Monetisasi 5G masih sulit dilakukan

Oleh: Hieronimus Patardo - Senin, 15 Juli 2019 17:52

Monetisasi 5G saat ini masih sulit untuk dilakukan. Hal ini disampaikan langsung oleh Ririek Adriansyah, Dirut Telkom.

Ririek Adriansyah menilai monetisasi 5G saat ini masih sulit untuk diprediksi di Indonesia. Pasalnya menurut Dirut Telkom itu, teknologi 5G di saat ini baru bagus di level demo saja, sementara di dunia nyata belum tentu teknologi itu aplikatif.

“Banyak use case teoritis, tapi kalau kita lihat pada hari ini, sebenarnya use case yang riil bisa dimonetize itu belum banyak," ujar Ririek. 

Ia juga menambahkan ada beberapa negara yang sudah meluncurkan pelayanan 5G namun masih kesulitan hingga saat ini. Penggunaannya masih terbatas pada fix lined access. Pasalnya 5G menjanjikan kecepatan yang cukup besar. Kecepatannya menurut Ririek, bisa di atas 1Gbps  hanya dapat dilakukan jika menggunakan fiber optik. 

“5G memang sudah banyak didemokan. Itu memang bagus untuk didemo, tapi di dunia nyata belum tentu itu suatu yang practiceable. Misalnya mobil driverless. Di Indonesia, teknologi itu masih challenging banget untuk digunakan di jalan luas”, tambah Ririek. 

Untuk diketahui, pada ajang Asian Games 2018 tahun lalu, Telkomsel pernah memamerkan kencangnya koneksi 5G dengan menggunakan mobil driverless. Sayangnya, dalam sambutan yang diberikan Ririek di acara Selular Congress 2019, ia menyatakan bahwa teknologi itu saat ini belum bisa digunakan. Ia bahkan menyarankan untuk menggunakan mobil driverless itu di kawasan tertutup, misalnya kawasan industri.