×
Kanal
    • partner tek.id realme
    • partner tek.id samsung
    • partner tek.id acer
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd

Indonesia Catat 15.163 Deteksi Ancaman Mobile dalam Tiga Bulan, Modus Penipuan Makin Canggih

Oleh: Tek ID - Selasa, 01 September 2026 18:45

Indonesia mencatat 15.163 deteksi ancaman mobile pada kuartal I 2026. Kaspersky memperingatkan phishing dan penipuan berbasis AI makin canggih.

Indonesia Catat 15.163 Deteksi Ancaman Mobile dalam 3 Bulan Ancaman siber di perangkat mobile. dok. Kaspersky

Ancaman siber terhadap pengguna perangkat seluler di Indonesia masih tinggi. Kaspersky mencatat 15.163 deteksi ancaman mobile di Indonesia sepanjang kuartal I 2026, menjadikannya salah satu pasar dengan volume deteksi terbesar di Asia Pasifik.

Indonesia berada di bawah India yang membukukan 18.187 deteksi dalam periode yang sama. Data tersebut menunjukkan besarnya paparan ancaman terhadap pengguna perangkat seluler ketika berbagai aktivitas digital semakin bergantung pada ponsel.

Namun, perubahan yang terjadi di Asia Pasifik bukan hanya mengenai volume serangan. Kaspersky melihat penjahat siber mulai semakin intensif mengincar kelompok pengguna yang lebih kecil.

Di delapan pasar Asia Pasifik yang dianalisis, rata-rata jumlah deteksi ancaman seluler pada setiap pengguna yang terdampak meningkat 49 persen secara tahunan pada kuartal I 2026, dari 4,9 menjadi 7,3 deteksi per pengguna.

Peningkatan tersebut terjadi di seluruh pasar yang dianalisis meskipun jumlah keseluruhan pengguna yang menghadapi ancaman seluler justru menurun. 

Pola tersebut mengindikasikan serangan semakin terkonsentrasi dan pengguna yang menjadi sasaran dapat menghadapi ancaman berulang.

Selain Indonesia dengan 15.163 deteksi dan India 18.187 deteksi, sejumlah negara Asia Pasifik menunjukkan peningkatan signifikan.

China mencatat 6.797 deteksi atau hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama pada 2025. 

Bangladesh mengalami peningkatan 108 persen menjadi 1.859 deteksi, sedangkan Filipina naik 28 persen menjadi 2.011 deteksi.

Sri Lanka mencatat 922 deteksi, melonjak 132 persen secara tahunan. Rasio deteksi terhadap setiap pengguna yang terdampak juga meningkat dari 5,5 menjadi 17,4.

Di Asia Tenggara, Thailand mencatat peningkatan konsentrasi serangan yang menonjol. Jumlah deteksi naik lebih dari dua kali lipat menjadi 2.494 meskipun jumlah pengguna yang terdampak turun. 

Kondisi tersebut membuat rasio deteksi per pengguna melonjak dari 3,0 menjadi 11,9.

China dan Bangladesh menjadi dua pasar yang mengalami peningkatan baik dari jumlah deteksi maupun jumlah pengguna yang terdampak.

Penjahat siber juga terus mengembangkan metode untuk menjangkau pengguna ponsel. Modus yang ditemukan antara lain promosi palsu, halaman phishing, iklan berbahaya, survei palsu dan berbagai teknik rekayasa sosial untuk memperoleh kredensial atau informasi pribadi korban.

Tautan phishing masih menjadi salah satu sarana yang banyak digunakan. Korban diarahkan menuju situs penipuan melalui domain palsu, teknik typosquatting atau alamat yang dibuat menyerupai situs asli, hingga tiruan situs dari merek tepercaya.

Penyebarannya juga tidak lagi bergantung pada email. Tautan berbahaya dapat dikirim melalui SMS, aplikasi pesan instan, media sosial, lowongan pekerjaan palsu, promosi digital hingga penawaran hadiah aset kripto.

Akun aplikasi pesan yang telah diambil alih juga dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan tautan berbahaya. 

Cara tersebut membuat pesan berpotensi terlihat lebih meyakinkan karena seolah dikirim oleh orang yang telah dikenal korban.

Kredensial akun aplikasi pesan dan portal layanan pemerintahan menjadi salah satu sasaran karena dapat dimanfaatkan untuk pencurian identitas, penipuan hingga mengambil alih bagian lain dari kehidupan digital korban.

Kecerdasan buatan (AI) turut menambah tantangan dalam mengenali penipuan digital.

Riset konsumen global Kaspersky bertajuk The Great Messaging Heist menemukan 66 persen korban meyakini AI digunakan dalam penipuan yang menargetkan mereka.

Pesan yang ditulis menggunakan AI menjadi bentuk yang paling banyak disebut dengan persentase 42 persen. Berikutnya adalah suara sintetis atau hasil kloning sebesar 31 persen serta gambar maupun video deepfake sebesar 25 persen.

Teknologi tersebut dapat digunakan penipu untuk menyamar sebagai orang yang dipercaya korban, termasuk anggota keluarga, kemudian mendesak mereka mengirim uang atau menyerahkan informasi kredensial.

Kecepatan penipuan juga menjadi perhatian. Riset yang sama menemukan 52 persen kasus penipuan yang berhasil berlangsung kurang dari 30 menit sejak kontak pertama hingga uang atau data pribadi berpindah tangan.

Head of Consumer Channel Asia Pasifik Kaspersky Choon Hong Chee mengatakan ancaman seluler di kawasan semakin kompleks karena pelaku mengombinasikan sejumlah metode serangan.

“Di seluruh wilayah Asia Pasifik, ancaman seluler menjadi semakin canggih; penjahat siber memadukan teknik serangan yang sulit terdeteksi, malware persisten, dan taktik penipuan berbasis AI untuk mengincar konsumen,” ujar Chee.

“Seiring penipuan yang kian meyakinkan dan sulit dikenali, perlindungan diri memerlukan sistem keamanan yang mampu mendeteksi ancaman secara proaktif, bahkan sebelum pengguna menyadari bahwa mereka sedang diserang,” tambahnya.

Untuk mengurangi risiko, pengguna disarankan memeriksa keaslian aplikasi sebelum mengunduh dan tidak mudah tergiur promosi berupa hadiah gratis maupun cashback.

Izin akses yang diminta aplikasi juga perlu diperiksa dengan cermat. Pengguna sebaiknya mengaktifkan autentikasi multifaktor jika tersedia serta memeriksa kembali setiap tautan yang diterima melalui aplikasi pesan, email, maupun media sosial.

Sistem operasi dan aplikasi juga perlu diperbarui secara berkala untuk mendapatkan pembaruan keamanan. 

Selain itu, pengguna dapat mempertimbangkan penggunaan solusi keamanan seluler untuk membantu mendeteksi ancaman.

Kewaspadaan menjadi semakin penting ketika serangan tidak lagi hanya mengandalkan malware konvensional.

Kombinasi phishing, rekayasa sosial, pengambilalihan akun hingga konten berbasis AI membuat sebuah pesan atau panggilan yang tampak meyakinkan belum tentu benar-benar berasal dari pihak yang dikenal pengguna.

×
back to top