Peneliti tanam elektroda di otak demi obati kecanduan

Prosedur ini diperuntukkan bagi mereka yang telah kehabisan semua bentuk pengobatan tetapi masih menderita gangguan penggunaan opioid

Peneliti tanam elektroda di otak demi obati kecanduan West Virginia University Rockefeller Neuroscience Institute via Engadget

Para peneliti di Rockefeller Neuroscience Institute (RNI) dari West Virginia University dan West Virginia University Medicine sedang melakukan uji klinis pertama di Amerika Serikat yang menggunakan stimulasi otak bagian dalam agar dapat mengobati kecanduan opioid (obat pereda nyeri).

Dilansir dari Engadget (5/11), prosedur ini diperuntukkan bagi mereka yang telah melalui sega bentuk pengobatan tetapi masih menderita gangguan penggunaan opioid. Pasien pertama, seorang pria berusia 33 tahun, memiliki sejarah panjang tahunan penyalahgunaan opioid sehingga terjadi overdosis.


berita tentang tek.id

BACA JUGA

Temuan MIT, bisa ambil video meski subjek membelakangi kamera

Ilmuwan berhasil ciptakan jaringan saraf tiruan mirip aslinya

Teknologi uap terbaru bisa daur ulang plastik


Stimulasi otak dalam (deep brain stimulation/DBS), adalah bentuk operasi yang menempatkan teknologi elektroda di dalam otak pasien, dalam hal ini di pusat kendali diri. Perangkat eksternal mengirimkan sinyal listrik untuk menghentikan keinginan pasien, seperti kecanduan keinginan akan obat atau dorongan untuk melakukan sesuatu. Dalam kasus perawatan kecanduan opioid, impuls akan melatih otak pasien untuk tidak lagi membutuhkan obat-obatan.

“Ketergantungan adalah penyakit otak yang melibatkan pusat keinginan di otak, dan kita perlu mengeksplorasi teknologi baru, seperti penggunaan DBS, untuk membantu mereka yang sanget terpengaruh oleh gangguan penggunaan opioid,” kata eksekutif ketua RNI, Ali Reazai. DBS sudah disetujui oleh FDA dan digunakan untuk mengobati penyakit Parkinson, gangguan depresi, epilepsi, dan telah menunjukkan hasil yang menjanjikan.

Menurut RNI, Virginia Barat memiliki tingkat kematian akibat overdosis obat yang melibatkan opioid. Institut Nasional Penyalahgunaan Narkoba mengatakan bahwa kematian akibat overdosis yang melibatkan opioid di negara bagian tersebut terjadi pada tingkat 49,6 kematian per 100.000 orang pada tahun 2017.

Prosedur ini mungkin terbukti sebagai bentuk perawatan yang layak bagi mereka yang tidak menanggapi pengobatan, perawatan psikologis, atau program residensial jika pada akhirnya disetujui oleh FDA. Karena krisis kecanduan opioid tidak menunjukkan tanda-tanda melambat, sepertinya teknologi ini adalah solusi yang sangat dibutuhkan.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: