Digital Product Passport Segera Berlaku di Uni Eropa, RFID Jadi Kunci Daya Saing Ekspor Tekstil Indonesia
Digital Product Passport dan RFID dinilai menjadi kunci menjaga daya saing ekspor tekstil Indonesia sekaligus meningkatkan efisiensi logistik.
Industri tekstil dan fesyen Indonesia menghadapi perubahan besar menjelang penerapan Digital Product Passport (DPP) di Uni Eropa.
Kebijakan yang menjadi bagian dari European Green Deal itu mewajibkan berbagai produk, termasuk tekstil, memiliki identitas digital yang memuat informasi lengkap mengenai asal-usul bahan baku, proses produksi, dampak lingkungan, hingga pengelolaan akhir produk mulai 2030.
Perubahan regulasi tersebut dinilai akan menjadi tantangan sekaligus peluang bagi produsen Indonesia yang ingin mempertahankan akses ke pasar Uni Eropa, salah satu tujuan ekspor tekstil terbesar di dunia.
Dengan nilai impor pakaian mencapai 193,69 miliar dolar AS atau Rp3.458,5 triliun pada 2024, kemampuan melacak asal-usul setiap produk atau traceability diperkirakan akan menjadi salah satu faktor utama dalam persaingan global.
Country Manager Indonesia Zebra Technologies Eric Ananda mengatakan Digital Product Passport bukan sekadar tuntutan kepatuhan terhadap regulasi baru, melainkan juga menjadi instrumen untuk meningkatkan efisiensi operasional dan daya saing industri.