitian yang fokus pada durasi penggunaan saja. Penelitian ini cukup membuktikan bahwa durasi penggunaan teknologi ternyata tidak banyak andil dalam membentuk perilaku negatif seseorang.

Semoga saja ke depannya, Przybylski akan membuat penelitian lanjutan yang lebih spesifik tentang bagaimana teknologi digunakan dan apa dampaknya bagi perubahan perilaku seseorang, khususnya anak-anak.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: