Review Avengers: Endgame, tentang cinta dan hal-hal yang harus selesai

Avengers: Endgame menjadi film ke-22 dari Marvel Cinematic Universe. Inilah review dari film Avengers: Endgame.

Review Avengers: Endgame, tentang cinta dan hal-hal yang harus selesai Photo: Film Frame / Marvel Studios

...ada yang tetap tidak terucapkan
Sebelum pada akhirnya kita menyerah - (Derai-Derai Cemara, Chairil Anwar)

Kekalahan, penyangkalan disertai air mata, dendam kesumat, pengkhianatan, depresi akut, penyesalan, menyalahkan diri sendiri, pervasif, duka abadi. Bukankah semua itu lebih cocok dan melekat dengan manusia ketimbang pahlawan super?


BACA JUGA

Dua film Halloween terbaru bakal tayang tahun 2020 dan 2021

Natalie Portman bakal jadi Thor versi perempuan

Netflix rilis trailer perdana The Witcher


Tapi itulah kesan yang coba dimunculkan penulis naskah Christopher Markus dan Stephen McFeely serta sutradara "Russo brothers" pada dua jam pertama Avengers: Endgame. Dan mereka berhasil. Kita bisa merasakan aura melankolis para pahlawan super, seperti halnya membaca Derai-Derai Cemara. Melankolis yang muncul karena cinta dan kematian.

Kita pun jadi maklum bahwa durasi film ini sampai 3 jam, seperti kebanyakan film India. Sebab, ada banyak tokoh yang harus diberi ruang untuk memperlihatkan sisi terlemah mereka masing-masing. Dan tentu saja, menarik benang merah dari puluhan film-film Marvel sebelumnya. Kita jadi tahu, misalnya, Thor punya masalah serangan panik, Tony Stark dengan segala bacotnya yang nyebelin ternyata punya rasa tanggung jawab besar, atau Hulk yang narsis.

Untungnya, kita tidak jatuh dalam kebosanan akibat jalan cerita yang bertele-tele. Seperti barista yang andal, Russo bersaudara berhasil menyuguhkan film yang enak: perpaduan antara plot dan kisah personal para tokoh berjalan seimbang. 

Singkatnya, kita jadi seperti menonton film drama dan pahlawan super sekaligus. Memang, kita tak melihat adegan air mata se-iconic Denzel Washington dalam Glory (Tayang 1989), tetapi air mata yang tumpah di Endgame terlihat cukup meyakinkan dan terasa menyentuh. Menurut kami, kamu tak akan terlalu kesulitan memahami cerita Endgame, walau tak mengikuti semua film Marvel Cinematic Universe. Ini enggak serumit The Lord of The Rings.

Semua drama bermula dari seri sebelumnya, yakni Avengers: Infinity War. Tak ada yang mengharapkan seorang pahlawan super mati dibunuh penjahat. Tapi, itulah yang terjadi dalam Avengers: Infinity War. Kita terkejut karena di akhir film Thanos selaku penjahat utama justru terlihat menang. Dia berhasil mengumpulkan keenam Infinity Stones dan melenyapkan separuh penghuni alam semesta, termasuk banyak pahlawan super, dengan menjetikkan jarinya.

Karena itu, wajar saja jika kita datang ke bioskop dengan segudang tanya sebelum menonton Avengers: Endgame, yang tayang serentak di Indonesia pada 24 April ini. Apakah Captain Marvel akan menjadi mesias dan mengalahkan Thanos? Apakah ada kemungkinan para pahlawan super yang sudah mati kembali hidup berkat bantuan salah satu atau seluruh Infinity Stones? Satu hal yang juga mengundang rasa penasaran adalah trailer Endgame mengisyaratkan ternyata Tony Stark enggak jadi mati ditikam Thanos. 

Melalui trailer, kita sudah tahu bahwa Endgame dimulai dengan beberapa kepingan kisah dari pahlawan super yang tercerai-berai. Tony Stark terdampar 1.000 tahun cahaya dari Bumi dan nyaris kehilangan harapan.

Ini adalah gambar dari cuplikan film Avengers: Endgame

Sementara Hawkeye terjerembab dalam kubangan kesedihan karena kehilangan istri dan anak-anaknya setelah Thanos menjentikkan jari. Adapun Black Widow dan Captain America, walau sama-sama terpukul, masih mampu mengendalikan emosi mereka dan paling optimistis untuk mengalahkan Thanos. Selain itu, tentu saja kemunculan Ant-Man dan Captain Marvel.

Ini adalah gambar dari cuplikan film Avengers: Endgame

Walau demikian, kita tentu tak lupa bahwa Endgame tetaplah film pahlawan super Marvel, bukan tragedi seperti Romeo and Juliet. Artinya, kesedihan hanyalah bumbu penyedap dan kita masih bisa menikmati humor-humor jenaka di banyak adegan, baik dari Thor, Hulk, maupun Ant-man.

Arah menuju kebahagian mulai terasa tatkala para pahlawan super mulai berkumpul untuk mengembalikan efek jentikan jari Thanos. Upaya pertama tampak tak punya harapan untuk berhasil, sampai pada akhirnya bantuan datang dari sumber yang tak terlalu diperhatikan.

Ihwal sumber yang tak terlalu dipehatikan ini akan memberi efek kejut karena kita sampai lupa bahwa mereka ada. Kealpaan kita bisa dimaklumi saking banyaknya pahlawan super yang muncul di Endgame dan juga keputusan Russo bersaudara untuk lebih fokus kepada cerita anggota Avengers yang terisa dari jentikan jari Thanos.

Kejutan juga muncul sesaat sebelum adegan pertarungan kolosal antara Thanos dan pasukannya dengan tim Avengers dimulai. Bukan karena efek komputer CGI yang teramat canggih, tapi kemunculan tokoh yang kita lupakan.

Pada titik tertentu, plot Endgame yang maju mundur mengingatkan kita pada film Inception. Jika para tokoh dalam Inception terpencar menjelajahi lapisan mimpi, Endgame hadir dengan lapisan ruang dan waktu yang berbeda-beda secara paralel. Di sini pulalah kita disambut plot twist sekaligus decak kagum karena jalan cerita yang terkesan rumit.

Akhir kata, Endgame berhasil membuat kami merasakan keseruan, haru, nostalgia, dan SERU GILA. Kami merekomendasikan kamu untuk menonton.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: