Ilmuwan ciptakan AI untuk bantu obati kanker otak

AI buatan tim ilmuwan dari MIT ini diklaim bisa membantu dokter untuk menganalisa kanker otak dan merekomendasikan sistem pengobatannya

Ilmuwan ciptakan AI untuk bantu obati kanker otak

Kemajuan dalam ilmu kedokteran telah menghasilkan pengobatan pada kanker, tetapi perawatan yang utama berupa kemoterapi dan radiasi yang masih belum optimal dan belum bisa membuat pasien sembuh sepenuhnya. Dilansir dari ExtremeTech (13/8), sebuah tim peneliti dari MIT telah merancang platform Artificial Intelligence (AI) yang dapat membantu hal tersebut. Software ini mempertimbangkan metrik penting berdasarkan catatan klinis pasien lain sebelum merekomendasikan resimen yang dirancang untuk meringankan tumor otak sambil mengurangi efek samping pada pasien.

Tim tersebut memulai dengan sistem reinforced learning (RL) yang juga digunakan oleh AI DeepMind milik Google untuk membuat AI Go. Program ini terdiri dari agen yang merekomendasikan tindakan yang membuat Anda lebih dekat dengan hasil yang diinginkan. Jika rekomendasinya bagus, agen dihargai dengan bobot yang lebih besar. Seiring waktu, AI menjadi sangat optimal dalam memecahkan masalah tertentu, dalam hal ini menciptakan perawatan untuk glioblastoma, bentuk agresif dari kanker otak.

Para peneliti melatih model pada simulasi 50 pasien glioblastoma yang mencari pengobatan di masa lalu. AI melakukan 20.000 eksperimen untuk mengoptimalkan sendiri demi hasil terbaik. Setelah itu, tim menjalankan 50 profil pasien baru melalui model untuk mengetahui apa yang akan direkomendasikan oleh mesin. Biasanya AI berpikir pasien bisa mendapatkan hasil yang sama atau lebih baik lewat perawatan kemoterapi dan radiasi yang lebih minim.

Dokter mengacu pada sejumlah cara pengobatan standar untuk glioblastoma, yang memiliki waktu kelangsungan hidup rata-rata hanya lima tahun. Tujuan dasarnya adalah untuk menyerang sel-sel tumor lebih cepat dibandingkan dengan sel-sel non-kanker, tetapi efek samping untuk mengejar penyakit agresif seperti ini bisa sangat merusak. Jadwal pengobatan konvensional ini tidak memperhitungkan perbedaan ukuran tumor, riwayat medis, profil genetik, dan biomarker. Sistem yang dikembangkan oleh MIT melakukan hal tersebut, menghasilkan dosis radiasi danpaparan obat kimia yang rendah.

Bagi simulasi pasien, AI merekomendasikan seperempat atau setengah dosis pada berbagai interval. Kadang-kadang, cara ini memproyeksikan tumor yang masih dapat menyusut. Bahkan jika pasien hanya datang untuk perawatan kurang dari standar 30 hari.

Sejauh ini, sistem tersebut hanya diuji dalam sebuah simulasi. Tetapi para ilmuwan percaya suatu saat cara ini dapat digunakan dalam dunia medis.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: