Telkom Gandeng CrowdStrike, Siapkan Pertahanan Siber untuk Lindungi Sistem AI
Telkom menggandeng CrowdStrike untuk memperkuat pertahanan siber berbasis AI sekaligus melindungi agen, model, dan sistem AI perusahaan.
MoU Telkom Indonesia dan CrowdStrike. dok. Telkom
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk menjalin kerja sama dengan CrowdStrike untuk memperkuat keamanan siber berbasis kecerdasan buatan (AI), termasuk menyiapkan perlindungan terhadap agen, model, dan sistem AI yang semakin banyak digunakan perusahaan.
Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Telkom dan CrowdStrike.
Kedua perusahaan akan mengeksplorasi pengembangan layanan keamanan terkelola dengan menggabungkan platform CrowdStrike Falcon dan kapabilitas Telkom di pasar Indonesia.
Salah satu rencana dalam kerja sama tersebut adalah standardisasi pertahanan siber Telkom menggunakan platform Falcon.
- AI Mulai Digunakan Bantu Bidan Pantau Risiko Kehamilan, Diuji di 4 Kabupaten
- OutSystems Luncurkan Agentic Loan Applications, AI Bantu Proses Pengajuan Kredit
- Nutanix Bawa Agentic AI ke Data Perusahaan Tanpa Perlu Rombak Infrastruktur
- Cloudera Pasang Teknologi NVIDIA di Apache Spark, Pemrosesan Diklaim 4 Kali Lebih Cepat
Kolaborasi juga diarahkan untuk menyediakan solusi keamanan berbasis CrowdStrike bagi pelanggan Telkom dari sektor publik maupun swasta.
Langkah tersebut berlangsung ketika penggunaan AI semakin meluas dalam operasional perusahaan. Kondisi itu memunculkan tantangan baru bagi sistem keamanan karena perusahaan tidak hanya perlu memanfaatkan AI untuk mendeteksi serangan, tetapi juga harus melindungi teknologi AI yang mereka gunakan.
CrowdStrike dan Telkom karena itu tengah mengeksplorasi pengembangan layanan keamanan terkelola untuk mengamankan adopsi AI di lingkungan perusahaan.
Vice President and Managing Director Japan and Asia Pacific CrowdStrike Jonathon Dixon mengatakan perkembangan AI telah mengubah cara organisasi menjalankan bisnis sekaligus program keamanan siber.
“AI mengubah cara organisasi beroperasi dan menjalankan program keamanan siber,” kata Dixon.
“Telkom memiliki komitmen yang sama dengan kami untuk mengamankan masa depan AI di Indonesia dengan menghadirkan perlindungan berbasis AI serta keamanan untuk AI bagi organisasi yang mendorong transformasi digital di kawasan ini,” lanjutnya.
Kolaborasi Telkom dan CrowdStrike juga mencakup eksplorasi pemanfaatan Falcon AI Detection and Response (AIDR).
Teknologi tersebut dirancang memberikan visibilitas dan perlindungan terhadap penggunaan AI, mulai dari endpoint tempat teknologi dijalankan hingga lingkungan perusahaan yang lebih luas.
Kedua perusahaan berencana membentuk tim gabungan untuk mengembangkan solusi keamanan secara kolaboratif.
Fokusnya mencakup perlindungan terhadap agen AI, model, dan sistem AI yang digunakan perusahaan.
Pendekatan tersebut diarahkan agar perusahaan dapat memperluas penggunaan AI dengan tetap mempertahankan kontrol terhadap keamanan teknologi dan lingkungan tempat AI beroperasi.
Kolaborasi juga akan mencakup pengembangan kapabilitas keamanan, eksplorasi peluang inovasi, penyediaan solusi yang didukung CrowdStrike, serta penyusunan inisiatif go-to-market bersama.
Director of Strategic Business Development & Portfolio Telkom Indonesia Seno Soemadji mengatakan kerja sama dengan CrowdStrike diarahkan untuk meningkatkan kemampuan organisasi menghadapi serangan siber yang semakin cepat dan canggih.
“Melalui kolaborasi dengan CrowdStrike, kami bertujuan untuk membantu organisasi meningkatkan keamanan siber mereka melalui kapabilitas keamanan yang telah terbukti mampu menghadapi kecepatan dan kecanggihan serangan saat ini,” kata Seno.
Menurut dia, kerja sama tersebut juga diharapkan meningkatkan keahlian tim keamanan dan analis Telkom sehingga kemampuan mendeteksi serta merespons serangan terhadap pelanggan dapat diperkuat.
Selain ancaman siber yang berkembang saat ini, Telkom dan CrowdStrike akan mengeksplorasi aspek ketahanan siber jangka panjang.
“Kolaborasi ini akan mengeksplorasi ketahanan siber jangka panjang, termasuk memperkuat ketahanan organisasi di kawasan dalam menghadapi berbagai ancaman yang didorong oleh teknologi-teknologi baru seperti AI dan komputasi kuantum,” ujar Seno.









