Studi buktikan anak-anak mudah kecanduan smartphone

Studi menarik ini telah dirilis di dalam jurnal ilmiah yang melibatkan penelitian pada 2000 anak-anak usia 12 tahun.

Studi buktikan anak-anak mudah kecanduan smartphone

Smartphone ternyata punya efek yang sama dengan efek kecanduan akibat mengonsumsi obat-obatan terlarang. Ini adalah kenyataan yang sangat pahit. Pasalnya memberikan smartphone kepada anak-anak sama halnya seperti memberi obat-obatan terlarang.

Profesor Jennifer Ihm dari Kwangwoon University, Korea Selatan, merilis hasil studi tentang kecanduan smartphone ini. Studinya melibatkan 2000 anak-anak usia 12 tahun. Kecanduan ini ternyata memengaruhi psikologi dan kesehatan fisik anak-anak. Bahkan lebih buruk lagi, dapat mengganggu kesuksesan akademik mereka di sekolah.


berita tentang tek.id

BACA JUGA

BBK-ing: rahasia Oppo, Vivo, dan realme menyingkirkan Samsung di Indonesia

Pikir dua kali sebelum mengisi daya menggunakan charger publik

Resmi, ini harga dan spesifikasi ZenFone 6 di Indonesia


Lebih dari 50% remaja yang terlibat penelitian ini mengkonfirmasi bahwa mereka kecanduan smartphone. Mereka memperhatikan kondisi ini. Buktinya jawaban 84% remaja ini ternyata tidak bisa melakukan aktivitas sehari tanpa smartphone di samping mereka.

Kecanduan ini bisa memberikan depresi, nyeri leher, gangguan tidur, dan perasaan kurang nyaman. Tanda-tanda kecanduan ini adalah, mereka selalu melihat smartphone mereka untuk alasan yang tidak penting. Kemudian ketika mereka dipisahkan dengan smartphone mereka, mereka menjadi gelisah.

Berdasarkan Jurnal Paediatrics Child Health, orang tua menjadi contoh terbesar bagi anak-anak mereka. Ketika orang tua tidak menyentuh smartphone sepanjang hari akan menjadi contoh penting bagi anak-anak. Kalau perlu perketat aturan, tidak ada smartphone di atas meja makan.

Anak-anak di bawah 5 tahun seharusnya hanya boleh menggunakan smartphone kurang dari satu jam. Sementara anak usia sekolah dan remaja, harusnya hanya boleh menggunakan smartphone mereka selama dua tahun.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: