OJK Nilai Pelemahan Kripto Masih Wajar, Tokocrypto: Investor OJK Nilai Pelemahan Kripto Masih Wajar, Tokocrypto: Investor Belum Tinggalkan Pasar
OJK menilai pelemahan kripto masih wajar, sementara Tokocrypto melihat peluang pemulihan pasar mulai terbuka pada 2026.
Ilustrasi bitcoin, salah satu aset kripto.
Otoritas Jasa Keuangan (OJKO menilai pelemahan pasar aset kripto yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir masih tergolong wajar dan merupakan bagian dari siklus normal pasar global.
Di tengah tekanan tersebut, jumlah investor kripto di Indonesia justru terus bertambah dan menunjukkan minat masyarakat terhadap aset digital belum surut.
Dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan April 2026, Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK Adi Budiarso mengatakan penurunan transaksi kripto saat ini lebih disebabkan efek normalisasi pasar setelah lonjakan harga Bitcoin pasca-halving 2024.
“Ini menjadi high base effect, bukan pelemahan fundamental, tapi sejalan dengan kondisi global,” ujar Adi.
Ia menyebut kapitalisasi pasar kripto global turun sekitar 45 persen dari posisi tertinggi 4,2 triliun dolar AS pada Oktober 2025 menjadi sekitar 2,3 triliun dolar AS pada Maret 2026.
Data OJK menunjukkan nilai transaksi aset kripto di Indonesia pada Maret 2026 mencapai Rp28,04 triliun. Dari jumlah tersebut, Rp22,24 triliun berasal dari pasar spot dan Rp5,8 triliun dari transaksi derivatif.
Nilai perdagangan spot sendiri tercatat turun 4,7 persen dibanding Februari 2026.
Meski aktivitas transaksi melambat, jumlah investor kripto domestik masih mengalami kenaikan. Hingga Maret 2026, jumlah konsumen kripto di Indonesia mencapai 21,37 juta akun.
Angka ini menunjukkan kepercayaan terhadap industri aset digital dinilai masih tetap terjaga di tengah fase konsolidasi pasar.
CEO Tokocrypto Calvin Kizana mengatakan perlambatan transaksi kripto lebih dipengaruhi sentimen global yang membuat investor cenderung bersikap hati-hati.
“Kondisi ini dipengaruhi meningkatnya sentimen risk-off global, volatilitas yang masih tinggi, ketidakpastian geopolitik, serta arah kebijakan suku bunga The Fed,” kata Calvin.
Menurut Calvin, investor sebenarnya tidak sepenuhnya keluar dari pasar kripto. Banyak pelaku pasar justru mulai mengubah strategi dengan memindahkan aset ke instrumen yang dianggap lebih stabil dan likuid.
“Yang terjadi adalah pergeseran strategi. Investor mulai mengurangi eksposur pada aset yang lebih spekulatif dan memilih aset seperti Bitcoin, Ethereum, stablecoin, hingga aset berbasis emas,” ujarnya.
Tokocrypto juga melihat peluang pemulihan pasar mulai terbuka pada kuartal II-2026, terutama setelah Bitcoin kembali menembus level psikologis 80.000 dolar AS pada awal Mei 2026.
Calvin menyebut pergerakan Bitcoin masih menjadi barometer utama sentimen pasar kripto global. Jika BTC mampu bertahan di atas kisaran 78.000 dolar AShingga 80.000 dolar AS, kepercayaan investor dinilai berpotensi kembali meningkat meski pemulihan kemungkinan berlangsung secara bertahap dan selektif.
Selain faktor harga, Tokocrypto menilai arah suku bunga The Fed, kondisi geopolitik global, peningkatan likuiditas pasar, hingga kebijakan pajak kripto yang lebih kompetitif dapat menjadi katalis penting bagi pemulihan industri kripto nasional.
Di sisi lain, OJK juga terus memperkuat pengawasan terhadap industri aset digital melalui penerapan standar Know Your Customer (KYC), Know Your Transaction (KYT), Customer Due Diligence (CDD), hingga whitelist aset kripto guna menjaga keamanan dan transparansi ekosistem perdagangan.
Calvin mengingatkan investor ritel agar tetap disiplin dalam mengelola risiko di tengah kondisi pasar yang masih fluktuatif.
“Dalam kondisi pasar yang menurun, fokus utama investor sebaiknya bukan mengejar keuntungan cepat, tetapi menjaga modal dan mengelola risiko,” tutup Calvin.









